Jagad media sosial baru-baru ini dihebohkan oleh aksi berani seorang siswa kelas 2 SMP Negeri 1 Krayan Timur, Nunukan, Kalimantan Utara.
Siswa bernama Gilbert Christian ini mendadak viral setelah videonya yang tengah berorasi di tengah jalanan berlumpur di wilayah Pa Kebuan tersebar luas.
Dengan suara lantang dan penuh keyakinan, Gilbert menyuarakan kegelisahan rekan-rekan pelajarnya mengenai kondisi jalan yang rusak parah dan menghambat akses mereka menuju sekolah.
Aksi yang dilakukan pada Senin, 2 Februari 2026 ini bukan sekadar cari perhatian, melainkan sebuah jeritan hati dari wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia.
Gilbert menekankan bahwa infrastruktur yang layak jauh lebih mendesak bagi mereka saat ini dibandingkan dengan implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Baginya, perut yang kenyang tidak akan berarti banyak jika mereka harus bertaruh nyawa dan tenaga ekstra hanya untuk sampai ke ruang kelas setiap pagi.
Prioritas Pembangunan: Jalan Layak vs Makan Gratis
Kondisi jalur Pa Kebuan menuju Desa Long Umung, tempat sekolah Gilbert berada, memang dilaporkan sangat memprihatinkan. Jalanan berupa tanah liat yang becek dengan lubang-lubang dalam menjadi santapan sehari-hari para siswa dan warga.
Gilbert dalam orasinya dengan tegas meminta pemerintah pusat untuk meninjau kembali skala prioritas pembangunan, terutama di daerah pelosok yang aksesibilitasnya masih sangat tertinggal jauh dibandingkan kota-kota besar.
“Buatkan jalan kami yang layak. Kami lebih membutuhkan perbaikan jalan daripada Makan Bergizi Gratis,” ujar Gilbert dalam potongan video yang mengundang simpati ribuan netizen tersebut.
Dukungan pun mengalir deras dari warga sekitar yang turut mendampingi aksi tersebut, mengingat jalan tersebut adalah urat nadi perekonomian dan pendidikan bagi masyarakat Krayan Timur yang selama ini merasa terisolasi.
Jeritan Warga Perbatasan: Surat Terbuka untuk Presiden
Tak hanya Gilbert, warga Krayan Timur juga memanfaatkan momentum ini untuk menyampaikan surat terbuka kepada Presiden Prabowo Subianto. Poin utama yang mereka tekankan adalah keadilan dalam pembangunan infrastruktur yang bersumber dari APBN.
Warga berharap pemerintah pusat tidak hanya fokus pada program-program nasional yang sifatnya umum, tetapi juga hadir secara nyata untuk melihat penderitaan masyarakat di garda terdepan republik.
Masyarakat setempat menyatakan bahwa mereka sebenarnya tidak menolak program Makan Bergizi Gratis, namun mereka meminta adanya kearifan lokal dalam menentukan skala prioritas. Dengan hasil bumi yang melimpah, urusan pangan dianggap masih bisa diatasi secara mandiri oleh warga.
Namun, urusan konektivitas jalan adalah sesuatu yang hanya bisa diselesaikan lewat campur tangan dan anggaran dari pemerintah pusat demi terwujudnya pemerataan pembangunan.
Inisiatif Hati Nurani: Perjuangan Tanpa Sepatu Menuju Sekolah
Kepala Desa Pa’ Betung, Aprem Rining, memberikan klarifikasi bahwa aksi yang melibatkan siswa SMP tersebut murni merupakan inisiatif hati nurani para pelajar. Setiap hari, para siswa harus menempuh perjalanan hingga satu jam hanya untuk mencapai sekolah.
Tak jarang, sepeda motor mereka amblas di lumpur, bahkan para siswa terpaksa berjalan kaki tanpa sepatu karena kedalaman lumpur yang bisa merusak alas kaki mereka.
Aksi orasi Gilbert Christian ini menjadi pengingat keras bagi para pemangku kebijakan bahwa kebutuhan setiap daerah di Indonesia sangatlah beragam.
Sementara di Jawa orang meributkan menu makan siang, di Krayan para siswa hanya memimpikan aspal yang halus agar sepatu mereka tetap bersih saat menuntut ilmu.
Suara dari Krayan Timur ini adalah simbol perlawanan terhadap ketimpangan, menagih janji negara untuk hadir hingga ke batas terluar wilayah kedaulatan.
Statement:
Aprem Rining, Kepala Desa Pa’ Betung
“Warga sebenarnya tidak menolak program pemerintah pusat, namun mereka meminta skala prioritas. Alangkah baiknya anggaran makan gratis itu kalau bisa dialihkan atau diutamakan untuk membangun jalan dulu. Kami ingin pembangunan yang merata seperti di Jawa.”
3 Poin Penting:
-
Siswa SMP di Krayan Timur, Gilbert Christian, melakukan orasi di jalan rusak menuntut perbaikan infrastruktur jalan yang lebih mendesak daripada program Makan Bergizi Gratis.
-
Warga Krayan Timur meminta pemerintah pusat memberikan keadilan pembangunan infrastruktur jalan melalui APBN agar setara dengan pembangunan di Pulau Jawa.
-
Kondisi jalan di wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia dilaporkan berupa tanah liat becek yang memaksa siswa berjalan kaki tanpa sepatu menuju sekolah.



