Ajang Piala Dunia 2026 yang digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko ternyata belum mampu mendatangkan lonjakan wisatawan seperti yang selama ini diprediksi.
Turnamen sepak bola terbesar di dunia itu justru menghadapi tantangan berupa menurunnya jumlah wisatawan internasional yang berkunjung ke Amerika Serikat, sehingga dampak ekonominya belum terasa signifikan bagi sektor perjalanan dan pariwisata.
Selama bertahun-tahun, Piala Dunia dipandang sebagai peluang emas bagi industri perhotelan, maskapai penerbangan, hingga sektor hiburan.
Namun, gelombang suporter mancanegara yang diharapkan memenuhi kota-kota tuan rumah belum terlihat. Kondisi tersebut membuat sejumlah hotel mulai menurunkan tarif kamar demi menarik minat wisatawan yang masih rendah.
Industri Pariwisata Hadapi Realita Berbeda
Melemahnya pemesanan tiket pesawat menjadi salah satu indikator bahwa antusiasme wisatawan belum sesuai ekspektasi.
Kenaikan harga tiket penerbangan, mahalnya tiket pertandingan, serta biaya perjalanan yang tinggi disebut menjadi faktor utama yang membuat banyak calon penonton menunda keberangkatan ke negara tuan rumah.
Selain faktor biaya, berbagai kendala lain seperti proses visa, mobilitas antarnegara tuan rumah yang cukup kompleks, hingga kekhawatiran kelompok hak asasi manusia terhadap situasi di Amerika Serikat turut memengaruhi keputusan wisatawan internasional.
Di sisi lain, wisatawan domestik AS juga belum mampu menutup kekurangan jumlah pengunjung dari luar negeri karena sepak bola masih kalah populer dibandingkan olahraga lain seperti American football, basket, dan baseball.
Pemesanan Hotel dan Penerbangan Turun
Data perusahaan analisis penerbangan Cirium menunjukkan pemesanan tiket dari Eropa menuju sebagian besar kota tuan rumah selama Juni hingga Juli 2026 turun rata-rata 3,8% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Penurunan paling tajam terjadi pada rute menuju New York, lokasi partai final Piala Dunia 2026, dengan penurunan pemesanan mencapai 15,8%.
Kondisi ini turut memengaruhi sektor perhotelan. Asosiasi Hotel New York memangkas proyeksi pendapatan yang terkait dengan penyelenggaraan Piala Dunia hingga 60% menjadi sekitar USD60 juta.
Bahkan sejumlah hotel besar di New York mulai menawarkan potongan harga signifikan untuk menjaga tingkat hunian kamar tetap stabil selama turnamen berlangsung.
Harapan Lonjakan Menit Terakhir Masih Terbuka
Meski situasi awal belum sesuai harapan, pelaku industri pariwisata masih optimistis akan terjadi lonjakan pemesanan pada fase-fase akhir turnamen.
Beberapa hotel dan jaringan perhotelan internasional seperti Hilton dan Marriott masih melihat peluang peningkatan okupansi ketika pertandingan memasuki babak krusial dan tim-tim favorit mulai bertanding.
Namun hingga saat ini, data dari CoStar menunjukkan tingkat pemesanan hotel di kota-kota tuan rumah hanya naik sekitar 0,5 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Angka tersebut menjadi sinyal bahwa industri pariwisata masih menunggu efek nyata dari ajang olahraga terbesar dunia yang seharusnya mampu menjadi penggerak ekonomi regional dan global.
Statement:
Vijay Dandapani, CEO Hotel Association of New York City
“Secara keseluruhan ini mengecewakan. Tidak ada kata lain yang bisa saya gunakan.”
3 Poin Penting:
- Piala Dunia 2026 belum menghasilkan lonjakan wisatawan internasional yang signifikan di Amerika Serikat.
- Tingginya biaya perjalanan, tiket pertandingan, serta kendala visa menjadi faktor utama rendahnya minat wisatawan.
- Hotel dan maskapai masih berharap terjadi peningkatan pemesanan pada fase akhir turnamen meskipun data awal menunjukkan tren yang lemah.



