Aktor Jonathan Frizzy baru-baru ini blak-blakan membongkar sisi gelap kehidupan di balik jeruji besi yang selama ini tertutup rapat dari publik.
Ia membagikan kisah pilu mengenai perjuangannya bertahan hidup di dalam sel penjara yang dinilainya sangat tidak layak selama enam bulan lamanya.
Penahanan tersebut harus ia jalani buntut dari kasus hukum terkait penyalahgunaan vape obat keras yang mengandung zat etomidate.
Pengalaman kelam itu ia gambarkan sebagai masa-masa paling traumatis karena harus berbagi ruang dengan puluhan narapidana dalam kondisi sanitasi yang sangat buruk.
Kondisi kepadatan penghuni penjara atau overcrowding menjadi siksaan fisik dan mental utama bagi sang aktor selama masa penahanan.
Dalam satu ruangan sempit, ia dipaksa berdesakan dengan puluhan orang lainnya yang membuat privasi dan kenyamanan menjadi hal yang mustahil didapatkan.
Ruang gerak yang teramat terbatas ini pada akhirnya memaksa setiap tahanan untuk memutar otak dan mencari cara ekstrem hanya demi bisa memejamkan mata dan beristirahat.
Tidur Berdiri dan Antrean Panjang Satu Kamar Mandi untuk Puluhan Orang
Keterbatasan ruang yang ekstrem membuat rutinitas tidur di dalam sel berubah menjadi perjuangan yang luar biasa berat.
Jonathan Frizzy menceritakan bahwa para tahanan harus menerapkan berbagai posisi yang tidak masuk akal agar semua orang bisa mendapatkan giliran berbaring atau sekadar bersandar.
Situasi ini mencerminkan betapa daruratnya kapasitas hunian di dalam lembaga pemasyarakatan tersebut.
Keterbatasan fasilitas tersebut tidak hanya berdampak pada ruang gerak dan jam tidur, melainkan juga berimbas parah pada akses terhadap kebersihan para warga binaan.
Kondisi Toilet Memprihatinkan dan Teror Tikus di Tempat Penyimpanan Makanan
Faktor higienitas menjadi persoalan pelik berikutnya karena perbandingan jumlah penghuni dan fasilitas sanitasi yang tersedia sangat tidak seimbang.
Jonathan Frizzy mengungkapkan betapa sulitnya untuk sekadar membersihkan diri atau menggunakan toilet umum di dalam sel karena harus mengantre dengan puluhan orang lainnya.
Pembagian fasilitas yang tidak manusiawi ini membuatnya merasa sangat tertekan selama menjalani masa hukuman.
Rasa trauma yang dialaminya semakin menebal ketika ia harus berurusan dengan jatah makanan harian yang standar kebersihannya berada pada level yang sangat memuakkan.
Ia bahkan menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana hewan pengerat seperti tikus bebas berkeliaran dan masuk ke dalam area penyimpanan makanan sebelum hidangan tersebut dibagikan kepada para tahanan.
Awal Mula Kasus Hukum dan Momen Menghirup Udara Bebas
“Tuh lihat di depan, lagi dimakanin tikus. Terus dibawa masuk, mereka makan. Aku gak makan, cuma aku nangis,” bebernya saat mengingat momen krusial tersebut.
Pengalaman buruk urusan logistik ini membuatnya memilih untuk menahan lapar daripada harus mengonsumsi makanan yang sudah tercemar.
Kisah masa lalu ini menjadi catatan kelam setelah dirinya terseret kasus hukum pada Mei 2025 akibat penyalahgunaan vape yang mengandung obat keras berisi zat etomidate.
Rangkaian proses persidangan panjang tersebut akhirnya mencapai puncaknya pada sidang putusan tanggal 22 Oktober 2025 di Pengadilan Negeri Tangerang.
Majelis Hakim secara resmi menyatakan bahwa sang aktor bersalah dan menjatuhkan vonis hukuman berupa 8 bulan penjara.
Namun, masa-masa sulit di dalam jeruji besi itu kini telah berakhir karena ia telah dinyatakan bebas dari penjara sejak 7 Januari 2026 setelah mendapatkan program Cuti Bersyarat (CB) dari Lapas Pemuda Kelas IIA Tangerang.
Statement:
Jonathan Frizzy, Aktor
“Tidurnya, tiduran tidur posisi yang pertama. Yang posisi kedua tiduran duduk. Posisi ketiga tiduran berdiri. Karena nggak ada tempat sudah.”
“Tujuh puluh orang, kamar mandi satu satu saja. Itu aku gak bisa mandi, gak bisa ngapa-ngapain, gak bisa buang apa semuanya gak bisa di sana. Gila ini neraka apa yang Tuhan kasih sih gitu.”
3 Poin Penting:
-
Trauma Kepadatan Sel Penjara: Jonathan Frizzy membagikan pengalaman traumatisnya selama enam bulan di penjara yang sangat padat, bahkan para tahanan harus tidur dengan posisi duduk hingga berdiri akibat tidak adanya ruang.
-
Sanitasi dan Logistik Buruk: Fasilitas sanitasi di dalam blok tahanan sangat timpang karena satu kamar mandi harus digunakan oleh 70 orang, ditambah adanya temuan makanan napi yang tercemar oleh tikus di area penyimpanan.
-
Jalur Hukum dan Kebebasan: Kasus ini bermula dari penyalahgunaan vape obat keras zat etomidate pada Mei 2025 dengan vonis 8 bulan penjara, hingga akhirnya ia resmi bebas pada 7 Januari 2026 melalui program Cuti Bersyarat (CB).



