Pemerintah kembali mencari cara untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor energi.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengusulkan anggaran sebesar Rp815 miliar untuk program pengadaan kompor listrik sebagai bagian dari strategi memperkuat ketahanan energi nasional dan menekan impor liquefied petroleum gas (LPG).
Usulan tersebut muncul di tengah tingginya kebutuhan LPG nasional yang masih bergantung pada pasokan impor.
Kondisi ini dinilai membebani devisa negara sekaligus meningkatkan tekanan terhadap anggaran subsidi energi yang setiap tahun terus meningkat seiring pertumbuhan konsumsi masyarakat.
Kompor Listrik Jadi Solusi Penghematan Energi
Bahlil menilai program kompor listrik dapat menjadi langkah strategis untuk mengurangi konsumsi LPG rumah tangga secara bertahap.
Dengan memanfaatkan pasokan listrik yang semakin memadai di berbagai wilayah Indonesia, pemerintah berharap masyarakat memiliki alternatif energi yang lebih efisien dan berkelanjutan.
Selain membantu mengurangi impor LPG, penggunaan kompor listrik juga dinilai mampu mengoptimalkan pemanfaatan energi domestik.
Langkah ini sejalan dengan upaya pemerintah memperkuat kemandirian energi nasional sekaligus mendorong transformasi menuju penggunaan energi yang lebih modern dan ramah lingkungan.
Beban Impor LPG Masih Tinggi
Selama beberapa tahun terakhir, kebutuhan LPG nasional terus meningkat seiring bertambahnya jumlah penduduk dan aktivitas ekonomi.
Namun, kemampuan produksi dalam negeri belum mampu memenuhi seluruh permintaan tersebut sehingga pemerintah masih harus mengandalkan impor dalam jumlah besar.
Ketergantungan terhadap impor LPG tidak hanya berdampak pada neraca perdagangan, tetapi juga meningkatkan beban subsidi yang harus ditanggung negara.
Oleh karena itu, pemerintah mulai mencari berbagai alternatif untuk menekan konsumsi LPG tanpa mengurangi akses energi bagi masyarakat.
Dorong Pemanfaatan Listrik Nasional
Program kompor listrik juga dinilai dapat memberikan manfaat tambahan bagi sektor kelistrikan nasional.
Dengan meningkatnya penggunaan listrik rumah tangga untuk memasak, konsumsi energi listrik diperkirakan akan meningkat sehingga mampu menyerap pasokan listrik yang selama ini terus bertambah dari berbagai pembangkit di Indonesia.
Di sisi lain, keberhasilan program ini akan sangat bergantung pada kesiapan infrastruktur listrik serta tingkat penerimaan masyarakat.
Edukasi mengenai manfaat, efisiensi biaya, dan keamanan penggunaan kompor listrik menjadi faktor penting agar program dapat berjalan efektif dan tepat sasaran.
Bagian dari Strategi Ketahanan Energi
Pengadaan kompor listrik bukan sekadar program penggantian alat rumah tangga, melainkan bagian dari strategi jangka panjang pemerintah untuk menciptakan sistem energi yang lebih mandiri.
Diversifikasi sumber energi menjadi langkah penting agar Indonesia tidak terlalu bergantung pada komoditas impor yang rentan terhadap gejolak harga global.
Jika usulan anggaran tersebut mendapat persetujuan, program kompor listrik berpotensi menjadi salah satu kebijakan energi terbesar dalam beberapa tahun ke depan.
Selain mengurangi impor LPG, langkah ini diharapkan mampu meningkatkan efisiensi penggunaan energi nasional dan memperkuat ketahanan energi Indonesia di masa mendatang.
3 Poin Penting:
- Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengusulkan anggaran Rp815 miliar untuk program pengadaan kompor listrik.
- Program ini ditujukan untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor LPG dan menekan beban subsidi energi.
- Kompor listrik diharapkan dapat mendukung ketahanan energi nasional serta mengoptimalkan pemanfaatan pasokan listrik dalam negeri.


![BBM Pertamina [dok. web]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/kenaikan-harga-bbm-nonsubsidi-maret-2026-dinamika-minyak-global-dorong-penyesuaian-di-seluruh-spbu-300x206.webp)
