Search
Search
Search

Misteri Rambutan Hilang dari Pasaran: Benarkah Musimnya Sudah Bergeser?

Kamis, 8 Januari 2026

Rambutan (ist)

Lagi asyik “scrolling” media sosial, belakangan ini banyak warganet yang mulai bertanya-tanya soal keberadaan si merah berambut alias buah rambutan.

Biasanya, akhir tahun hingga awal Januari selalu jadi momen di mana pedagang rambutan menjamur di pinggir jalan.

Namun, fenomena akhir 2025 lalu justru menunjukkan pemandangan yang beda; rambutan mendadak jadi barang langka yang susah dicari di pasar maupun toko buah.

Menanggapi kegalauan publik, pakar buah tropika dari IPB University, Prof Sobir, angkat bicara soal fenomena ini.

Ternyata, hilangnya rambutan dari peredaran bukan tanpa alasan teknis. Ada perpaduan antara faktor alam yang tak menentu dengan sifat biologis pohon itu sendiri yang membuat stok buah favorit masyarakat ini menipis drastis di penghujung tahun kemarin.

Dilema Iklim dan Sifat Unik Pohon Rambutan

Faktor pertama yang menjadi penyebab utama adalah kondisi iklim sepanjang tahun 2025 yang cenderung mengalami kemarau basah.

Kondisi ini membuat induksi pembungaan pada pohon rambutan menjadi tidak optimal karena pohon membutuhkan periode kering yang stabil untuk memicu munculnya bunga.

Tanpa adanya panas yang cukup selama 2 hingga 4 minggu, pohon justru akan fokus pada pertumbuhan daun alih-alih menghasilkan buah.

Selain masalah cuaca, Prof Sobir menjelaskan adanya sifat “biannual bearing” pada tanaman rambutan.

Artinya, pohon ini punya kebiasaan berbuah sangat lebat pada satu tahun, namun akan “istirahat” atau produksinya berkurang drastis pada tahun berikutnya.

Hal ini terjadi karena cadangan hasil fotosintesis tanaman terkuras habis saat masa panen raya sebelumnya, sehingga pohon butuh waktu untuk memulihkan energinya kembali.

Pergeseran Nilai Ekonomi dan Harapan di Tahun 2026

Tak hanya soal biologis, faktor ekonomi juga turut andil dalam langkanya rambutan di pasaran.

Nilai ekonomi rambutan yang dianggap relatif rendah membuat para petani atau pemilik pohon sering kali enggan melakukan panen jika jumlah buah di pohon hanya sedikit.

Biaya operasional untuk memanen dan mendistribusikan buah dinilai tidak sebanding dengan hasil penjualan, sehingga banyak buah yang dibiarkan begitu saja di pohon.

Namun, bagi kamu pencinta rambutan, jangan berkecil hati dulu menghadapi tahun 2026 ini.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi bahwa 94,7% wilayah Indonesia akan mengalami curah hujan tahunan dengan kategori normal.

Dengan pola cuaca yang lebih teratur, diharapkan periode kering yang dibutuhkan pohon untuk berbunga bisa terpenuhi, sehingga produksi rambutan di tahun ini diprediksi akan kembali normal dan melimpah.

Statement:

Prof Sobir, Pakar Buah Tropika IPB University

“Pohon buah-buahan tropika seperti rambutan akan berbunga bila tanaman memiliki cadangan hasil fotosintesis yang cukup dan mendapat periode kering selama 2-4 minggu. Biasanya tanaman berbunga di awal musim hujan, sekitar Oktober-November, dan dipanen pada Desember saat musim hujan.”

3 Poin Penting:

  • Gagal Berbunga: Kondisi kemarau basah di tahun 2025 menghambat proses pembungaan alami pohon rambutan yang butuh cuaca kering.

  • Siklus Istirahat: Rambutan memiliki sifat biannual bearing, di mana produksi buah akan menurun setelah mengalami panen raya di tahun sebelumnya.

  • Prediksi Normal: Berdasarkan data BMKG mengenai curah hujan normal di tahun 2026, stok rambutan diharapkan kembali membanjiri pasar pada musim mendatang.

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

Rame 24 Jam

Rame Sepekan