War Takjil Jadi Tradisi! Ngabuburit Paling Hype yang Bikin Gen Z dan Milenial Ketagihan

Senin, 2 Maret 2026

Ilustrasi membeli takjil (ist)

Ramadan di Indonesia selalu punya cerita unik, salah satunya adalah fenomena berburu kudapan berbuka yang kini makin seru. Kata “takjil” sendiri sebenarnya berasal dari istilah “ajila” dalam bahasa Arab yang berarti menyegerakan berbuka puasa, namun di tanah air maknanya bergeser menjadi aneka makanan dan minuman manis.

Riset terbaru dari Populix menunjukkan pergeseran gaya hidup yang signifikan, di mana aktivitas berburu takjil bukan lagi sekadar rutinitas fungsional menjelang azan magrib, melainkan sudah berakulturasi menjadi tradisi khas yang sangat dinantikan.

Bagi anak muda masa kini, momen ini telah bertransformasi menjadi kegiatan ngabuburit paling populer, bahkan mengalahkan aktivitas menggulir media sosial atau memasak sendiri di rumah.

Sebagian besar Gen Z dan milenial memaknai perburuan kuliner ini sebagai bentuk apresiasi diri atau self-reward setelah seharian penuh menahan lapar dan dahaga.

Tidak heran jika jalanan kota mendadak ramai oleh para pemburu gorengan dan es segar setiap sore harinya sepanjang bulan suci.

Tren Self-Reward Lewat Kuliner dan Dominasi Es Teh yang Tak Tergantikan

Berdasarkan data siaran pers dari Populix pada Senin, 2 Maret 2026, terungkap bahwa sekitar 41 persen anak muda menganggap berburu takjil sebagai tradisi Ramadan yang tidak tergantikan.

Frekuensi pembeliannya pun tergolong sangat tinggi, di mana lebih dari setengah responden mengaku membeli takjil hampir setiap hari tanpa absen.

Pola konsumsi yang konsisten ini menunjukkan bahwa takjil telah menyatu dengan ritme harian masyarakat Indonesia selama menjalankan ibadah puasa.

Dalam hal preferensi rasa, minuman manis tetap menjadi juara di hati para pencinta kuliner sore. Es teh, es buah, dan es campur menempati urutan teratas sebagai pilihan utama, terutama di kalangan Gen Z yang menyukai kesegaran instan.

Sementara itu, kelompok milenial dan perempuan cenderung lebih variatif dengan memilih kue tradisional, gorengan, hingga dessert kekinian untuk melengkapi meja makan saat waktu berbuka tiba.

Akulturasi Selera Tradisional dan Peluang Bisnis di Jalur Daring

Menariknya, meskipun jajanan pasar tradisional tetap eksis, tren kuliner modern juga mulai merangkak naik memberikan warna baru pada pilihan takjil.

Hal ini mencerminkan adanya kombinasi apik antara selera warisan leluhur dengan gaya hidup urban yang dinamis.

Perubahan perilaku ini tidak hanya berdampak pada keragaman menu, tetapi juga pada cara konsumen mendapatkan makanan incaran mereka di tengah kepadatan aktivitas harian.

Walaupun mayoritas pemburu takjil masih setia mendatangi pedagang kaki lima secara langsung untuk merasakan atmosfer keramaian, kanal daring mulai menunjukkan taringnya.

Sekitar sepertiga responden, khususnya kaum perempuan, mengaku lebih memilih memesan takjil melalui aplikasi pesan makanan daring atau media sosial.

Fenomena ini membuka peluang emas bagi para pelaku usaha kuliner untuk meraup omzet lebih tinggi dengan memanfaatkan platform digital sebagai sarana pemasaran.

Potensi Ekonomi Kreatif di Balik Survei Berburu Takjil Nasional

Survei bertajuk “Berburu Takjil Menurut Gen Z dan Milenial” ini melibatkan 1.000 responden dan memberikan gambaran jelas mengenai peta kekuatan ekonomi kreatif di bulan Ramadan.

Data ini memperlihatkan bagaimana tradisi musiman dapat berkembang menjadi peluang bisnis yang sangat relevan dengan perubahan zaman.

Transformasi dari sekadar ritual agama menjadi kegiatan sosial-ekonomi menunjukkan betapa kuatnya pengaruh generasi muda dalam membentuk tren pasar saat ini.

Dengan partisipasi aktif dari Gen Z dan milenial, ekosistem kuliner Ramadan diprediksi akan terus berinovasi dan semakin inklusif.

Tradisi berburu takjil bukan hanya soal urusan perut, melainkan tentang bagaimana menjaga kehangatan interaksi sosial di ruang publik maupun digital.

Ke depannya, inovasi menu dan kemudahan akses melalui teknologi akan menjadi kunci utama bagi para pedagang untuk tetap relevan di mata konsumen muda yang haus akan pengalaman baru.

Statement:

Susan Adi Putra, Research Director Populix

“Tak hanya itu, 41% anak muda menganggap kegiatan berburu takjil bukan sekadar self-rewardsetelah seharian berpuasa, melainkan menjadi sebuah tradisi khas bulan Ramadan yang tidak tergantikan. Meskipun mayoritas cenderung membeli langsung dari pedagang kaki lima, penjualan secara online juga membuka peluang untuk meraup omzet lebih tinggi.”

3 Poin Penting:

  1. Berburu takjil kini menjadi aktivitas ngabuburit nomor satu bagi Gen Z dan milenial di Indonesia, melampaui penggunaan media sosial.

  2. Es teh dan minuman manis menjadi menu favorit utama, disusul oleh gorengan dan kue tradisional yang tetap diminati lintas generasi.

  3. Terdapat pergeseran perilaku belanja di mana sepertiga konsumen muda mulai memanfaatkan aplikasi pesan antar dan media sosial untuk membeli takjil.

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

24 Jam Terakhir

Sepekan Terakhir