Search

Kudeta Gagal di Honda, CEO Toshihiro Mibe Sukses Amankan Kursi dari Tekanan Mantan Bos

Kamis, 11 Juni 2026

CEO Honda (ist)

Kabar panas bin dramatis baru saja mengguncang panggung otomotif global, khususnya bagi para pencinta brand berlogo huruf H.

Sejumlah mantan petinggi Honda Motor dilaporkan sempat menyusun strategi rahasia buat melengserkan CEO Honda saat ini, Toshihiro Mibe.

Aksi “kudeta” internal ini mencuat ke permukaan di tengah badai tantangan berat yang lagi dihadapi oleh raksasa otomotif asal Negeri Sakura tersebut.

Namun, plot twist-nya, upaya penggulingan kekuasaan yang dimotori oleh para veteran ini berakhir dengan kegagalan total.

Toshihiro Mibe terbukti masih terlalu tangguh untuk ditumbangkan setelah dirinya sukses mengantongi dukungan penuh dari dewan direksi perusahaan.

Alhasil, sang CEO masih bisa bernapas lega dan tetap memegang kendali penuh atas arah masa depan lini bisnis Honda.

Rapat Rahasia Akhir Tahun dan Tudingan Strategi EV yang Keliru

Berdasarkan laporan resmi dari Reuters, pergerakan bawah tanah ini sebenarnya sudah mulai diendus sejak akhir tahun lalu.

Sekelompok eksekutif senior yang statusnya sudah pensiun kedapatan sering menggelar pertemuan tertutup buat membahas masa depan Honda.

Dalam diskusi intens selama berbulan-bulan itu, mereka menuding kepemimpinan Mibe sebagai biang kerok dari berbagai masalah pelik yang menimpa perusahaan saat ini.

Salah satu poin paling krusial yang bikin para mantan bos ini meradang adalah kebijakan Mibe yang dinilai cuek dengan pasar Tiongkok, alias pasar otomotif terbesar di dunia.

Nggak cuma itu, mereka juga mengkritik habis-habisan strategi kendaraan listrik (electric vehicle/EV) pilihan Mibe yang dinilai keliru dan terlalu ambisius.

Kelompok veteran ini khawatir fokus berlebih pada EV justru bakal bikin Honda mencatat kerugian tahunan pertama kalinya dalam kurun waktu hampir 70 tahun.

Mantan CEO Turun Tangan hingga Finansial yang Terbakar Miliaran Dolar

Tensi internal makin membara ketika pada April lalu, mantan CEO Honda Nobuhiko Kawamoto mutusin buat turun gunung. Ia mendatangi langsung kantor pusat Honda yang berlokasi di Tokyo untuk meminta Mibe mundur secara terhormat dari jabatannya.

Tapi dasar Mibe punya mental baja, permintaan dari sang senior tersebut langsung ditolak mentah-mentah demi mempertahankan visi bisnis yang sudah ia bangun.

Perselisihan ini sebenarnya cerminan nyata dari dilema besar yang lagi dihadapi oleh pabrikan mobil konvensional di seluruh dunia.

Industri otomotif Jepang sendiri lagi dijepit dari berbagai arah, mulai dari tarif impor Amerika Serikat sampai gempuran mobil listrik murah asal Tiongkok.

Beban finansial Honda makin bengkak setelah mereka terpaksa menghapus nilai aset terkait EV senilai US12 milaian.

Hilangnya Jiwa “Genba” dan Merosotnya Pijakan Bisnis di China

Kritik paling menohok dari para mantan petinggi tertuju pada merosotnya taji Honda di pasar Tiongkok karena Mibe dinilai jarang memantau lapangan secara langsung.

Padahal, dalam kamus besar internal Honda, ada konsep sakral bernama “genba” yang artinya melihat langsung kondisi riil tempat bisnis berjalan, mulai dari pabrik sampai ke ruang pameran.

Manajemen puncak era Mibe dituding sudah kehilangan kepekaan terhadap esensi “genba” ini, terutama untuk wilayah pasar China.

Efeknya terbukti fatal di atas kertas, di mana pangsa pasar Honda di Tiongkok terjun bebas dari kisaran 8% pada tahun 2020 menjadi kurang dari 3% saja pada tahun lalu.

Di sisi lain, ketegangan di dalam kantor pusat juga makin kerasa karena divisi sepeda motor Honda yang lagi panen rekor laba tahun lalu, merasa dianaktirikan karena harus terus-terusan menyuntik dana untuk menopang divisi mobil yang performanya lagi drop.

3 Poin Penting:

  • Gagalnya Kudeta Internal: Upaya sekelompok mantan eksekutif senior Honda untuk melengserkan CEO Toshihiro Mibe gagal total setelah Mibe tetap mendapat dukungan kuat dari dewan direksi dan jajaran direktur independen.

  • Kritik Strategi EV dan Pasar China: Mibe dikritik tajam karena dianggap salah langkah dalam menerapkan strategi kendaraan listrik (EV) serta mengabaikan pasar Tiongkok, yang membuat pangsa pasar Honda di sana merosot tajam menjadi di bawah 3%.

  • Beban Finansial yang Masif: Akibat pembatalan pengembangan tiga model kendaraan listrik baru, Honda harus menanggung penghapusan nilai aset sebesar US12 miliar.

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

24 Jam

Sepekan