Search

Stop Mandi Bareng Monyet! Surga Wisata Jigokudani Jepang Akhirnya Batasi Kuota Pengunjung

Minggu, 28 Juni 2026

Monyet salju Jepang (ist)

Destinasi ikonik Jepang yang terkenal dengan pemandangan estetik monyet salju yang asyik berendam di mata air panas, terpaksa mengambil langkah tegas.

Pengelola taman wisata legendaris ini resmi mengumumkan bakal membatasi jumlah pengunjung harian dalam waktu dekat.

Kebijakan ini diambil setelah terjadi lonjakan drastis angka wisatawan mancanegara yang dibarengi dengan rentetan perilaku buruk turis bandel yang dinilai sudah mulai melewati batas kewajaran.

Terletak di sebuah lembah dengan ketinggian 850 meter di wilayah Nagano tengah, Jigokudani Yaen-Koen merupakan rumah bagi kera Jepang liar yang secara teratur mandi di air panas vulkanik.

Saat musim dingin tiba, kawasan ini menyajikan panorama magis berupa kawanan primata yang bersantai di dalam kolam alami selama berjam-jam untuk menghangatkan diri.

Sayangnya, keindahan alami yang harusnya dijaga ini belakangan justru terganggu oleh ulah sebagian pelancong yang nekat ikut menceburkan diri demi konten media sosial.

Antrean Mengular Ribuan Orang dan Transisi ke Sistem Tiket Online

Sebagai satu-satunya tempat di dunia yang menawarkan pemandangan unik kera berendam, taman yang dijuluki “surga monyet” ini mengalami tekanan parah akibat overtourism.

Dalam beberapa tahun terakhir, arus kedatangan turis asing yang jor-joran membuat kapasitas lokasi menjadi tidak kondusif.

Pada hari-hari tertentu, jumlah wisatawan yang datang merangsek ke area lembah bisa menyentuh angka fantastis, yakni berkisar antara 3.000 hingga 4.000 orang per hari.

Kepadatan yang masif ini otomatis memicu antrean mengular yang sangat panjang dan melelahkan tepat di luar loket pembelian tiket fisik.

Guna mengurai kerumunan tersebut, pihak pengelola siap mengubah skema operasional dengan mengalihkan seluruh transaksi ke sistem pemesanan online mulai Agustus mendatang.

Lewat sistem digital baru ini, kuota kunjungan harian akan dipangkas secara ketat dan dibatasi maksimal hanya sampai 2.000 orang per hari demi menjaga kenyamanan habitat satwa.

Fenomena Overtourism Akibat Yen Melemah dan Munculnya Perilaku Menyimpang

Seiring dengan meroketnya grafik kunjungan, frekuensi insiden pelanggaran aturan yang dilakukan oleh para turis juga ikut meningkat tajam.

Petugas di lapangan sering kali harus menegur keras pengunjung yang nekat memberikan makanan instan atau mencoba menyentuh fisik monyet secara langsung.

Puncaknya, beberapa turis bandel bahkan kedapatan mencoba mandi bersama hewan-hewan liar tersebut di dalam kolam pemandian air panas vulkanik yang seharusnya steril dari aktivitas manusia.

Meledaknya angka kunjungan ke wilayah negeri sakura ini tidak lepas dari posisi nilai tukar mata uang yen yang cenderung melemah sepanjang tahun lalu.

Kondisi ekonomi tersebut sukses memikat sekitar 42,7 juta wisatawan global untuk berbondong-bondong datang ke Jepang, yang mencatatkan rekor tertinggi sepanjang masa.

Namun, di sisi lain, fenomena ini memicu gelombang protes dari warga lokal di berbagai kota wisata, mulai dari kasus pelecehan geisha di Kyoto hingga pembatalan festival bunga sakura di Fujiyoshida akibat masalah sampah dan kemacetan.

3 Poin Penting:

  • Pembatasan Kuota Harian: Taman wisata Jigokudani Yaen-Koen di Nagano akan membatasi jumlah pengunjung maksimal 2.000 orang per hari mulai Agustus 2026.

  • Ulah Turis Bandel: Kebijakan ini dipicu oleh lonjakan wisatawan dan perilaku menyimpang turis, termasuk nekat memberi makan, menyentuh, hingga mencoba mandi bersama monyet salju.

  • Dampak Overtourism di Jepang: Efek melemahnya mata uang yen memicu kedatangan 42,7 juta turis ke Jepang, yang berdampak pada rusaknya kenyamanan lingkungan dan kehidupan tenang warga lokal.

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

24 Jam

Sepekan