Search

Rahasia Comeback Merpati Langka Jepang: Populasi Melejit Usai Kucing Liar Pindah Rumah

Selasa, 17 Februari 2026

Merpati Jepang (shutterstock)

Dunia konservasi baru saja dikejutkan oleh kabar gembira dari Negeri Sakura. Populasi merpati kepala merah yang dulunya hampir punah di Kepulauan Ogasawara, Jepang, dilaporkan melonjak tajam hanya dalam waktu tiga tahun.

Fenomena ini terjadi setelah ratusan kucing liar dipindahkan dari habitat asli burung langka tersebut.

Kepulauan Ogasawara yang merupakan situs Warisan Dunia UNESCO ini memang memiliki ekosistem yang sangat rapuh, sehingga kehadiran predator sekecil apa pun bisa berakibat fatal bagi spesies lokal.

Merpati kepala merah atau Columba janthina nitens bukan merpati biasa yang sering kita temui di taman kota. Burung berukuran 40 sentimeter ini punya ciri khas kepala kemerahan dan tubuh cokelat gelap yang estetik.

Sayangnya, akibat hilangnya habitat dan ancaman kucing liar, jumlah mereka sempat tersisa kurang dari 80 ekor saja pada tahun 2008. Angka tersebut jelas bikin para peneliti ketar-ketir karena spesies ini sudah berada di ambang kepunahan total.

Program Penangkapan Kucing yang Berbuah Manis

Menyadari kondisi yang makin gawat, para aktivis lingkungan meluncurkan program penangkapan kucing liar besar-besaran di Pulau Chichijima sejak tahun 2010.

Sebanyak 131 kucing liar berhasil ditangkap dan dipindahkan agar tidak lagi memangsa burung-burung langka tersebut. Hasilnya luar biasa, dalam kurun waktu 2010 hingga 2013, populasi merpati dewasa meroket dari yang hanya 111 ekor menjadi 966 ekor.

Kabar ini pun langsung viral di kalangan komunitas pencinta alam global.

Lonjakan jumlah anakan burung juga nggak kalah dramatis, yaitu meningkat dari 9 ekor menjadi 189 ekor. Pemulihan ini tercatat sebagai salah satu proses rehabilitasi populasi burung liar tercepat yang pernah didokumentasikan.

Tanpa adanya tekanan dari predator puncak seperti kucing liar, merpati kepala merah seolah menemukan kembali kebebasan mereka untuk berkembang biak secara masif tanpa rasa takut.

Keajaiban Genetik dan Proses Pembersihan Mutasi Berbahaya

Cepatnya pemulihan ini memicu rasa penasaran tim peneliti dari Universitas Kyoto. Berdasarkan studi yang dipublikasikan pada Juli 2025, ditemukan fakta ilmiah yang cukup mengejutkan terkait struktur DNA burung ini.

Biasanya, populasi kecil sangat rentan terhadap perkawinan sedarah yang bisa memicu cacat genetik.

Namun, merpati kepala merah justru memiliki mutasi berbahaya yang lebih sedikit dibandingkan kerabatnya, merpati kayu Jepang, meskipun telah melakukan perkawinan sedarah selama berabad-abad.

Para ilmuwan menyebut fenomena ini sebagai genetic purging. Melalui proses seleksi alam yang panjang, mutasi genetik yang merusak perlahan tersingkir karena individu yang membawanya gagal bertahan hidup.

Hasilnya, populasi yang tersisa memiliki kumpulan gen yang lebih “bersih” dan tangguh. Kondisi genetik yang ramping namun sehat inilah yang disinyalir menjadi modal utama mereka untuk melakukan comeback yang sangat impresif setelah gangguan predator dihilangkan.

Tantangan Masa Depan dan Ketahanan Ekosistem

Meski jumlahnya sudah meningkat signifikan, kelangsungan hidup jangka panjang merpati ini tetap memerlukan pengawasan ketat.

Keragaman genetik yang terbatas masih menjadi tantangan, karena mereka bisa saja rentan terhadap perubahan iklim atau munculnya penyakit baru di masa depan.

Daichi Tsujimoto, salah satu peneliti utama, menekankan bahwa kasus merpati kepala merah ini menjadi pelajaran berharga bagi program konservasi spesies lain di seluruh dunia.

Penelitian ini membuktikan bahwa kombinasi antara pengendalian predator dan analisis genetik adalah kunci sukses menyelamatkan satwa dari kepunahan.

Kisah sukses dari Kepulauan Ogasawara ini diharapkan bisa menginspirasi banyak negara untuk lebih serius menjaga keseimbangan ekosistem mereka.

Dengan strategi yang tepat dan dukungan data sains yang akurat, spesies yang sudah di ujung tanduk pun masih punya kesempatan kedua untuk kembali merajai habitat aslinya.

Statement:

Daichi Tsujimoto, Peneliti Universitas Kyoto

“Banyak spesies yang terancam punah kesulitan untuk pulih meskipun dengan langkah konservasi yang intensif. Pemulihan luar biasa merpati ini mendorong kami untuk menyelidiki alasan genetik yang mendasari ketahanannya, dengan harapan dapat mengungkap apa yang membuat beberapa spesies lebih mampu pulih dibanding yang lain.”

3 Poin Penting:

  1. Efek Penghapusan Predator: Pemindahan 131 kucing liar dari Kepulauan Ogasawara terbukti menjadi faktor utama yang memicu kenaikan populasi merpati kepala merah hingga sepuluh kali lipat.

  2. Fenomena Genetic Purging: Meski terjadi perkawinan sedarah selama berabad-abad, spesies ini justru menjadi lebih sehat karena mutasi genetik berbahaya telah tersaring secara alami melalui proses evolusi.

  3. Rekor Pemulihan Tercepat: Peningkatan jumlah individu dari kurang dari 80 ekor menjadi hampir 1.000 ekor dalam tiga tahun menjadikannya salah satu pemulihan populasi burung paling dramatis di dunia.

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

24 Jam

Sepekan