Search

Fenomena Jam Kerja “Gila” di Indonesia: Satu dari Empat Pekerja Ternyata Overwork!

Rabu, 21 Januari 2026

ilustrasi overwork [ai]
ilustrasi overwork [ai]

Siapa sangka, di tengah hiruk pikuk pembahasan tentang angka pengangguran yang masih jadi PR, ada fenomena lain yang tak kalah bikin melongo: overwork alias jam kerja berlebih.

Berdasarkan data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Agustus 2025 yang baru dirilis Badan Pusat Statistik (BPS), sebanyak 25,47% penduduk bekerja di Indonesia ternyata punya jam kerja lebih dari 49 jam per minggu.

Angka ini mencengangkan, karena artinya sekitar satu dari empat pekerja di Tanah Air masuk kategori bekerja terlalu keras.

Ini tentu jadi potret yang unik dan sekaligus memprihatinkan. Di satu sisi, kita masih berjibaku dengan tingkat pengangguran sebesar 4,85% yang butuh lapangan kerja.

Namun, di sisi lain, sebagian pekerja justru menanggung beban jam kerja super panjang.

Fenomena ini bukan sekadar angka, lho. Ini mencerminkan tantangan struktural yang kompleks dalam penyerapan tenaga kerja di Indonesia, di mana distribusi pekerjaan dan beban kerja belum merata.

Mayoritas Pekerja Lembur Sampai Hampir 10 Jam Sehari

BPS mencatat, jumlah total pekerja di Indonesia per Agustus 2025 mencapai angka fantastis, yakni 146,54 juta orang.

Nah, dari sekian banyak pekerja itu, mayoritas (40,43%) punya jam kerja standar, yaitu 35-48 jam per minggu. Ini setara dengan sekitar 7 hingga hampir 10 jam per hari kalau kita pakai skema lima hari kerja.

Angka ini menunjukkan bahwa sebagian besar pekerja masih patuh pada batas jam kerja yang wajar.

Namun, yang menarik, ada juga kelompok pekerja dengan jam kerja relatif lebih pendek, yakni 1-34 jam per minggu, yang persentasenya mencapai 32,68%.

Mereka ini bisa jadi pekerja paruh waktu, pekerja lepas, atau mereka yang memang memiliki fleksibilitas jam kerja.

Distribusi ini memperlihatkan bahwa lanskap ketenagakerjaan di Indonesia sangat beragam, dari yang super busy sampai yang lebih santai.

Pekerja Laki-laki Lebih Rentan Terjebak Jam Kerja Panjang

Ketika dibedah berdasarkan gender, data Sakernas menunjukkan perbedaan yang cukup signifikan. Pekerja laki-laki rupanya lebih sering jadi korban jam kerja berlebih dibandingkan perempuan.

Angkanya lumayan jauh: 28,50% pekerja laki-laki bekerja lebih dari 49 jam per minggu, sementara pada pekerja perempuan angkanya hanya 20,91%.

Ini bisa jadi indikator bahwa peran dan jenis pekerjaan yang diemban laki-laki masih menuntut komitmen waktu yang lebih besar.

Sebaliknya, pekerja perempuan lebih dominan pada kelompok jam kerja yang relatif lebih pendek, yaitu 1-34 jam per minggu, dengan proporsi 41,89%.

Angka ini jauh di atas laki-laki yang berada di angka 26,57% untuk kategori jam kerja yang sama.

Perbedaan mencolok ini merefleksikan pembagian peran dan karakteristik sektor kerja yang masih belum seimbang, di mana laki-laki cenderung terserap di sektor yang menuntut jam kerja panjang, sementara perempuan lebih banyak di pekerjaan fleksibel atau paruh waktu.

Ancaman Kesehatan dan Kualitas Hidup di Balik Angka Statistik

Jam kerja yang terlalu panjang, meskipun kadang identik dengan etos kerja tinggi atau bahkan pengejaran karier, berpotensi membawa dampak negatif jangka panjang.

Bukan cuma soal lelah fisik, overwork bisa berujung pada masalah kesehatan serius, penurunan produktivitas, bahkan kualitas hidup yang menurun.

Bayangkan, kapan waktu buat keluarga, hobi, atau sekadar istirahat kalau jam kerja selalu mepet?

Fenomena overwork ini memang tidak selalu berarti kesejahteraan yang rendah. Namun, ia menjadi indikator penting untuk menilai kualitas pembangunan ketenagakerjaan sebuah negara.

Data Sakernas Agustus 2025 ini memberikan sinyal keras bahwa tantangan ketenagakerjaan Indonesia ke depan bukan cuma soal menciptakan lapangan kerja baru, tetapi juga merancang sistem kerja yang lebih seimbang, produktif, dan pastinya berkelanjutan bagi semua pekerja, demi kualitas hidup yang lebih baik.

3 Poin Penting:

  • Sebanyak 25,47% penduduk bekerja di Indonesia memiliki jam kerja lebih dari 49 jam per minggu pada Agustus 2025, menunjukkan fenomena overwork.

  • Pekerja laki-laki lebih rentan terhadap jam kerja panjang (28,50%) dibandingkan perempuan (20,91%).

  • Jam kerja yang berlebih berpotensi berdampak negatif pada kesehatan, produktivitas, dan kualitas hidup pekerja, serta menyoroti tantangan struktural ketenagakerjaan.

[gas/man]

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

24 Jam

Sepekan