Search

Bumi Makin Gerah! Pakar UGM Sebut Indonesia Sudah Masuk Fase Darurat Iklim

Kamis, 9 Juli 2026

Kekeringan di Padang usai dilanda musibah banjir bandang (Humas Unand)

Ancaman perubahan iklim dewasa ini bukan lagi sekadar teori membosankan di dalam buku pelajaran, melainkan sebuah realitas yang makin nyata menghantam kehidupan kita sehari-hari.

Berdasarkan data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), periode tahun 2023 hingga 2025 resmi tercatat sebagai tiga tahun terpanas sepanjang sejarah pengamatan cuaca modern di Indonesia.

Situasi ini diperparah oleh laporan Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) yang memproyeksikan suhu rata-rata global pada periode 2026 hingga 2030 bakal melonjak drastis pada kisaran 1,3 hingga 1,9 derajat Celcius di atas tingkat masa pra-industri.

Lonjakan suhu ekstrem inilah yang menjadi dalang utama di balik rentetan bencana alam yang belakangan ini sering melanda, mulai dari kekeringan parah hingga banjir bandang.

Menanggapi situasi yang kian mengkhawatirkan ini, Dosen Departemen Geografi Lingkungan Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Emilya Nurjani, S.Si., M.Si., angkat bicara.

Menurutnya, rentetan fenomena alam yang ekstrem ini menjadi bukti valid bahwa Indonesia tidak lagi sekadar menghadapi perubahan cuaca biasa, melainkan sudah melangkah masuk ke dalam fase krisis iklim yang butuh penanganan super cepat.

Efek Domino Krisis Lingkungan Mulai Mengancam Isi Piring Nasi Kita

Secara ilmiah, peningkatan suhu udara global memiliki efek domino yang merusak tatanan hidup manusia dari hulu ke hilir.

Ketika bumi semakin panas, konsumsi air makhluk hidup otomatis meningkat drastis, proses penguapan air (evaporasi) berjalan lebih cepat, dan risiko kekeringan ekstrem mengintai di depan mata.

Parahnya lagi, siklus hujan kini menjadi sangat acak dan sulit ditebak, sehingga awal musim kemarau maupun musim hujan terus bergeser dari kalender normal yang biasa dipahami oleh para petani.

Ketika hujan akhirnya turun, intensitas curah hujan yang dihasilkan sering kali berada di level ekstrem hingga memicu bencana banjir, tanah longsor, hingga terjangan angin kencang.

Sektor yang paling pertama dan paling parah terkena dampaknya adalah sektor pertanian akibat perubahan pola tanam, ancaman gagal panen, hingga serangan hama yang menurunkan produktivitas.

Dalam jangka pendek, krisis ini akan langsung memukul produktivitas kerja karena maraknya gangguan kesehatan serta melonjaknya tagihan listrik akibat penggunaan pendingin ruangan.

Gara-Gara Hutan Beton, Suhu Kota Makin Terasa Memanggang

Salah satu solusi krusial yang ditawarkan untuk mengatasi masalah ini adalah dengan merombak total cara pemerintah dalam merancang tata ruang kota dan daerah.

Pertimbangan risiko iklim wajib dimasukkan sebagai poin utama dalam penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) maupun Rencana Detail Tata Ruang (RDTR).

Pembangunan infrastruktur yang ugal-ugalan tanpa memikirkan daya dukung lingkungan terbukti memicu lahirnya fenomena Urban Heat Island atau efek pulau panas buatan di area perkotaan.

Fenomena ini terjadi karena hilangnya kawasan resapan air dan maraknya alih fungsi hutan menjadi bangunan beton, ditambah urbanisasi yang tidak terkendali di zona berbahaya.

Sebagai obat penawar untuk kota yang telanjur gerah, sistem tata kelola ruang berbasis alam (nature-based solution) harus segera diterapkan secara masif.

Pemerintah didorong untuk memperbanyak pembangunan blue and green infrastructure (infrastruktur biru dan hijau) melalui pembuatan taman kota yang luas, koridor hijau, serta optimalisasi badan-badan air.

Strategi Ganda Lintas Generasi demi Selamatkan Masa Depan

Guna menghadapi masa depan bumi yang penuh ketidakpastian, diperlukan strategi ganda yang digerakkan secara bergotong-royong oleh pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan generasi muda.

Strategi tersebut mencakup dua langkah wajib yang tidak bisa ditawar lagi, yaitu mitigasi untuk mengurangi penyebab dan adaptasi untuk mengurangi dampak.

Langkah nyata dekarbonisasi harus digenjot dengan cara memotong emisi gas rumah kaca dan beralih secara masif ke pemanfaatan energi terbarukan yang lebih bersih.

Selain itu, rehabilitasi besar-besaran pada benteng alami seperti hutan mangrove di pesisir pantai dan lahan gambut wajib dilakukan karena kapasitasnya sebagai penyerap karbon raksasa.

Pembangunan infrastruktur air modern seperti embung atau waduk juga harus diperbanyak sebagai stok cadangan saat musim kemarau panjang melanda.

Terakhir, literasi iklim masyarakat harus terus ditingkatkan lewat edukasi massal agar kapasitas warga dalam menghadapi risiko bencana bisa lebih mandiri, cekatan, dan tangguh.

Statement:

Dr. Emilya Nurjani, S.Si., M.Si. (Dosen Departemen Geografi Lingkungan UGM

“Fenomena perubahan iklim yang terjadi di Indonesia telah menimbulkan dampak yang lebih besar dan mengakibatkan gangguan terhadap kehidupan manusia sehingga dapat disebut sebagai krisis iklim karena memerlukan tindakan segera.”

“Kenaikan suhu bumi yang terus berlangsung menjadi bukti bahwa berbagai upaya pengurangan emisi karbon yang dilakukan negara-negara di dunia belum mampu menekan laju pemanasan global secara signifikan.”

“Menghadapi perubahan iklim perlu menggabungkan mitigasi dan adaptasi, yaitu mengurangi penyebab perubahan iklim dan mengurangi dampak yang ditimbulkan.”

3 Poin Penting:

  • Indonesia Masuk Darurat Iklim: Data BMKG menunjukkan periode 2023–2025 sebagai tahun-tahun terpanas dalam sejarah Indonesia, yang menjadi bukti nyata bahwa negara ini telah memasuki fase krisis iklim darurat.

  • Ancaman Ketahanan Pangan: Lonjakan suhu global merusak siklus cuaca, menyebabkan risiko gagal panen akibat kekeringan atau banjir ekstrem, yang secara langsung mengancam stabilitas pangan nasional.

  • Solusi Tata Ruang Hijau: Pakar UGM merekomendasikan penerapan nature-based solution melalui pembangunan infrastruktur biru dan hijau guna meredam efek Urban Heat Island di perkotaan.

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

24 Jam

Sepekan