Search
Search
Search

Duka Kasus Keracunan MBG di Karo: Febiola Hilang Ingatan Hingga 70%, Orang Tua Kesulitan Biaya

Selasa, 8 September 2026

Korban keracunan MBG (dok. KPPG Sumut)

Tragedi pilu akibat dugaan keracunan makanan pasca-konsumsi program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menyisakan duka mendalam bagi dunia pendidikan di Kabupaten Karo, Sumatra Utara.

Salah seorang korban, Febiola Br Purba, hingga kini masih harus menjalani perawatan medis secara intensif.

Kondisi kesehatan siswi ini sangat memprihatinkan setelah dokter menyatakan dirinya mengalami penurunan daya ingat secara drastis hingga menyentuh angka 70%.

Pihak keluarga korban mengaku kian kewalahan dan kebingungan mengatasi himpitan biaya pengobatan serta kebutuhan harian medis.

Ayah kandung korban, Icuk Sugiarto Purba, membeberkan bahwa sang anak kini harus dirawat secara maraton di lima rumah sakit berbeda sejak pertengahan Agustus 2026.

Situasi berat ini makin menghimpit lantaran kedua orang tua korban harus merelakan pekerjaan mereka demi mendampingi sang anak secara penuh di rumah sakit.

Kondisi Fisik Turun Drastis Laksana Balita dan Beban Biaya Pengobatan

Perkembangan kondisi fisik dan psikologis Febiola pasca-insiden terus menunjukkan penurunan yang memilukan. Icuk menceritakan bahwa tingkah laku dan ingatan anak keempatnya tersebut kini menyerupai balita berusia tiga tahun.

Febiola bahkan sudah tidak mampu mengenali teman sekelas, guru, barang-barang pribadi, hingga wajah adik kandung dan ayah kandungnya sendiri akibat dampak paparan racun atau bakteri di tubuhnya.

Selain kehilangan memori, proses pemulihan korban diprediksi membutuhkan waktu sangat panjang hingga satu tahun penuh dengan jadwal kontrol rutin sepekan sekali.

Beban ekonomi keluarga makin membengkak lantaran korban diwajibkan mengonsumsi susu khusus serta asupan nutrisi ketat sesuai resep dokter.

Tanpa adanya uluran tangan dan bantuan langsung dari pihak pemerintah, tabungan keluarga kecil tersebut kini telah terkuras habis.

Tuntutan Pertanggungjawaban Pihak Terkait dan Evaluasi Total Program MBG

Hancurnya kesehatan sang anak memicu desakan kuat dari pihak keluarga agar penyelenggara program MBG serta aparat penegak hukum segera turun tangan dan bertanggung jawab penuh.

Icuk menegaskan bahwa pada dasarnya program MBG memiliki niat yang sangat mulia bagi pemenuhan gizi anak sekolah.

Namun, terjadinya kasus keracunan berulang hingga merenggut kesehatan anak-anak mengindikasikan adanya unsur kelalaian fatal dalam tata kelola keamanan pangan.

Di sisi lain, tim medis yang menangani Febiola masih meneliti penyebab pasti gangguan saraf serta memori korban, antara pengaruh bakteri beracun atau racun jamur.

Keluarga berharap ada pengawalan medis mendalam dari dokter-dokter spesialis terbaik agar kondisi ingatan Febiola dapat dipulihkan kembali.

Evaluasi menyeluruh terhadap alur distribusi bahan makanan di lingkungan sekolah dipandang sebagai harga mati agar insiden serupa tak lagi memakan korban jiwa.

Ombudsman Sumut Catat 823 Korban Keracunan dan Minta SPPG Bermasalah Ditutup

Maraknya peristiwa keracunan akibat program MBG turut memantik perhatian serius dari Ombudsman RI Perwakilan Sumatra Utara.

Kepala Perwakilan Ombudsman Sumut, Herdensi Adnin, mengungkapkan fakta mengejutkan bahwa akumulasi korban keracunan MBG di wilayah Sumatra Utara telah menembus angka 823 siswa.

Data tersebut mencakup kejadian di Kabupaten Karo sebanyak 389 korban, Deli Serdang 11 korban, serta Pakpak Bharat sebanyak 16 korban.

Atas temuan kasus yang berulang ini, Ombudsman mendesak perbaikan tata kelola serta koordinasi antara Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dengan pemerintah daerah setempat.

Herdensi secara tegas merekomendasikan penutupan total bagi SPPG yang terbukti melakukan pelanggaran berat dan kelalaian dalam menjaga higienitas pangan.

Langkah tegas ini dinilai penting untuk mengamankan marwah program prioritas nasional sekaligus melindungi keselamatan jutaan anak sekolah.

Statement:

Icuk Sugiarto Purba, Ayah Korban Keracunan MBG

“Kami sejujurnya agak kesulitan dengan biaya, karena tidak mungkin hanya makan saja. Kadang-kadang harus membeli kebutuhan anak kami. Anak saya menurut dokter itu perawatannya tidak sebentar, harus dirawat selama setahun penuh.”

“Ya semuanya dia lupa, bertemu sama adiknya dan saya bapaknya dia sudah tidak kenal. Harapan saya sebetulnya program MBG itu sangat bagus, tapi karena sudah ada korban-korban seperti ini, ini sudah kelalaian.”

Herdensi Adnin, Kepala Perwakilan Ombudsman RI Sumatra Utara

“Program MBG ini merupakan program prioritas Presiden. Semestinya SPPG yang diamanatkan untuk mendukung keberhasilan program ini tidak kemudian menjadi hal yang mengganggu irama pencapaian target. Untuk SPPG yang melakukan kesalahan, terutama yang permasalahannya cukup berat, Ombudsman akan merekomendasikan untuk ditutup.”

3 Poin Penting:

  • Kondisi Kritis Korban: Siswi korban dugaan keracunan MBG di Karo, Febiola Br Purba, mengalami penurunan ingatan hingga 70% dan membutuhkan perawatan intensif selama satu tahun.

  • Kesulitan Ekonomi Keluarga: Orang tua korban terpaksa berhenti bekerja untuk mendampingi pengobatan anak dan kesulitan memenuhi biaya perawatan medis serta nutrisi khusus tanpa bantuan pemerintah.

  • Desakan Ombudsman Sumut: Ombudsman mencatat total 823 siswa di Sumut menjadi korban keracunan MBG dan merekomendasikan penutupan SPPG yang terbukti melakukan pelanggaran berat.

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

Rame 24 Jam

Rame Sepekan