Search

Tembaga Mulai Ketinggalan Zaman! Ferrari dan BMW Kompak Pakai Kabel Aluminium buat Mobil Listrik

Rabu, 1 Juli 2026

BMW EV (ist)

Dunia otomotif global lagi dihebohkan sama tren baru yang diadopsi oleh para produsen otomotif kelas kakap.

Dua raksasa mobil mewah asal Eropa, Ferrari dan BMW, dilaporkan mulai gencar meluncurkan deretan model kendaraan terbaru yang menggunakan sistem kabel berbahan aluminium.

Langkah berani ini diambil sebagai bentuk inovasi radikal untuk menggeser dominasi tembaga, material ikonik yang sudah bertengger manis sebagai standar utama kabel listrik sejak baterai ditemukan dua abad lalu.

Langkah taktis yang diambil oleh Ferrari dan BMW ini menyusul manuver serupa yang sebelumnya sudah dipopulerkan oleh Tesla serta deretan produsen mobil listrik (EV) asal China.

Menurut analisis terbaru dari lembaga keuangan JPMorgan, fenomena migrasi besar-besaran ini diproyeksikan bakal langsung memengaruhi sekitar 2 persen dari total permintaan tembaga global pada tahun ini.

Tren ini diprediksi akan terus menggelinding bak bola salju seiring dengan berkembangnya ekosistem kendaraan ramah lingkungan.

Efisiensi Bobot Kendaraan Jadi Kunci Utama bagi Ferrari dan BMW

Dalam wawancara eksklusif bersama media, pabrikan supercar asal Italia, Ferrari, membeberkan bahwa mereka sudah mulai memanfaatkan logam ringan ini pada kabel daya untuk model mobil sport hibrida 296 mereka.

Lebih kerennya lagi, Ferrari juga langsung menerapkan sistem kabel aluminium ini pada Luce, mobil listrik murni pertama mereka yang baru saja meluncur ke pasaran.

Penggunaan aluminium terbukti sukses memangkas total bobot komponen kabel hingga mencapai 20 persen.

Di sisi lain, raksasa otomotif Jerman, BMW, rupanya sudah mencium potensi material ini sejak tahun 2011 pada lini kendaraan subkompak Seri 1 mereka.

BMW kemudian secara progresif terus memperluas jangkauan penggunaan konduktor aluminium ini pada varian mobil hibrida dan mobil listrik murni teranyar mereka.

Saat ini, kabel aluminium dalam jumlah besar telah tersemat rapi pada sistem tegangan tinggi maupun rendah di dalam arsitektur teknologi eDrive EV terbaru besutan mereka.

Lonjakan Harga Tembaga Dunia Bikin Pabrikan Auto Pindah Haluan ke Aluminium

Faktor ekonomi dan pasokan komoditas global disinyalir kuat menjadi pendorong utama di balik masifnya fenomena substitusi material ini.

Harga tembaga dunia sempat meroket tajam hingga menembus angka kisaran 15.000 dolar AS per metrik ton akibat tingginya permintaan dari sektor energi hijau dan pusat data (data center).

Kondisi ini berbanding terbalik dengan harga aluminium di pasar dunia yang jauh lebih terjangkau, yakni hanya berada di kisaran 3.100 dolar AS per ton.

Dengan selisih harga yang menyentuh hingga seperempat dari harga tembaga, perusahaan lintas sektor tentu tergiur untuk beralih demi mengamankan margin keuntungan.

Pabrikan kabel raksasa dunia asal Prancis, Nexans, menyebutkan bahwa produsen biasanya akan langsung memantapkan pilihan untuk beralih ke aluminium saat harga tembaga sudah menyentuh 3,5 kali lipat lebih mahal.

Saat ini, rasio perbandingan harga pasaran tembaga bahkan sudah melonjak hingga lebih dari 4,2 kali lipat dari harga aluminium.

Dominasi Mobil Listrik China dan Proyeksi Pasar Megah hingga Tahun 2030

Bukan cuma benua Eropa yang keranjingan tren ini, para produsen mobil listrik asal China seperti AVATR, XPeng, hingga Xiaomi juga dilaporkan kompak memakai kabel aluminium.

Langkah defensif ini diambil demi memenangi perang harga yang sedang berkecamuk sengit di pasar Asia dengan cara memotong ongkos produksi serendah mungkin.

Pemerintah China bahkan ikut mendukung penuh lewat penerbitan kebijakan makro yang mendorong standardisasi komponen berbasis aluminium pada sektor otomotif dan alat rumah tangga.

JPMorgan memperkirakan bahwa pada tahun 2030 mendatang, sekitar 6 persen dari total permintaan tahunan tembaga global akan berhasil digantikan oleh aluminium secara permanen.

Meskipun aluminium memiliki sedikit kelemahan karena membutuhkan volume material yang lebih tebal untuk menghantarkan daya listrik setara tembaga, efisiensi bobot dan harga murah tetap menjadikannya primadona baru.

Era baru komparasi komponen ini dipastikan bakal terus melaju kencang mengubah lanskap industri transportasi masa depan.

3 Poin Penting:

  • Migrasi Material Kabel: Ferrari dan BMW secara resmi mengikuti jejak Tesla dan produsen EV China untuk menggunakan kabel berbahan aluminium guna menggantikan dominasi tembaga.

  • Efisiensi Bobot dan Biaya: Penggunaan aluminium sukses memotong bobot sistem perkabelan hingga 20 persen dengan harga bahan baku yang jauh lebih murah, yakni hanya sekitar seperempat dari harga pasaran tembaga.

  • Proyeksi Pasar Global: Akibat lonjakan harga tembaga, JPMorgan memprediksi substitusi aluminium pada komponen industri global akan meningkat pesat dari 2 persen saat ini menjadi 6 persen pada tahun 2030.

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

24 Jam

Sepekan