Search
Search
Search

Puluhan Makam Kuno Bermunculan di Waduk Gajah Mungkur yang Surut Akibat Kemarau Panjang

Minggu, 13 September 2026

Makam kuno waduk gajah mungkur (dok. kompas.com)

Fenomena alam unik sekaligus sarat nostalgia kembali menyita perhatian publik di Kabupaten Wonogiri.

Akibat dampak musim kemarau panjang yang menguras debit air, puluhan makam kuno yang puluhan tahun terendam di dasar Waduk Gajah Mungkur (WGM) kini secara perlahan kembali bermunculan ke permukaan.

Kawasan pemakaman lawas tersebut tepatnya berlokasi di Desa Kenteng, Kelurahan Wuryantoro.

Deretan kijing berbahan batu kapur berwarna putih dengan ukuran rata-rata 1 hingga 1,5 meter itu mendadak menyajikan pemandangan layaknya situs sejarah misterius di tengah tandusnya dasar genangan waduk.

Makam Kuno Kelihatan Sejak Agustus dan Diperkirakan Terendam Kembali Akhir Tahun

Seorang warga setempat bernama Basuki (54) menuturkan bahwasanya pemandangan langka ini mulai tampak sejak akhir Agustus 2026.

Seiring menyusutnya air akibat sengatan kemarau, deretan kompleks makam yang terendam daratan waduk tersebut akan kian terlihat jelas secara keseluruhan dalam beberapa pekan ke depan.

Namun, kehadiran “kota mati” di dasar waduk ini sifatnya hanya sementara.

Puncak kemunculan batu nisan diprediksi bakal berlangsung hingga bulan Oktober, sebelum akhirnya kawasan tersebut diperkirakan kembali ditelan genangan air saat curah hujan meningkat sekitar bulan Desember mendatang.

Rekam Jejak Pembangunan Waduk dan Sejarah Bedhol Desa Zaman Orde Baru

Munculnya Makam Kenteng ini tidak bisa dilepaskan dari sejarah masa lalu proyek megah Waduk Gajah Mungkur yang mulai dibangun pada tahun 1978.

Sebelum kawasan tersebut digenangi air secara masif, wilayah Wuryantoro merupakan pemukiman padat penduduk yang dihuni oleh ribuan kepala keluarga.

Pembangunan bendungan raksasa kala itu memaksa warga setempat melakukan program bedhol desa atau transmigrasi massal ke luar Pulau Jawa, seperti Baturaja, Lampung, hingga Ketaun.

Kawasan pemukiman beserta sarana umum seperti tempat pemakaman pun terpaksa ditinggalkan dan ditenggelamkan demi proyek waduk.

Alasan Sebagian Jenazah Masih Bertahan di Dasar Waduk Gajah Mungkur

Meskipun sebagian keluarga sempat memindahkan kerangka sanak saudara mereka ke lokasi pemakaman baru saat air surut, mayoritas jasad tetap dibiarkan berada di tempat persemayaman aslinya.

Banyak ahli waris yang tidak sempat melakukan prosesi pemindahan kerangka karena lokasi tempat tinggal baru yang amat jauh.

Keterbatasan biaya serta minimnya waktu saat berada di perantauan menjadi alasan utama mengapa pemindahan makam urung dilakukan oleh pihak keluarga.

Alhasil, ratusan nisan batu kapur tersebut tetap bertahan di dasar waduk dan baru menyapa daratan saat musim kemarau ekstrem melanda.

Potensi Kemunculan Kompleks Makam Lain di Wilayah Perkotaan Wuryantoro

Tidak cuma di Desa Kenteng, fenomena munculnya makam lawas ini juga dilaporkan terjadi di wilayah sekitarnya seperti kawasan Pondok.

Hal ini terbilang wajar mengingat area Wuryantoro pada masa lampau merupakan pusat perkotaan padat penduduk yang memiliki beberapa titik pemakaman umum berskala besar.

Kehadiran situs makam yang rutin timbul dan tenggelam ini pun kini menjadi saksi bisu sejarah panjang pengorbanan masyarakat Wonogiri di masa lalu.

Warga lokal maupun wisatawan kerap memanfaatkan momen langka ini untuk menyaksikan secara langsung sisa-sisa peradaban yang sempat tenggelam puluhan tahun silam.

Statement:

Basuki, Warga Kelurahan Wuryantoro, Wonogiri

“Mulai kelihatan sebagian. Tapi untuk semuanya mungkin dari September, Oktober itu sudah kelihatan semuanya. Nanti mungkin Desember sudah mulai tergenang air lagi.”

“Ya mungkin ratusan mungkin ya, atau ribuan mungkin. Ini termasuk makam yang pertama kali mungkin di lingkungan Wuryantoro, di sini nih pemakamannya.”

“Kan dulu tempat penduduk, jadi masyarakat di wilayah di sini itu sebelum ada waduk Gajah Mungkur, ini semua termasuk desa-desa ini. Saya masih kecil waktu itu, tahun 80-an mungkin ini sudah kosong, warga masyarakat sebagian ya transmigrasi ke mungkin luar pulau Jawa.”

“Ini masih banyak yang masih ada jenazahnya, masih banyak. Itu yang dipindahkan ada tapi sebagian, tapi banyak yang tidak dipindahkan untuk saat ini.”

3 Poin Penting:

  • Fenomena Surutnya Air Waduk: Kemarau panjang menyebabkan air Waduk Gajah Mungkur surut dan memunculkan puluhan makam kuno batu kapur di Desa Kenteng, Wuryantoro, Wonogiri.

  • Saksi Bimbingan Bedhol Desa: Makam-makam tersebut merupakan peninggalan era sebelum pembangunan Waduk Gajah Mungkur tahun 1978 yang menenggelamkan desa-desa dan memicu transmigrasi massal warga.

  • Kondisi Jenazah & Siklus Musiman: Sebagian besar jenazah tidak dipindahkan oleh keluarga perantau karena kendala biaya dan jarak, sehingga kompleks makam ini akan rutin muncul saat kemarau dan terendam lagi saat musim hujan.

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

Rame 24 Jam

Rame Sepekan