Search
Search
Search

Dapur Magma Makin Panas! BRIN Beberkan Karakter Baru Gunung Anak Krakatau

Jumat, 18 September 2026

Gunung anak Krakatau (generate AI)

Gunung Anak Krakatau kembali menyita perhatian publik dan kalangan peneliti kebumian.

Hasil riset terbaru membeberkan fakta mengejutkan bahwa magma yang tersimpan di bawah perut Gunung Anak Krakatau kini memiliki karakter yang jauh lebih basaltik, bersuhu lebih panas, serta tersimpan di kedalaman reservoir yang lebih dalam jika dibandingkan dengan era Old maupun Young Krakatau.

Temuan ilmiah ini memberikan gambaran yang jauh lebih komprehensif mengenai evolusi dan dinamika sistem magmatik Krakatau.

Pemahaman mengenai kombinasi komposisi magma, temperatur, tingkat oksidasi, hingga kedalaman kantong magma menjadi pilar vital untuk memperkuat mitigasi bencana serta meminimalkan risiko bagi warga yang bermukim di pesisir Banten dan Lampung.

Pemantauan BRIN dan Pentingnya Keselamatan Kawasan Selat Sunda

Kepala Pusat Riset Kebencanaan Geologi (PRKG) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Adrin Tohari, dalam ajang Geohazard Webinar 2026 #05 pada Senin (14/9/2026), menegaskan pentingnya pengawasan sains secara ketat.

Menurutnya, pemahaman mendalam tentang aktivitas Krakatau sangat berkaitan langsung dengan keselamatan masyarakat pesisir serta kelancaran lalu lintas pelayaran di kawasan Selat Sunda.

Dalam kesempatan yang sama, Peneliti Ahli PRKG BRIN, Aditya Pratama, memaparkan hasil penelitian geokimia dan magnetisme batuan yang dipublikasikan dalam jurnal Frontiers in Earth Science.

Ia mengingatkan kembali sejarah panjang Krakatau yang pernah mengalami dua kali letusan pembentukan kaldera (caldera-forming eruption), termasuk letusan dahsyat bertipe VEI 6 pada 27 Agustus 1883 yang memicu tsunami besar dan menelan puluhan ribu korban jiwa.

Erupsi 25 Jam dan Pantauan Satelit Canggih Eropa

Sistem gunung api aktif ini kembali menunjukkan riak aktivitasnya ketika Gunung Anak Krakatau memasuki periode erupsi berkelanjutan pada 4 September 2026 yang berlangsung hingga sekitar 25 jam.

Letusan tersebut melepaskan emisi gas vulkanik dan abu yang membumbung tinggi, sehingga menjadi perhatian serius para peneliti iklim dan penerbangan internasional.

Satelit canggih milik Uni Eropa, Copernicus Sentinel-5P, berhasil menangkap sebaran konsentrasi gas Sulfur Dioksida ($SO_2$) yang membentang sejauh ratusan kilometer ke arah barat di atas Samudra Hindia.

Tak hanya itu, satelit Copernicus Sentinel-2 juga merekam momen dramatis saat kolom erupsi meluncur hebat hingga mencapai ketinggian sekitar 15 kilometer di atas permukaan laut.

Sinergi Teknologi Pemantauan Tsunami 24 Jam

Dinamika aktivitas vulkanik ini menegaskan betapa pentingnya kesiapsiagaan sistem peringatan dini bencana geologi di Indonesia.

Berbagai akademisi internasional seperti Prof. Sebastian Watt dari University of Birmingham dan Semeidi Husrin dari BRIN terus berkolaborasi mengkaji konteks sejarah dan pengembangan teknologi pemantauan kawasan vulkanik Selat Sunda.

Salah satu fokus utama dalam upaya mitigasi ini adalah pengoperasian perangkat IDSL/PUMMA untuk pemantauan potensi tsunami akibat aktivitas Krakatau secara real-time selama 24 jam penuh.

Dengan integrasi pemantauan satelit dan sensor bawah laut, diharapkan potensi risiko bencana dapat terdeteksi lebih awal demi melindungi masyarakat pesisir.

Statement:

Adrin Tohari, Kepala Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN

“Krakatau yang berada di kawasan Selat Sunda memiliki nilai penting tidak hanya dari sisi geologi dan vulkanologi, tapi juga dalam kaitannya dengan keselamatan masyarakat, aktivitas pelayaran, serta potensi bahaya yang dapat berdampak pada wilayah pesisir.”

3 Poin Penting:

  • Perubahan Karakter Magma: Magma Gunung Anak Krakatau terbukti lebih basaltik, bersuhu lebih panas, dan tersimpan lebih dalam dibanding periode Krakatau terdahulu.

  • Erupsi Berkelanjutan September 2026: Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi selama 25 jam pada 4 September 2026 dengan kolom abu membumbung hingga ketinggian 15 kilometer.

  • Deteksi Satelit dan Mitigasi Tsunami: Satelit Copernicus Sentinel merekam sebaran gas $SO_2$ ke Samudra Hindia, didukung pemantauan tsunami 24 jam dengan sistem IDSL/PUMMA di Selat Sunda.

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

Rame 24 Jam

Rame Sepekan