Nasib Tragis Candi Bojongmenje: Harta Karun Bandung yang Terjebak Nostalgia dan Sengketa

Selasa, 20 Januari 2026

Candi Bojongmenje Bandung diperkirakan lebih tua dari Prambanan dan Borobudur [Ist]
Candi Bojongmenje Bandung diperkirakan lebih tua dari Prambanan dan Borobudur [Ist]

Candi Bojongmenje di Rancaekek, Bandung, kini tengah menjadi sorotan hangat lantaran kondisinya yang jalan di tempat selama bertahun-tahun.

Bukannya menjadi destinasi hits yang edukatif, situs purbakala peninggalan abad ke-7 ini justru seolah tenggelam dalam riuh rendah industrialisasi di sekitarnya.

Padahal, jika dikelola dengan sentuhan yang lebih segar, candi ini bisa menjadi ikon kebanggaan baru bagi anak muda Jawa Barat yang haus akan sejarah lokal.

Kurangnya atensi terhadap struktur bangunan yang kian rapuh membuat Candi Bojongmenje kehilangan pesonanya secara perlahan.

Tanpa perawatan struktural yang konsisten, tumpukan batu andesit tersebut hanya akan menjadi saksi bisu yang terabaikan oleh zaman.

Minimnya progres pemugaran menciptakan kesan bahwa situs ini memang sengaja dibiarkan “mati suri” di tengah pesatnya pembangunan daerah.

Konflik Lahan dan Lemahnya Pengawasan Daerah

Masalah kepemilikan lahan menjadi tembok besar yang menghambat proses pemeliharaan Candi Bojongmenje hingga saat ini.

Tanah tempat situs tersebut berdiri ternyata masih bersinggungan dengan kepentingan pihak swasta atau warga, sehingga pemerintah kesulitan melakukan restorasi total.

Kondisi ini diperparah dengan lemahnya sistem pengawasan sejak diberlakukannya otonomi daerah, di mana banyak situs cagar budaya seolah kehilangan “induk” yang bertanggung jawab penuh.

Fenomena ini tidak hanya terjadi di Bandung; banyak situs di Indonesia yang mengalami degradasi akibat birokrasi yang berbelit.

Ketidakjelasan status lahan membuat anggaran perawatan tidak bisa dikucurkan secara maksimal, yang akhirnya berujung pada kerusakan permanen.

Tanpa adanya sinkronisasi antara pemerintah pusat dan daerah, warisan leluhur ini hanya akan terus berada dalam status darurat konservasi.

Potensi Pariwisata yang Menguap dan Ancaman Kehilangan Artefak

Efek domino dari terbengkalainya situs ini adalah hilangnya potensi pariwisata yang seharusnya bisa meningkatkan ekonomi kreatif warga lokal.

Berkaca pada Candi Abang yang memiliki lanskap unik namun minim fasilitas, Candi Bojongmenje pun terancam mengalami hal serupa jika tidak segera direvitalisasi.

Alih-alih menjadi magnet wisatawan, situs yang tidak terurus justru rentan terhadap aksi vandalisme hingga pencurian fragmen bangunan penting.

Kehilangan artefak atau fragmen sejarah merupakan kerugian besar bagi identitas sebuah bangsa, seperti yang pernah dialami Candi Duduhan.

Jika pengawasan tetap longgar, bukan tidak mungkin bagian-bagian berharga dari Bojongmenje akan raib begitu saja.

Selain itu, risiko bencana seperti kebakaran atau kerusakan struktural akibat cuaca ekstrem kian nyata di depan mata jika restorasi terus-menerus ditunda.

Belajar dari Fenomena Global dan Langkah Restorasi

Menariknya, di luar negeri terdapat fenomena “kota hantu” seperti Tianducheng di Tiongkok yang justru menarik turis karena keunikannya, meski awalnya merupakan proyek gagal.

Namun, untuk situs cagar budaya seperti Bojongmenje, pendekatan yang diambil harus jauh lebih serius dan bersifat konservatif-edukatif.

Kita tidak ingin situs ini hanya dikenal karena aura mistis atau suasananya yang terbengkalai, melainkan karena nilai sejarahnya yang autentik.

Restorasi bukan sekadar menyusun kembali batu yang berserakan, melainkan menghidupkan kembali narasi sejarah bagi generasi mendatang.

Diperlukan kolaborasi lintas sektor untuk menyelamatkan Candi Bojongmenje dari kepunahan administratif dan fisik.

Jika langkah nyata tidak segera diambil, maka Bandung akan kehilangan salah satu bukti tertua peradaban di tanah Priangan yang seharusnya bisa menjadi warisan abadi.

Statement:

“Permasalahan utama Candi Bojongmenje adalah kompleksitas status lahan yang tidak kunjung usai. Tanpa kepastian hukum atas tanah tersebut, upaya konservasi struktural dari pihak arkeologi akan terus menemui jalan buntu, dan kita berisiko kehilangan data sejarah yang sangat krusial,” ujar seorang pemerhati budaya Jawa Barat.

3 Poin Penting:

  1. Candi Bojongmenje mengalami stagnasi perkembangan akibat masalah kepemilikan lahan dan minimnya perawatan struktural.

  2. Lemahnya pengawasan pasca-otonomi daerah memicu risiko kerusakan permanen dan hilangnya artefak sejarah berharga.

  3. Diperlukan sinkronisasi kebijakan antara pemerintah dan pemilik lahan untuk mengoptimalkan potensi wisata sejarah yang terbengkalai.

[gas/man]

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

24 Jam Terakhir

Sepekan Terakhir