Pembalap muda asal Indonesia, Veda Ega Pratama, kembali menunjukkan taji dan mental petarung dalam lanjutan ajang balap internasional Moto3 2026.
Mengaspal di Sirkuit Sachsenring akhir pekan lalu, rider andalan tanah air ini sukses menyajikan tontonan epik dengan melakukan aksi comeback yang sangat memukau.
Start dari barisan belakang tepatnya posisi ke-13, Veda Ega berhasil merangsek naik melewati garis finis di urutan ke-8 sekaligus mengamankan poin penting di zona 10 besar.
Hasil manis yang diraih oleh Veda Ega Pratama ternyata berbanding terbalik dengan nasib sial yang menimpa rivalnya dari Malaysia, Hakim Danish.
Pembalap tim MSi yang sebenarnya diuntungkan karena memulai balapan dari posisi start ketiga (front row) justru harus melorot drastis hingga terlempar ke peringkat ke-12.
Kegagalan mempertahankan posisi di barisan terdepan ini membuat publik penasaran mengenai kendala teknis apa yang sebenarnya mengadang laju pembalap asal Negeri Jiran tersebut.
Dilema Pilihan Kompon Keras yang Bikin Performa Motor Kehilangan Daya Cengkeram
Selidik punya selidik, Hakim Danish mengaku sudah merasa kurang percaya diri sejak sesi latihan bebas akibat masalah stabilitas pada motornya.
Ia menjelaskan bahwa timnya sempat menemukan angin segar saat kualifikasi karena motor terasa sangat lincah dan memiliki daya cengkeram mumpuni berkat penggunaan ban berkompon lunak (soft tyre).
Namun, tantangan sesungguhnya muncul saat mereka harus menentukan strategi terbaik untuk menghadapi sesi balapan utama yang menguras fisik sepanjang 23 putaran.
Demi menjaga ketahanan performa hingga akhir balapan, pembalap berusia 18 tahun tersebut akhirnya mengambil keputusan berisiko dengan beralih menggunakan ban berkompon keras (hard tyre).
Keputusan taktis ini justru menjadi bumerang yang menghancurkan impiannya untuk naik podium di Moto3 Jerman.
Menggunakan ban keras di Sirkuit Sachsenring membuat motor Hakim Danish kehilangan cengkeraman (grip) yang ideal pada bagian roda belakang sejak lampu hijau menyala.
Perjuangan Keras Menembus Barisan Depan dan Ambisi Evaluasi Paruh Musim
Kehilangan grip belakang sejak awal balapan membuat kendali motor menjadi sangat liar dan sulit dipacu pada kecepatan maksimal saat melibas tikungan demi tikungan Sachsenring.
Pembalap asal Terengganu ini mengaku sudah berjuang mati-matian untuk mengendalikan situasi dan mencoba mengejar ketertinggalan dari kelompok pembalap terdepan.
Namun, kombinasi karakteristik trek Jerman yang teknis dan ban yang tidak kunjung mencapai suhu optimal membuat usahanya berujung sia-sia.
Sementara Hakim Danish sibuk menjinakkan motornya yang tidak stabil, podium tertinggi Moto3 Jerman sendiri akhirnya sukses direbut oleh pembalap andalan KTM, Brian Uruarte.
Menanggapi hasil mengecewakan di paruh pertama kompetisi musim ini, Hakim Danish bertekad untuk tidak berlarut-larut dalam kesedihan.
Ia berjanji akan memanfaatkan momentum jeda pertengahan musim balap 2026 secara maksimal untuk melakukan evaluasi total bersama tim mekaniknya.
Fokus Benahi Kelemahan Demi Tampil Lebih Gahar di Seri Lanjutan Moto3
Rider belia ini sadar betul bahwa persaingan di kelas Moto3 sangat ketat dan tidak memberikan ruang bagi pembalap yang melakukan kesalahan strategi.
Istirahat paruh musim ini akan ia dedikasikan penuh untuk latihan fisik intensif serta menganalisis data telemetri motor guna menemukan solusi atas masalah ban yang kerap menghantui.
Langkah evaluasi ini sangat krusial agar dirinya bisa kembali kompetitif dan merebut poin penuh pada sisa seri balapan yang masih panjang.
Aksi saling sikut antara pembalap Asia Tenggara seperti Veda Ega Pratama dan Hakim Danish di panggung dunia ini tentu semakin menarik untuk dinantikan kelanjutannya.
Keberhasilan Veda finis di depan Hakim membuktikan bahwa pembalap Indonesia memiliki potensi besar untuk bersinar di kancah eropa.
Kini, fokus para pencinta balap motor bersiap tertuju pada seri berikutnya, di mana adaptasi strategi ban dipastikan kembali menjadi kunci penentu kemenangan.
Statement:
Hakim Danish
“Minggu ini cukup sulit bagi saya. Sejak sesi latihan, saya tidak merasa terlalu percaya diri, tetapi setiap sesi saya mencoba untuk memperbaiki masalah yang saya hadapi. Selama sesi kualifikasi saya menggunakan ban lunak untuk melakukan time attack dan saya pikir cengkerapannya sangat bagus. Namun untuk balapan, saya menggunakan ban keras karena balapan di sini cukup panjang, 23 lap.”
“Saya kesulitan dengan cengkeraman pada ban belakang sejak awal balapan. Saya mencoba mengatasinya sebaik mungkin dan mengejar kelompok terdepan, tetapi itu cukup sulit. Saya akan terus bekerja keras dan memperbaiki kelemahan saya sehingga saya dapat tampil lebih baik dalam balapan setelah jeda pertengahan musim.”
3 Poin Penting:
-
Performa Apik Veda Ega: Pembalap Indonesia Veda Ega Pratama sukses finis di posisi ke-8 pada Moto3 Jerman 2026 setelah melakukan aksi impresif dari posisi start ke-13.
-
Kendala Ban Hakim Danish: Mengawali balapan dari posisi ke-3, Hakim Danish melorot ke posisi ke-12 akibat kehilangan daya cengkeram (grip) ban belakang setelah memilih ban berkompon keras.
-
Misi Evaluasi Paruh Musim: Hakim Danish berencana memanfaatkan masa jeda pertengahan musim kompetisi Moto3 untuk membenahi masalah teknis motornya agar tampil lebih kompetitif di seri berikutnya.
![Marc Marquez [dok. web]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/library_upload_24_2026_02_marc-marquez-2_b13a414-300x150.jpg)


