Search

Mulai Retak? Hubungan Trump dan Netanyahu Memanas, AS Diam-Diam Lirik Kubu Oposisi Israel

Rabu, 24 Juni 2026

Netanyahu dan Trump (Getty Images)

Gedung Putih di bawah kendali Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump tampaknya mulai mengambil langkah taktis yang mengejutkan di panggung politik Timur Tengah.

Hubungan diplomatik yang biasanya terlihat mesra antara AS dan Israel kini dilaporkan sedang mengalami ketegangan di balik layar akibat meningkatnya perbedaan pandangan.

Ketidaksepakatan yang semakin meruncing dengan pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu membuat Washington mulai memutar otak untuk mengamankan kepentingannya.

Sebagai langkah antisipasi, pemerintahan Trump diduga kuat mulai menjalin komunikasi rahasia secara informal dengan sejumlah tokoh oposisi di Israel.

Informasi sensitif ini pertama kali dibongkar oleh media lokal, Channel 12 Israel, pada Minggu (21/6/2026).

Langkah ini menjadi sinyal kuat bahwa AS sedang mencari alternatif politik baru dan tidak lagi sepenuhnya menaruh kepercayaan pada kepemimpinan Netanyahu yang dinilai semakin sulit untuk diajak berkompromi.

Manuver Politik Washington Dekati Mantan Perdana Menteri

Menurut laporan mendalam dari Channel 12 Israel, para pejabat tinggi di pemerintahan Trump meyakini bahwa arah kebijakan pemerintahan Netanyahu saat ini masih bisa diubah atau digeser.

Oleh karena itu, pendekatan informal kepada para pemimpin oposisi mulai gencar dilakukan dalam beberapa pekan terakhir.

Strategi ini diambil untuk memetakan kekuatan politik baru yang dianggap lebih akomodatif terhadap visi diplomatik jangka panjang Amerika Serikat di kawasan tersebut.

Dua nama besar dari kubu oposisi dikabarkan menjadi target utama dalam komunikasi politik yang sedang dibangun oleh pihak Washington.

Tokoh pertama adalah mantan Perdana Menteri Naftali Bennett, yang saat ini menjabat sebagai pemimpin Partai Together.

Selain Bennett, nama Gadi Eisenkot yang merupakan pemimpin dari Partai Yashar juga disebut-sebut terlibat aktif dalam pusaran komunikasi intensif dengan para utusan khusus dari pemerintahan Donald Trump.

Khawatir Pengaruh Garis Keras Jelang Pemilu Israel

Langkah berani yang diambil oleh pemerintah AS ini kabarnya didasari oleh kekhawatiran yang mendalam terhadap komposisi kabinet Israel saat ini.

Washington merasa sangat cemas dengan besarnya pengaruh kelompok garis keras yang berada di sekeliling Benjamin Netanyahu.

Kebijakan-kebijakan ekstrem dari kelompok tersebut dinilai berpotensi merusak stabilitas wilayah dan mempersulit proses diplomasi internasional yang sedang diupayakan oleh pihak AS.

Melalui pendekatan informal ini, pemerintahan Trump berupaya keras untuk membangun fondasi hubungan yang kuat dengan kekuatan politik alternatif di Israel.

Langkah taktis ini sengaja dipersiapkan jauh-jauh hari sebagai investasi politik menjelang bergulirnya pemilu Israel berikutnya.

Dengan memiliki hubungan baik bersama kubu oposisi, Amerika Serikat berharap dapat mempertahankan pengaruh kuatnya siapapun nanti yang akan memenangkan kontestasi politik di sana.

Respons Balik Oposisi dan Upaya Membangun Aliansi Baru

Di sisi lain, kubu oposisi Israel ternyata tidak tinggal diam dan menyambut baik sinyal hijau yang dikirimkan oleh pihak Gedung Putih.

Dalam beberapa bulan terakhir, kelompok yang berseberangan dengan Netanyahu ini juga dilaporkan sangat aktif bergerak mendekati lingkaran dalam pemerintahan Trump.

Mereka mencoba meyakinkan Washington bahwa visi politik mereka jauh lebih moderat dan saling menguntungkan bagi kedua belah negara.

Meskipun upaya tersebut dilaporkan baru membuahkan keberhasilan yang terbatas, gerakan ini telah berhasil menarik simpati dari sejumlah pejabat AS yang selama ini bersikap kritis terhadap kebijakan keras Netanyahu.

Konsolidasi politik antara kepentingan domestik AS dan kubu oposisi Israel ini diprediksi akan terus bergulir hangat. Dinamika ini sekaligus menjadi ujian berat bagi posisi tawar Benjamin Netanyahu di mata sekutu abadinya tersebut.

3 Poin Penting:

  • Pemerintahan Donald Trump dilaporkan mulai menjalin komunikasi informal dengan pemimpin oposisi Israel, termasuk Naftali Bennett (Partai Together) dan Gadi Eisenkot (Partai Yashar).

  • Langkah rahasia ini diambil akibat meningkatnya perbedaan pandangan antara AS dan PM Benjamin Netanyahu, serta kekhawatiran Washington terhadap pengaruh kelompok garis keras di kabinet Israel.

  • Pendekatan ini merupakan strategi investasi politik jangka panjang Amerika Serikat untuk membangun hubungan dengan kekuatan politik alternatif menjelang pemilu Israel mendatang.

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

24 Jam

Sepekan