Atacama Jadi Wonderland! Gurun Paling Kering di Dunia Mendadak Sering Diselimuti Salju

Jumat, 26 Desember 2025

Gurun Atacama, Cile (ist)

Pernah terbayang tidak, tempat yang selama ratusan tahun tidak pernah tersentuh air hujan tiba-tiba berubah jadi hamparan putih mirip di film Frozen? Fenomena langka bin ajaib ini baru saja terjadi di Gurun Atacama, Chile.

Gurun yang menyandang gelar sebagai wilayah non-kutub tertua sekaligus paling kering di Bumi ini mendadak viral setelah citra satelit menunjukkan lanskap berbatu yang biasanya gersang, kini tertutup lapisan salju tebal.

Secara geografis, Atacama adalah “benteng” kekeringan yang membentang seluas 105.000 kilometer persegi di antara Samudra Pasifik dan Pegunungan Andes.

Saking keringnya, ada beberapa titik di gurun ini yang tercatat tidak pernah diguyur hujan selama hampir 400 tahun, terhitung sejak zaman kolonial hingga era modern.

Kondisi semi-kering ini kabarnya sudah bertahan selama 150 juta tahun, menjadikannya salah satu tempat paling ekstrem untuk dihuni makhluk hidup.

Serangan Siklon Dingin Paksa Teleskop Raksasa Masuk Mode Hibernasi

Turunnya salju di gurun ini bermula dari pergerakan siklon inti dingin yang bergerak tak terduga dari arah utara.

Menurut laporan NASA Earth Observatory, fenomena aneh ini sukses menyelimuti lebih dari setengah wilayah Atacama dengan “karpet” putih.

Salah satu area yang terdampak paling parah adalah Dataran Tinggi Chajnantor yang berada di ketinggian 5.000 meter di atas permukaan laut, tempat di mana teknologi canggih manusia mengintip rahasia alam semesta.

Di ketinggian tersebut, terdapat Observatorium Atacama Large Millimeter/submillimeter Array (ALMA) yang punya lebih dari 50 antena radio.

Biasanya, udara kering Atacama adalah sahabat terbaik bagi para astronom untuk mengamati luar angkasa. Namun, karena salju yang turun kali ini terlalu bar-bar, observatorium ALMA terpaksa masuk ke “mode bertahan hidup” alias berhenti beroperasi sementara.

Para ilmuwan harus rela menghentikan pengamatan ruang angkasa demi melindungi perangkat sensitif dari suhu ekstrem dan kelembapan.

Misteri Salju yang Menyublim dan Hilang Tanpa Bekas Cairan

Menariknya, salju di Atacama punya cara unik untuk menghilang. Karena intensitas sinar matahari di gurun ini sangat tinggi, salju tersebut tidak sempat mencair menjadi air yang membasahi tanah secara merata.

Sebaliknya, salju mengalami proses sublimasi, yaitu berubah langsung dari padat menjadi gas. Pada pertengahan Juli, hamparan putih tersebut sudah hampir lenyap tak berbekas, kembali meninggalkan lanskap gurun yang tandus seperti sedia kala.

Meski terlihat indah secara visual, fenomena ini sebenarnya merupakan pengingat bahwa cuaca di Atacama mulai tidak stabil.

Walaupun kejadian serupa pernah tercatat pada tahun 2011, 2013, dan 2021, frekuensi cuaca ekstrem di wilayah ini dilaporkan semakin meningkat.

Selain salju, hujan deras yang memicu banjir bandang mematikan juga sempat menghantam wilayah ini beberapa kali, yang merupakan anomali besar bagi sebuah padang pasir yang seharusnya kering kerontang.

Perubahan Iklim Mengancam Status Gurun Tertua di Bumi

Selama ini, kekeringan abadi di Atacama disebabkan oleh “hambatan” ganda, yaitu bayangan hujan Pegunungan Andes dan arus laut dingin di Pasifik yang mencegah pembentukan awan.

Namun, meningkatnya hujan dan salju ekstrem belakangan ini memicu dugaan kuat di kalangan peneliti bahwa aktivitas manusia dan perubahan iklim global mulai mengacak-acak sistem alam di Chile utara.

Jika tren ini terus berlanjut, Atacama mungkin akan kehilangan status ikoniknya sebagai tempat paling kering di dunia.

Dampak dari anomali cuaca ini juga terlihat pada siklus tanaman. Pada tahun 2024, sempat dilaporkan adanya fenomena bunga gurun yang mekar di luar musimnya karena curah hujan yang tidak terduga.

Meskipun terlihat cantik, perubahan ekosistem yang drastis ini bisa menjadi sinyal bahaya bagi stabilitas lingkungan di wilayah tersebut.

Kita sedang menyaksikan sejarah baru di mana salah satu tempat paling stabil di Bumi pun kini mulai terpengaruh oleh krisis iklim global.

Statement:

Peneliti NASA Earth Observatory

“Kondisi lingkungan Atacama yang kering dan terpencil menjadikannya lokasi ideal bagi penelitian astronomi. Namun, salju yang menutupi area observatorium kali ini memaksa ALMA masuk ke mode bertahan hidup dengan menghentikan sementara seluruh aktivitas pengamatan. Meningkatnya kejadian ekstrem seperti ini memunculkan dugaan bahwa perubahan iklim mulai memengaruhi kawasan yang selama jutaan tahun dikenal sangat stabil ini.”

3 Poin Penting:

  1. Anomali Cuaca Ekstrem: Gurun Atacama yang merupakan tempat paling kering di dunia mengalami fenomena salju langka akibat pergerakan siklon inti dingin.

  2. Operasi Astronomi Terhambat: Badai salju memaksa observatorium ALMA, salah satu pusat penelitian astronomi tercanggih di dunia, untuk berhenti beroperasi sementara.

  3. Indikasi Perubahan Iklim: Meningkatnya frekuensi hujan dan salju di Atacama menunjukkan bahwa krisis iklim global mulai mengubah karakteristik ekosistem gurun yang telah stabil selama jutaan tahun.

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

24 Jam Terakhir

Sepekan Terakhir