Search
Search
Search

Sungai Kapuas Mengering Bak Gurun Pasir, Wamen ESDM Tegaskan Kapal Tongkang Kandas Murni Faktor Alam

Kamis, 3 September 2026

Sungai Kapuas Kering (dok. Antara Foto)

Fenomena tak biasa tengah menyedot perhatian publik di ranah media sosial. Sungai Kapuas di Kalimantan Barat, yang selama ini menjadi salah satu urat nadi utama jalur distribusi batu bara via kapal tongkang, dilaporkan mengalami kekeringan parah.

Dampak dari musim kemarau panjang yang menerjang selama empat bulan terakhir membuat debit air sungai menyusut drastis hingga menyajikan pemandangan yang sekilas tampak bak gurun pasir membentang.

Dampak langsung dari fenomena kekeringan ini membuat operasional kapal tongkang pengangkut hasil tambang mendadak ‘mandek’ dan tak bisa berlayar.

Sejumlah kapal dilaporkan terdampar hingga berbulan-bulan di tengah alur sungai yang mengering. Kondisi ini pun sempat memicu beragam spekulasi liar di tengah masyarakat terkait kelancaran pasokan logistik energi nasional.

Bantahan Wamen ESDM dan Kendala Teknis Pendangkalan Jalur Sungai

Menanggapi berbagai desas-desus yang beredar, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) langsung memberikan klarifikasi tegas.

Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung membantah keras anggapan yang menyebut terhambatnya mobilisasi kapal tongkang disebabkan oleh adanya kebijakan pembatasan kuota produksi batu bara dari pemerintah.

Pihaknya menegaskan bahwa persoalan di lapangan murni disebabkan oleh faktor teknis kedalaman air yang menyusut.

Yuliot menjelaskan bahwa penurunan debit air secara drastis membuat kedalaman sungai tidak lagi memenuhi standar keselamatan pelayaran bagi kapal-kapal bertonase besar.

Akibatnya, alur transportasi logistik pertambangan di wilayah Kalimantan mengalami hambatan alami dan terpaksa dihentikan sementara hingga curah hujan kembali normal dan meningkatkan debit air sungai.

Kapal Tongkang Kandas Tiga Bulan dan Munculnya Destinasi Wisata Dadakan

Kondisi mengeringnya alur sungai ini terpotret makin jelas lewat berbagai unggahan viral di media sosial, salah satunya oleh akun Instagram @atr.drone.

Dalam unggahan visual tersebut, terlihat sebuah kapal tongkang berukuran raksasa terdampar dan kandas hampir tiga bulan di tengah perairan Sungai Kapuas yang surut, tepatnya di kawasan Kampung Sungai Raya, Kecamatan Sekadau Hilir, Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat.

Menariknya, perubahan bentang alam ini justru menghadirkan fenomena unik di tengah penderitaan kemarau. Hamparan pasir dasar sungai yang kini tersingkap luas dimanfaatkan oleh warga lokal sebagai area wisata dadakan.

Masyarakat berbondong-bondong datang untuk berkumpul bersama keluarga, bersantai di ruang terbuka baru, hingga berburu foto panorama matahari terbenam dengan latar kapal tongkang yang kandas.

Efek Domino Logistik Tambang dan Harapan Normalisasi Cuaca

Kendati menjadi wahana rekreasi alternatif bagi warga sekitar, terhentinya jalur navigasi Sungai Kapuas tetap memberikan dampak signifikan terhadap rantai pasok komoditas tambang.

Kapal-kapal pengangkut batu bara di wilayah Kalimantan Barat dan sekitarnya terpaksa bersabar menunggu normalisasi kondisi perairan agar dapat kembali melanjutkan pelayaran menuju pelabuhan bongkar muat.

Kementerian ESDM terus memantau perkembangan situasi perairan di wilayah-wilayah terdampak kemarau panjang.

Pemerintah berharap peralihan musim dapat segera terjadi sehingga alur distribusi logistik vital nasional dapat kembali pulih sepenuhnya tanpa mengganggu pemenuhan kebutuhan energi di berbagai daerah.

Statement:

Yuliot Tanjung, Wakil Menteri ESDM

“Enggak, itu ya bukan karena dibatasi produksinya, karena air untuk ngalirin tongkangnya enggak ada air. Iya (sungai kering), he eh… Enggak, enggak. Itu ya saya cek itu kemarin di Kalimantan. Ya justru, ya karena sungainya mengering, tongkangnya enggak bisa jalan.”

3 Poin Penting:

  • Penyebab Sungai Kapuas Mengering: Musim kemarau panjang selama empat bulan membuat debit air Sungai Kapuas di Kalimantan Barat menyusut drastis hingga menyerupai gurun pasir.

  • Klarifikasi Kementerian ESDM: Wamen ESDM Yuliot Tanjung menegaskan kapal tongkang batu bara kandas murni karena air sungai mengering, bukan akibat pembatasan kuota produksi.

  • Wisata Dadakan Warga: Kandasnya kapal tongkang dan hamparan pasir sungai yang tersingkap justru dimanfaatkan warga Sekadau sebagai destinasi wisata dadakan.

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

Rame 24 Jam

Rame Sepekan