Search

Misteri Jalan Otista Bandung: Cuma Boleh Lewat Setiap 30 Tahun Sekali

Senin, 22 Desember 2025

Jl Otista Bandung (Detikcom)

Siapa sangka di balik kemacetan dan hiruk pikuk Kota Bandung, terselip sebuah jalan misterius yang punya aturan main layaknya kemunculan komet? Jalan ini bukan sembarang jalan, karena aksesnya hanya dibuka secara resmi setiap 30 tahun sekali.

Terletak di area Otto Iskandar Dinata (Otista), jalur super pendek sepanjang 25 meter ini terbelah oleh lintasan rel kereta api dan biasanya tertutup rapat oleh pagar besi yang menjulang tinggi di kedua sisinya.

Keberadaan jalan gaib ini sejatinya menjadi penghubung antara Jalan Stasiun Timur di selatan dan Jalan Kebun Jukut di utara.

Bagi wisatawan atau warga yang melintas sehari-hari, lokasi ini mungkin terlihat biasa saja, tertutup lapak kios ban dan pedagang kaki lima.

Namun, bagi yang paham sejarah, ini adalah jalur VIP yang hanya menjadi saksi bisu kemegahan momen internasional di Kota Kembang.

Jejak Residentweg dan Sejarah yang Terpotong Rel

Dahulu kala, jalan ini punya nama mentereng yaitu Residentweg atau Jalan Residen. Dibangun sekitar tahun 1864, jalur ini sengaja diciptakan untuk menyambungkan Kantor Residen (yang sekarang kita kenal sebagai Gedung Pakuan) dengan kawasan Pasar Baru hingga Pendopo di Alun-alun.

Pada masa kolonial, jalur ini sangat vital karena menjadi akses utama bagi para pejabat pemerintahan untuk berkoordinasi tanpa harus berputar jauh seperti rute masa kini.

Sayangnya, seiring berkembangnya teknologi transportasi dan kepadatan arus lalu lintas, jalur legendaris ini terpaksa ditutup secara permanen dengan pagar sekitar tahun 1970-an.

Alasan utamanya adalah untuk mengendalikan keruwetan antara kendaraan bermotor dengan jadwal kereta api yang semakin padat di perlintasan sebidang tersebut.

Sejak saat itu, siapa pun yang ingin menuju Gedung Pakuan dari arah Pasar Baru harus rela memutar lewat jembatan Viaduct.

Momen Langka Pembukaan Jalur Khusus Delegasi

Jalan istimewa ini tercatat baru “bernapas” kembali sebanyak dua kali dalam beberapa dekade terakhir.

Pertama, saat peringatan 30 tahun Konferensi Asia Afrika (KAA) pada tahun 1985, dan kedua saat peringatan 60 tahun KAA pada tahun 2015 silam.

Gerbang besar tersebut dibuka lebar hanya untuk menyambut rombongan delegasi dari berbagai negara agar mereka bisa langsung menuju rumah dinas Gubernur (Gedung Pakuan) tanpa perlu terjebak macet di Viaduct.

Pengamat sejarah Bandung, Hevi Fauzan, menceritakan pengalamannya melihat iring-iringan mobil mewah para petinggi dunia melintasi aspal sepanjang 20-25 meter tersebut.

Momen itu terasa sangat magis karena jalan yang biasanya tertutup rapat dan kumuh mendadak menjadi sangat bersih dan eksklusif.

Hal ini membuktikan bahwa meskipun secuil, jalan Otista yang terpotong rel ini memiliki nilai historis dan politis yang sangat tinggi bagi identitas Kota Bandung.

Rahasia di Ujung Jalan dan Seniman Legendaris

Tidak hanya soal urusan pejabat, area di sekitar jalan ini ternyata menyimpan cerita seni yang mendalam. Di ujung Jalan Kebun Jukut yang berdekatan dengan Suniaraja, dulunya berdiri rumah milik pelukis legendaris asal Belgia, AAJ Payen.

Beliau adalah sosok penting dalam dunia seni rupa Indonesia karena merupakan guru langsung dari pelukis maestro kebanggaan tanah air, Raden Saleh, yang datang ke Nusantara pada tahun 1817.

Kini, akses jalan tersebut tetap terkunci rapat menunggu momen 30 tahunan berikutnya yang diprediksi akan kembali dibuka pada tahun 2045.

Fenomena ini menjadikan secuil aspal di Otista tersebut sebagai salah satu jalan paling unik di dunia.

Meski sekarang terlihat tak kasat mata di peta modern karena terpotong rel, memori kolektif tentang Residentweg akan tetap abadi sebagai bagian dari perjalanan panjang ibu kota Keresidenan Priangan.

Statement:

Hevi Fauzan, Pengamat Sejarah Bandung

Tahun 1985 itu dibuka karena itu 30 tahunan, saya lihat lagi 2015 itu dibuka lagi karena event peringatannya 60 tahun KAA. Itu dibuka untuk memudahkan delegasi ke sana dari Gedung KAA ke Gedung Pakuan, jadi enggak memutar ke Viaduct. Secara bentuk enggak berubah sejak pembangunan Gedung Pakuan.”

3 Poin Penting:

  1. Jalan Otista sepanjang 25 meter di dekat Stasiun Timur Bandung merupakan jalur bersejarah yang hanya dibuka setiap 30 tahun sekali khusus untuk peringatan Konferensi Asia Afrika.

  2. Dahulu bernama Residentweg, jalan ini berfungsi menghubungkan Gedung Pakuan dengan Alun-alun Bandung sebelum akhirnya ditutup permanen pada tahun 1970-an demi keamanan lalu lintas kereta api.

  3. Kawasan ini menyimpan nilai sejarah tinggi, mulai dari pusat pemerintahan kolonial hingga kediaman guru pelukis maestro Raden Saleh, AAJ Payen.

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

24 Jam

Sepekan