Search

Meta Digugat Terkait Dampak Instagram ke Mental Remaja, Abaikan Riset Demi Cuan?

Rabu, 29 Juli 2026

Kantor meta (ist)

Bahaya media sosial bagi kesehatan mental anak dan remaja terus menjadi sorotan tajam pemerintah di berbagai negara, tak terkecuali Indonesia.

Raksasa teknologi Meta Platforms, induk perusahaan dari Instagram, Facebook, WhatsApp, hingga Threads, kembali menghadapi tekanan hukum bertubi-tubi di meja hijau.

Meta didesak untuk lebih serius memastikan keamanan platform miliknya bagi pengguna di bawah umur.

Namun, alih-alih berbenah, sejumlah pihak menilai raksasa media sosial tersebut lebih memprioritaskan keuntungan finansial ketimbang menjaga keselamatan anak muda.

Kabar terbaru dari persidangan di Nashville, Tennessee, menyebutkan bahwa jajaran pimpinan Meta sengaja mengabaikan riset internal mengenai dampak buruk Instagram terhadap mental remaja demi mengejar pendapatan iklan yang maksimal dari para pengguna muda.

Fitur Adiktif Dituduh Picu Gangguan Mental dan Kecanduan

Pengacara pemerintah negara bagian Tennessee mengungkapkan bahwa para peneliti internal Meta sebenarnya telah berulang kali memperingatkan bahaya penggunaan platform secara kompulsi oleh kalangan remaja.

Peringatan tersebut menyoroti bagaimana platform dapat memicu gangguan makan, depresi berat, hingga aksi melukai diri sendiri. Kendati mengetahui risiko itu, Meta enggan mematikan fitur adiktif seperti autoplay, notifikasi, dan infinite scroll.

Desain fitur tersebut dituding sengaja dirancang untuk menahan remaja berlama-lama di Instagram demi mendongkrak tayangan iklan secara masif.

Dalam persidangan, pengacara pemerintah bahkan memutar suara denting notifikasi ponsel untuk menjelaskan bagaimana imbalan tak terduga memicu lonjakan dopamin yang memicu kecanduan fatal pada otak anak.

Bantahan Meta dan Tuntutan Perubahan Total Sistem Platform

Gugatan resmi yang dilayangkan oleh Jaksa Agung Tennessee, Jonathan Skrmetti, kini menuntut sanksi finansial berat serta perintah pengadilan yang mewajibkan Instagram mengubah total arsitektur platformnya.

Jika juri memutuskan Meta bersalah, proses hukum akan berlanjut ke tahap penentuan denda dan kewajiban perombakan fitur di bawah kepemimpinan Hakim Russell Perkins.

Di sisi lain, kubu Meta Platforms dengan tegas membantah seluruh tuduhan manipulasi tersebut.

Kuasa hukum Meta menyatakan bahwa dokumen-dokumen internal yang beredar justru menjadi bukti nyata bahwa perusahaan bersikap transparan dan aktif mendeteksi masalah untuk segera diperbaiki demi keamanan pengguna.

Gelombang Gugatan Global Mengintai Raksasa Media Sosial

Meta berargumen bahwa masalah kesehatan mental, gangguan depresi, hingga risiko kecanduan teknologi tidak bisa ditimpakan sepenuhnya kepada perusahaan.

Pihaknya mengklaim telah mengembangkan berbagai fitur pembatas waktu (time limit) serta memberikan kontrol penuh kepada orang tua dan pendidik untuk mendampingi aktivitas digital anak-anak mereka.

Meski demikian, gelombang gugatan hukum terhadap Meta dipastikan belum akan mereda dalam waktu dekat.

Hampir seluruh negara bagian di Amerika Serikat kini telah melayangkan gugatan serupa, menyusul ribuan tuntutan hukum lain yang diajukan secara independen oleh ratusan distrik sekolah dan orang tua korban di seluruh dunia.

Statement:

Tom Cartmell, Pengacara Pemerintah Negara Bagian Tennessee

“Meta memahami ilmu saraf di balik alasan mengapa para remaja begitu sulit lepas dari platformnya. Fitur seperti notifikasi dan infinite scroll pada dasarnya bertolak belakang dengan kesejahteraan pengguna, tetapi peringatan ini tidak pernah disampaikan ke publik.”

Kevin Huff, Pengacara Meta Platforms

“Kami yakin bukti akan menunjukkan bahwa Meta menjalankan perannya dan memberdayakan pihak lain untuk melakukan bagian mereka, karena melindungi remaja di dunia maya adalah tanggung jawab bersama. Membutuhkan peran seluruh lapisan masyarakat.”

3 Poin Penting:

  • Dugaan Abaikan Riset Internal: Meta Platforms dituduh sengaja mengabaikan riset internal soal dampak negatif Instagram terhadap mental remaja demi mengejar keuntungan iklan.

  • Fitur Pemicu Kecanduan: Fitur infinite scroll, autoplay, dan notifikasi dinilai memicu lonjakan dopamin serta kecanduan yang memicu gangguan makan hingga depresi pada anak.

  • Tuntutan Perubahan Total: Gugatan negara bagian Tennessee menuntut sanksi finansial dan perintah pengadilan agar Meta mengubah sistem platformnya agar lebih aman bagi remaja.

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

24 Jam

Sepekan