Tren kesehatan mental dan pengembangan diri di kalangan anak muda kini makin ramah melingkupi gaya hidup sehari-hari.
Istilah mindfulness pun makin populer dan kerap berseliweran di media sosial sebagai jurus pamungkas untuk mengatasi stres hingga rasa cemas.
Namun, tidak sedikit orang yang keliru mengartikan mindfulness sekadar sebagai keharusan untuk selalu berpikir positif atau menerima keadaan secara mentah-mentah.
Banyak yang menganggap mindfulness berarti memaksa pikiran negatif agar instan berubah menjadi pikiran positif, atau malah pasrah tanpa melakukan respons apa pun.
Padahal, pemahaman yang keliru ini justru berpotensi menjebak seseorang dalam lingkaran toxic positivity. Mindfulness sejatinya bukanlah topeng untuk menutupi Emosi negatif yang sedang dirasakan seseorang.
Meluruskan Makna Acceptance dan Risiko Jadi Tone Deaf
Psikolog Klinis Maharani Octy Ningsih menegaskan bahwa konsep acceptance atau penerimaan dalam mindfulness tidak sesederhana kata “pasrah”.
Saat seseorang sedang terpuruk atau menghadapi konflik berat, ucapan untuk mendesak mereka agar langsung menerima keadaan justru bisa terasa menyinggung.
Wejangan semacam itu kerap dinilai kurang sensitif atau tone deaf jika disampaikan terlalu cepat tanpa empati.
Kesalahan umum terjadi ketika orang-orang terburu-buru menyuruh korban konflik rumah tangga atau orang yang berduka untuk langsung pasrah.
Padahal, sebelum sampai pada tahap menerima, ada proses penting untuk memvalidasi emosi yang hadir terlebih dahulu. Tanpa memahami apa yang sebenarnya sedang dirasakan, desakan untuk mindful hanya akan menjadi beban emosional baru.
Sarana Hadir Utuh dan Melihat Situasi Lebih Jernih
Secara mendasar, mindfulness hadir bukan sebagai benteng untuk bertahan di dalam situasi yang tidak sehat atau hubungan yang beracun.
Praktik ini bekerja sebagai sarana untuk menyadari dan mengamati apa yang sedang terjadi di saat ini secara jujur. Dengan mengakui kenyataan yang sedang dihadapi, seseorang dapat melihat situasi dengan pikiran yang lebih jernih dan objektif.
Kesadaran penuh ini membantu individu untuk tidak terburu-buru bereaksi secara impulsif saat diterpa masalah.
Mindfulness memberikan ruang jeda agar kita dapat memproses emosi dengan bijak sebelum menentukan langkah selanjutnya. Jadi, fokus utamanya terletak pada kedalaman kesadaran, bukan kepasrahan yang pasif tanpa arah.
Menentukan Respons Tepat Tanpa Memaksa Diri
Melalui refleksi kesadaran yang terasah, seseorang justru menjadi lebih berdaya untuk mengambil keputusan yang tepat. Mindfulness memberi keberanian bagi individu untuk bertanya pada diri sendiri mengenai tindakan nyata apa yang perlu diambil.
Apakah harus menyelesaikan masalah, mencari bantuan, atau bahkan melangkah keluar dari situasi yang tidak merusak kesehatan mental.
Pada akhirnya, melatih kesadaran penuh adalah tentang hadir secara utuh untuk diri sendiri di masa kini. Kita tidak perlu berpura-pura baik-baik saja di saat kondisi sedang tidak menyenangkan.
Dengan mempraktikkan mindfulness secara tepat, kesehatan mental dapat terjaga tanpa harus terjebak dalam kepasrahan semu atau kepura-puraan positif.
Statement:
Maharani Octy Ningsih, Psikolog Klinis
“Mindfulness adalah ketika kita bisa mengakui bahwa saat ini, inilah yang sedang terjadi, sehingga kita bisa melihat situasinya dengan lebih jernih, kemudian kita bisa menentukan apa yang perlu dilakukan.”
“Sebenarnya, kalimat tersebut belum tentu salah, tetapi bisa menjadi tone deaf kalau diberikan terlalu cepat, tanpa terlebih dahulu kita memahami apa yang sedang dirasakan oleh orang tersebut.”
“Karena sejatinya, mindful ini bukan menjadi alat untuk membuat seseorang lebih tahan terhadap situasi yang tidak sehat, tetapi ini juga bisa menjadi sarana untuk kita bisa merefleksikan kesadaran kita.”
3 Poin Penting:
-
Mindfulness Bukan Berpikir Positif Instan: Mindfulness tidak menuntut seseorang untuk langsung mengganti pikiran negatif menjadi positif atau sekadar pasrah pada keadaan tanpa tindakan.
-
Bahaya Sikap Tone Deaf: Menyuruh seseorang untuk langsung menerima keadaan tanpa memahami emosi yang sedang dirasakan dapat terdengar tone deaf dan tidak empati.
-
Sarana Mengambil Respons Tepat: Mindfulness berfungsi sebagai alat refleksi kesadaran untuk melihat situasi secara jernih sehingga seseorang mampu menentukan keputusan atau tindakan yang sehat.


![kesehatan [web]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/048351800_1616410248-Tidur-Sambil-Memakai-Masker-Medis-Berbahayakah-by-Envato-NFTM2BL.jpg-300x169.webp)
