Search
Search
Search

Bulan Perlahan Menjauh dari Bumi, Durasi Sehari Diprediksi Bakal 25 Jam

Kamis, 17 September 2026

Bumi dan bulan (shutterstock)

Sebuah fenomena antariksa yang cukup unik belakangan ini menyita perhatian para pencinta sains dan astronomi Tanah Air.

Tanpa banyak yang menyadari, satelit alami kita, Bulan, ternyata perlahan bergerak menjauhi Bumi dengan laju sekitar 3,8 sentimeter per tahun.

Fenomena mengejutkan ini bukanlah sebuah kebetulan, melainkan bagian dari dinamika interaksi gravitasi antara Bumi dan Bulan yang telah berlangsung dalam skala waktu sangat panjang.

Secara ilmiah, pergeseran jarak ini terjadi di tengah jarak rata-rata Bumi-Bulan yang mencapai 384.000 kilometer.

Meski terdengar perlahan, dinamika alam ini memengaruhi berbagai aspek mekanika benda langit, mulai dari kecepatan rotasi planet kita hingga dinamika gelombang air laut di pesisir.

Penjelasan mengenai fenomena alamiah ini pun langsung memicu rasa penasaran publik mengenai masa depan planet yang kita huni.

Tarikan Gravitasi dan Rahasia Hari yang Makin Panjang

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika Pusat Riset Antariksa BRIN, Thomas Djamaluddin, menjelaskan bahwa interaksi gravitasi kedua benda langit ini memicu efek gaya pasang surut.

Gravitasi Bumi menyebabkan rotasi Bulan diperlambat hingga akhirnya terkunci pada periode 27,3 hari.

Di sisi lain, gravitasi Bulan juga memicu gaya pasang surut di Bumi yang secara perlahan mengerem kecepatan putaran rotasi planet kita dari waktu ke waktu.

Akibat pengereman alami tersebut, durasi panjang hari di Bumi diperkirakan bakal terus bertambah secara gradual.

Menurut Thomas, dalam kurun waktu sekitar 200 juta tahun mendatang, rotasi Bumi diperkirakan bakal melambat sekitar satu jam, membuat panjang satu hari berubah menjadi 25 jam.

Interaksi pasang surut inilah yang mentransfer momentum sudut dan memberikan dorongan energi kepada Bulan untuk perlahan bergeser menjauh.

Orbit Elips dan Penjelasan Pakar Geofisika IPB

Melengkapi penjelasan ilmiah tersebut, Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, Sonni Setiawan, membeberkan bahwa fenomena ini juga berkaitan dengan bentuk lintasan orbit Bulan yang berupa elips, bukan lingkaran sempurna.

Dalam setiap periode revolusinya, Bulan akan mengalami titik terdekat dengan Bumi yang disebut perigeeserta titik terjauh yang dikenal sebagai istilah apogee.

Dinamika orbit elips ini menegaskan bahwa jarak Bulan terhadap Bumi memang selalu bervariasi sepanjang periode revolusinya.

Namun, jika dihitung dalam jangka panjang, interaksi gaya pasang surut air laut yang terseret oleh rotasi Bumi secara konstan terus mendorong jarak rata-rata kedua benda langit ini makin renggang. Proses alamiah ini murni mekanika fisika antariksa yang sudah berjalan sejak miliaran tahun lalu.

Dampak Bagi Kehidupan dan Skenario Antariksa Masa Depan

Meskipun fenomena Bulan menjauh ini terdengar fantastis, masyarakat diimbau untuk tidak perlu khawatir berlebihan. Sonni Setiawan menegaskan bahwa proses alamiah ini tidak akan memberikan dampak langsung yang terasa dalam kehidupan manusia sehari-hari. Laju pergeseran sebesar 3,8 sentimeter per tahun terlalu kecil untuk mengubah ritme pasang surut air laut yang selama ini dimanfaatkan para nelayan secara mendadak.

Pertanyaan besar yang kerap muncul adalah apakah Bulan pada akhirnya akan terlepas dari pengaruh gravitasi Bumi. Para ahli memprediksi bahwa sebelum skenario penguncian pasang surut total terjadi dalam rentang waktu yang sangat lama, perubahan evolusi Matahari yang mengembang menjadi bintang raksasa merah jutaan tahun mendatang bakal lebih dahulu memengaruhi kondisi tata surya kita.

Statement:

Thomas Djamaluddin, Profesor Riset Astronomi-Astrofisika Pusat Riset Antariksa BRIN

“Gravitasi bumi menyebabkan efek gaya pasang surut pada bulan yang menyebabkan rotasi bulan diperlambat dan akhirnya terkunci pada periode 27,3 hari, sama dengan periode revolusinya.”

“Dalam 200 juta tahun diperkirakan rotasi Bumi diperlambat 1 jam, panjang hari di bumi menjadi 25 jam. Interaksi Bumi dan Bulan tersebut yang menyebabkan Bulan menjauhi Bumi walau dampaknya baru terasa setelah ratusan juta tahun.”

Sonni Setiawan, Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University

“Efek Bulan menjauh dari Bumi merupakan konsekuensi orbit revolusi Bulan terhadap Bumi yang berupa elips. Ada saat Bulan berada pada jarak terdekat (perigee) dan jarak terjauh (apogee) dalam setiap periode revolusi Bulan.”

3 Poin Penting:

  • Laju Pergeseran Bulan: Bulan bergerak menjauhi Bumi dengan kecepatan rata-rata sekitar 3,8 sentimeter per tahun akibat interaksi gaya pasang surut dan transfer momentum sudut gravitasi.

  • Rotasi Bumi Melambat: Pengereman gravitasi dari interaksi ini diperkirakan bakal menambah panjang waktu satu hari di Bumi menjadi 25 jam dalam kurun waktu 200 juta tahun mendatang.

  • Aman Bagi Kehidupan Harian: Pergeseran jarak ini merupakan proses alamiah yang tidak memberikan dampak langsung yang berbahaya bagi kehidupan harian manusia maupun aktivitas pesisir.

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

Rame 24 Jam

Rame Sepekan