Search

Peneliti UB Temukan Empat Spesies Kumbang Baru, Ada yang Diberi Nama Amasa Brawijaya

Rabu, 8 Juli 2026

Spesies kumbang baru (ist)

Dunia sains global lagi dibuat heboh sama prestasi akademik anak bangsa nih.

Tim peneliti dari Universitas Brawijaya (UB) sukses berkolaborasi bareng kampus top dunia kayak University of Florida, Michigan State University, dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Gabungan tim ahli lintas negara ini berhasil menemukan sekaligus mendeskripsikan empat spesies baru kumbang ambrosia dan kumbang kulit kayu yang bersembunyi di kawasan UB Forest, Jawa Timur.

Penemuan kece dalam bidang biodiversitas hutan tropis ini dipimpin langsung oleh Prof. Dr. Agr. Sc. Hagus Tarno, Guru Besar Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Bio-Industri Pertanian dan Kehutanan UB.

Gak sendirian, beliau ditemani oleh Yogo Setiawan, seorang peneliti muda Indonesia yang saat ini sedang menempuh studi doktoral di Kagoshima University, Jepang.

Proyek ilmiah ini membuktikan kalau alam Indonesia masih menyimpan banyak rahasia yang belum terjamah.

Masuk Jurnal Internasional dan Sengaja Pakai Nama Brawijaya

Hasil temuan yang super penting bagi ilmu pengetahuan ini gak main-main karena langsung menembus jurnal ilmiah internasional papan atas.

Riset tersebut resmi dipublikasikan pada 21 Juni 2026 dalam Journal of the Coleopterists Bulletin lewat artikel bertajuk Checklist of the Bark and Ambrosia Beetle Species Collected at the Universitas Brawijaya Forest Properties.

Proses pengambilan datanya sendiri sudah dicicil sejak Oktober 2024 lalu bersamaan dengan kegiatan Bark and Ambrosia Beetles Academy.

Nah, dari empat spesies baru yang berhasil diidentifikasi—yaitu Crossotarsus gunungapi, Cosmoderes arjuno, Cosmoderes opacus, dan Amasa brawijaya—ada satu nama yang paling mencuri perhatian.

Spesies Amasa brawijayasengaja dipilih sebagai bentuk penghormatan tinggi untuk identitas lokal kampus UB sekaligus merujuk pada warisan sejarah Kerajaan Majapahit.

Penamaan ini otomatis membuat nama institusi lokal Indonesia langsung tercatat abadi dalam sejarah sains dunia.

Kombinasi Analisis Canggih Berbasis DNA dan Keunikan Kumbang Hutan

Buat menentukan kalau serangga-serangga kecil ini beneran spesies baru dan bukan sekadar mirip, tim peneliti gak mau setengah-setengah dalam melakukan pengujian.

Mereka mengombinasikan dua pendekatan canggih, yaitu analisis morfologi dengan membandingkan karakteristik fisik spesimen di berbagai museum serangga dunia, serta analisis molekuler berbasis DNA.

Jadi, kalau hasil ekstraksi menunjukkan adanya perbedaan sekuens genetik yang signifikan dengan basis data internasional, barulah sah dinobatkan sebagai spesies baru.

Cara hidup kumbang ambrosia yang ditemukan ini juga tergolong unik banget dan estetik secara biologi karena mereka hidup bersimbiosis dengan jamur.

Serangga ini bakal membuat terowongan kecil di dalam kayu atau ranting kering dari pohon pinus, kopi, hingga sonokembang, lalu menumbuhkan jamur di sana sebagai sumber makanan utama mereka.

Makanya, tim peneliti harus jeli dan telaten banget mengumpulkan sampel dari berbagai jenis ranting kering yang jatuh di tanah kawasan UB Forest.

Disimpan di Museum Nasional dan Ambisi Jadi Pionir Riset Dunia

Biar aman dan bisa dipelajari sama generasi masa depan, spesimen Amasa brawijaya kini sudah disimpan rapi di Museum Zoologicum Bogoriense (MZB) yang dikelola langsung oleh BRIN.

Penyimpanan ini krusial banget sebagai koleksi ilmiah resmi sekaligus referensi utama riset biodiversitas Indonesia ke depan. Langkah ini juga menegaskan posisi strategis hutan tropis Jawa Timur yang punya potensi besar sebagai laboratorium alam berskala internasional.

Lewat kesuksesan besar ini, UB punya ambisi besar buat menjadi pionir sekaligus pusat penelitian kumbang ambrosia terdepan di Indonesia.

Mengingat kajian soal serangga jenis ini masih sangat terbatas di dalam negeri, UB pengin terus memperluas jejaring riset global mereka ke depan.

Jadi, siapa pun pakar dunia yang nantinya mau belajar atau meneliti soal kumbang ambrosia, mereka bakal datang dan berkolaborasi langsung ke kampus bumi Arema ini.

Statement:

Prof. Dr. Agr. Sc. Hagus Tarno, Guru Besar UB

“Kami ingin nama Brawijaya tidak hanya dikenal sebagai perguruan tinggi, tetapi juga menjadi bagian dari sejarah sains dunia. Ketika orang mencari atau mempelajari spesies ini, mereka akan mengetahui bahwa spesies tersebut ditemukan melalui penelitian yang dilakukan di Universitas Brawijaya. Karena itu, kami banyak mengambil sampel dari berbagai jenis ranting dan kayu di UB Forest.”

3 Poin Penting:

  • Kolaborasi Riset Global: Tim peneliti Universitas Brawijaya sukses berkolaborasi dengan University of Florida, Michigan State University, dan BRIN untuk menemukan empat spesies kumbang baru di UB Forest.

  • Penamaan Berbasis Identitas Lokal: Salah satu spesies baru diberi nama Amasa brawijaya sebagai penghormatan terhadap kampus UB dan warisan sejarah Kerajaan Majapahit agar tercatat dalam sejarah sains dunia.

  • Metode Pengujian Modern: Proses identifikasi kumbang menggunakan kombinasi analisis morfologi museum dunia dan analisis molekuler berbasis DNA untuk memastikan perbedaan genetik yang valid.

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

24 Jam

Sepekan