Dunia pemasaran baru saja diguncang oleh gelaran Eleventh WOW Brand 2026 Seminar yang berlangsung di The Ballroom, Djakarta Theater. Mengusung tema besar “Branding in the Age of AI”, acara ini jadi saksi bagaimana para pelaku industri bergulat dengan teknologi yang makin canggih.
AI memang bikin semuanya serba cepat dan presisi, tapi tantangan besarnya adalah gimana caranya supaya merek nggak berubah jadi robot yang membosankan dan kehilangan sentuhan manusiawinya.
Keseruan acara ini makin memuncak dengan peluncuran global buku “Marketing 7.0: A Guide for Thinking Marketeers in the Age of AI” yang baru saja rilis April 2026. Buku ini jadi panduan wajib buat para marketer yang nggak mau cuma sekadar ikut arus.
Intinya, di tengah dominasi mesin, strategi branding harus makin pintar mencari celah agar tetap relevan dan nggak cuma berakhir sebagai sampah informasi di gadget konsumen.
Keseimbangan Teknologi dan Nyali untuk Menjadi Berbeda
COO MCorp, Iwan Setiawan, memberikan insight pedas soal cara kerja otak manusia modern yang punya fitur “penyaringan agresif”. Menurutnya, audiens zaman sekarang sudah otomatis auto-skip kalau melihat konten yang terlalu rapi atau berbau iklan kaku.
Merek yang berani tampil apa adanya, bahkan menunjukkan sisi kekurangan dan kelemahannya, justru punya peluang lebih besar buat viral dan dicintai di media sosial karena terasa lebih nyata.
Iwan juga memperingatkan bahaya jika kita terlalu bergantung pada AI dalam urusan kreatif. Karena AI bersifat generalis dan nggak punya “bias”, hasil kerjanya cenderung bermain aman dan normatif.
Padahal, inti dari branding adalah keberanian untuk mengambil posisi unik dan berpihak. Jika strategi kreatif cuma diserahkan ke mesin, bersiaplah menjadi merek yang rata-rata dan mudah dilupakan oleh pasar.
Kolaborasi Manusia dan Mesin dalam Panel Diskusi Kelas Kakap
Seminar ini juga menghadirkan diskusi seru yang terbagi dalam dua panel utama. Panel pertama fokus pada gimana caranya tetap jadi “manusia” di tengah gempuran otomatisasi, sementara panel kedua membedah strategi data-driven branding yang tetap mengedepankan seni bercerita atau storytelling.
Para bos besar dari BCA, Telkomsel, hingga Kopi Kenangan turun gunung buat berbagi rahasia sukses mereka menjaga reputasi di tengah ketatnya persaingan pasar.
Founder and Chair of MCorp, Hermawan Kartajaya, menutup sesi dengan pesan yang sangat kuat: keputusan akhir tetap ada di tangan manusia.
Meski kompetitor semua pakai AI, bukan berarti kita harus pasrah sepenuhnya pada algoritma. Prinsip dasar Positioning, Differentiation, Branding (PDB) tetap jadi hukum mutlak.
Menjadi yang terbaik itu bagus, tapi di era sekarang, menjadi “berbeda” adalah kunci utama untuk memenangkan hati konsumen.
Apresiasi untuk Merek yang Berhasil Membangun Hubungan Nyata
Nggak cuma soal diskusi teori, WOW Brand 2026 juga bagi-bagi penghargaan bergengsi lewat Indonesia WOW Brand, Branding Campaign of the Year, dan Brand for Good Club.
Penghargaan ini membuktikan bahwa sukses itu nggak cuma soal angka penjualan, tapi seberapa kuat merek tersebut direkomendasikan secara sukarela oleh konsumennya.
Penilaiannya pun nggak main-main, menggunakan metodologi Customer Path 5A yang mengukur loyalitas dari tahap kenal sampai jadi pembela merek.
Sebagai kejutan, tahun ini juga diperkenalkan WOW Brand China yang bakal hadir di Jakarta Marketing Week 2026 pada Mei mendatang. Hal ini menunjukkan bahwa peta persaingan branding sudah makin global dan terkoneksi.
Intinya, ajang ini jadi pengingat buat kita semua bahwa secanggih apa pun teknologinya, strategi yang berakar pada nilai kemanusiaan dan kedekatan emosional tetap akan jadi pemenang di akhir cerita.
Statement:
Hermawan Kartajaya, Founder and Chair of MCorp
“Sekarang semua orang bilang kalau tidak menggunakan AI akan kalah dari kompetitor, tetapi jangan sampai semuanya diserahkan pada AI. Keputusan tetap harus diambil oleh manusia. Dalam marketing, kita tidak harus menjadi yang terbaik, tetapi harus menjadi berbeda. Di sinilah peran augmented human menjadi kunci.”
3 Poin Penting:
-
Era AI menuntut keseimbangan antara efisiensi teknologi dan sentuhan emosional manusia agar merek tetap terasa autentik dan tidak diabaikan audiens.
-
Branding membutuhkan “bias” atau keberanian mengambil posisi unik yang tidak bisa dihasilkan oleh AI yang bersifat generalis dan normatif.
-
Keberhasilan merek di masa depan diukur melalui kemampuan konversi dari sekadar tahu (awareness) menjadi rekomendasi nyata (advocacy) melalui pendekatan Customer Path 5A.

![Pengumuman Pemenang Program Undian Berhadiah Liburan Ke Korea dan Uang Tunai Total Ratusan Juta dari CEDEA di Jakarta, 1 April 2026. Dari kiri ke kanan; Adrian Surya (batik biru tengah), Viktor Khian (batik putih hitam tengah), Inong Fatimah (batik merah tengah), dan Dandiaz Revinka (paling kanan). [dok. genlink]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/cedea-300x169.png)
![alfamart "layar digi" [dok. layardigi]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/Kini-nonton-film-nggak-harus-selalu-ke-mall-besar.-Alfamart-menghadirkan-inovasi-baru-berupa-bio-2-e1774864758583-300x214.jpg)
