Di tengah kepungan bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang membakar sebagian besar wilayah Kalimantan, ada pemandangan menarik yang terjadi di kawasan bagian tengah pulau ini.
Berbeda dengan area lain yang dipenuhi titik panas, kawasan hutan di bagian tengah Kalimantan justru relatif aman dan minim titik api. Fenomena ini membuktikan betapa tangguhnya alam dalam menjaga dirinya sendiri ketika tutupan pohonnya masih utuh.
Kondisi tutupan hutan yang masih terjaga rapat serta minimnya aktivitas pembukaan lahan skala besar menjadi kunci utama kawasan ini bertahan di tengah musim kemarau panjang.
Hutan primer yang belum terjamah mampu menjaga kelembapan tanah dan udara secara alami, sehingga tidak mudah tersulut kobaran api meskipun cuaca di sekitarnya sangat terik dan mengering.

Kelembapan Alami Hutan Primer dan Sebaran Titik Api
Pendiri Conservation Action Network (CAN) Borneo, Paulinus Kristanto, menjelaskan bahwa minimnya titik api di jantung Kalimantan bukan semata-mata karena akses lokasinya yang sulit dijangkau manusia.
Menurutnya, kondisi tutupan hutan yang masih rapat menjadi benteng utama yang membedakan kawasan ini dengan area yang sudah terdegradasi akibat pembalakan atau pembukaan lahan.
Hutan tropis dengan tutupan yang baik memiliki kemampuan luar biasa dalam menyimpan cadangan air dan menahan laju penguapan saat kemarau ekstrem.
Sebaliknya, pola sebaran titik panas di aplikasi pemantauan kebakaran seperti SiPongi menunjukkan bahwa mayoritas api justru membakar area-area terbuka yang tutupan hutannya sudah rusak, bukan di kawasan hutan primer yang masih alami.
Bukti Nyata Kawasan Hutan Lindung di Kalimantan Timur
Kondisi ketahanan hutan ini bisa diamati langsung pada sejumlah kawasan konservasi di Kalimantan Timur.
Kawasan penting seperti Hutan Lindung Wehea, Hutan Lindung Lesan, hingga tutupan hutan di sekitar Gunung Kong Kemul terbukti bersih dari sebaran titik api utama.
Hal ini menegaskan bahwa kemarau parah sekalipun belum mampu menembus pertahanan alami hutan primer yang masih sehat.
Fenomena ini menjadi bukti konkret bahwa faktor utama pemicu karhutla bukanlah keberadaan aktivitas manusia semata, melainkan perubahan kondisi fisik lahan akibat pembersihan hutan (land clearing).
Ketika pohon-pohon penyangga hilang, lahan menjadi sangat kering dan sangat rentan beruba menjadi lautan api begitu ada pemantik sekecil apa pun.
Tantangan Pemadaman dan Keterbatasan Personel Tim Satgas
Meskipun upaya pemadaman terus digencarkan oleh berbagai unsur mulai dari BPBD, Manggala Agni, hingga dinas pemadam kebakaran daerah, eskalasi titik api di area terbuka tetap sulit dikendalikan.
Jumlah armada dan personel pemadam di lapangan sering kali tidak sebanding dengan luasnya area yang terbakar yang mencapai puluhan hingga ratusan hektare.
Kondisi geografis yang luas serta keterbatasan teknologi pemadaman skala besar makin mempertegas bahwa aksi responsif di lapangan memiliki batas kemampuan.
Oleh karena itu, langkah pencegahan melalui perlindungan ketat terhadap tutupan hutan yang tersisa menjadi jauh lebih krusial ketimbang hanya mengandalkan aksi pemadaman saat api sudah terlanjur membesar.
Perlindungan Hutan Sebagai Solusi Jangka Panjang
Melihat realita di lapangan, menjaga keberadaan hutan primer yang tersisa adalah investasi terbaik untuk mencegah bencana karhutla berulang di masa depan.
Menjaga tutupan pohon tetap rapat tidak hanya menyelamatkan keanekaragaman hayati, tetapi juga melindungi ruang hidup masyarakat dari ancaman bahaya kabut asap.
Sinergi antara pemerintah, aktivis lingkungan, dan masyarakat lokal sangat dibutuhkan untuk menghentikan praktik pembakaran lahan secara sembarangan.
Dengan membiarkan hutan primer tetap utuh, Kalimantan akan memiliki benteng pertahanan alami yang tangguh dalam menghadapi ancaman perubahan iklim dan kemarau ekstrem di tahun-tahun mendatang.
Statement:
Paulinus Kristanto (Founder Conservation Action Network/CAN Borneo
“Hutan dengan tutupan yang masih baik memiliki kemampuan lebih besar mempertahankan kelembapan di tengah kemarau panjang. Kekuatan hutan itu masih besar untuk menahan kondisi kekeringan yang cukup tinggi saat ini.”
“Jadi titik api itu sebenarnya tidak ada di dalam hutan primer sampai saat ini. Karena kemarau yang terjadi saat ini walaupun kita bilang ‘Godzilla’, itu belum mampu menyentuh area-area yang primer. Tenaga pemadaman dan teknologi kita belum cukup mumpuni untuk melakukan pemadaman skala besar, jadi pencegahan lewat perlindungan tutupan hutan itu yang paling penting.”
3 Poin Penting:
-
Jantung Kalimantan Minim Titik Api: Kawasan hutan tengah Kalimantan relatif aman dari karhutla karena tutupan hutan primer masih terjaga rapat dan mampu mempertahankan kelembapan di tengah kemarau panjang.
-
Titik Api Mendominasi Lahan Terbuka: Data pemantauan SiPongi menunjukkan titik api mayoritas berada di area yang pernah dibuka atau terdegradasi, sementara hutan lindung seperti Wehea dan Lesan terbukti bebas dari pusat api.
-
Pentingnya Pencegahan dan Perlindungan Hutan: Keterbatasan jumlah personel Manggala Agni dan BPBD membuktikan bahwa pemadaman di lapangan tidak sebanding dengan luas kebakaran, sehingga menjaga tutupan hutan adalah solusi pencegahan utama.





