Fenomena cuaca di Indonesia pada penghujung September 2026 ini memang lagi unik-uniknya dan butuh perhatian ekstra dari kita semua.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat untuk tetap pasang mode waspada terkait sebaran asap serta potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada periode 22–28 September 2026.
Kondisi atmosfer di sejumlah wilayah, khususnya kawasan Sumatra dan Kalimantan, terpantau relatif kering sehingga risiko munculnya api di lahan terbuka masih tergolong sangat tinggi.
Berdasarkan rilis Potensi Hujan Sepekan ke Depan yang dikeluarkan BMKG, tercatat ada ribuan titik panas atau hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi selama sepuluh hari terakhir hingga 21 September 2026.
Kalimantan Tengah menjadi wilayah dengan jumlah hotspot terbanyak di Indonesia, yakni mencapai 5.283 titik.
Angka tersebut disusul oleh Sumatra Selatan dengan 1.485 titik, Kalimantan Barat 1.357 titik, serta Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur yang masing-masing mencatatkan ratusan titik panas.
Peta Sebaran Titik Panas dan Potensi Risiko di Berbagai Daerah
Ancamannya ternyata tidak berhenti di wilayah pulau-pulau besar itu saja.
BMKG juga menerima laporan kejadian karhutla di berbagai daerah lain, seperti Jawa Tengah, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Utara, Papua Tengah, hingga Kepulauan Bangka Belitung.
Sebaran titik panas yang terdeteksi di berbagai pulau ini membuktikan bahwa risiko kebakaran lahan bisa mengintai siapa saja, terutama saat cuaca terik dan kondisi udara kering berlangsung dalam durasi yang lumayan panjang.
Namun, menariknya, kondisi atmosfer yang serbakering ini bukan berarti membuat hujan menghilang secara total dari wilayah Indonesia.
BMKG mencatat hujan dengan intensitas lebat masih sempat mengguyur beberapa kawasan pada pertengahan September.
Curah hujan harian tertinggi bahkan sempat tercatat di Sumatra Barat mencapai 75 milimeter per hari, disusul Kalimantan Barat sebesar 70 milimeter per hari, serta Jawa Barat dan Kalimantan Utara yang juga masih kebasahan.
Pengaruh El Nino Sangat Kuat dan Dinamika Gelombang Atmosfer
Ketidakseragaman kondisi cuaca ini terjadi akibat adanya kombinasi fenomena iklim global dan regional yang cukup kompleks.
BMKG mencatat indeks Nino3.4 berada pada angka +2,51 dan Southern Oscillation Index (SOI) di -20,3, yang menandakan fenomena El Nino masih bertengger di kategori sangat kuat.
Ditambah lagi, nilai Dipole Mode Index (DMI) yang berada di angka +0,7 membuat massa udara dan uap air bergerak menjauhi wilayah Indonesia menuju Samudra Hindia, sehingga udara di Indonesia bagian barat cenderung makin kering.
Meskipun iklim global mendorong kondisi jadi lebih kering, fenomena cuaca lokal seperti gelombang Kelvin dan gelombang Rossby Ekuatorial tetap aktif bekerja.
Kombinasi faktor ini, dipadu dengan suhu muka laut yang hangat serta adanya perlambatan angin, berhasil memicu pertumbuhan awan hujan di beberapa lokasi tertentu.
Hasilnya, cuaca ekstrem yang kontras—antara potensi karhutla di satu sisi dan hujan lebat mendadak di sisi lain—bisa terjadi secara bersamaan dalam kurun waktu yang singkat.
Imbauan Kesiapsiagaan dan Aksi Nyata Bagi Anak Muda
Melihat kondisi atmosfer yang serba tidak menentu ini, BMKG mewanti-wanti seluruh lapisan masyarakat untuk tidak gegabah dan tetap responsif.
Anak muda dan warga sekitar dilarang keras melakukan aksi pembakaran terbuka saat membuka atau membersihkan lahan.
Jika menemukan indikasi hotspot atau kepulan asap di sekitar tempat tinggal, masyarakat diharapkan langsung melaporkannya ke pihak berwenang agar penanganan bisa dilakukan sebelum api makin membesar dan meluas.
Selain fokus menjaga lingkungan dari risiko karhutla, kita juga wajib menjaga kondisi fisik di tengah cuaca yang kadang sangat panas lalu mendadak hujan.
Jangan lupa untuk selalu memenuhi kebutuhan cairan tubuh, hemat penggunaan air bersih, serta gunakan pelindung diri dari paparan sinar matahari langsung.
Tetap pantau informasi cuaca terkini dari kanal resmi BMKG agar aktivitas harian kamu tetap aman dan berjalan lancar.
Statement:
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG)
“Atmosfer yang relatif kering masih terpantau di sejumlah wilayah Indonesia, terutama sebagian Sumatra dan Kalimantan. Kondisi ini terlihat dari masih tingginya jumlah titik panas (hotspot) dengan tingkat kepercayaan tinggi…”
“Meskipun demikian, sejumlah dinamika atmosfer yang dapat meningkatkan pembentukan awan hujan secara regional diprediksi aktif dalam beberapa hari ke depan. Kombinasi kondisi tersebut meningkatkan ketersediaan uap air dan mendukung proses pengangkatan massa udara, sehingga pertumbuhan awan hujan tetap terjadi di sejumlah wilayah.”
3 Poin Penting:
-
Ancaman Karhutla Masih Tinggi: Ribuan titik panas (hotspot) terdeteksi di Sumatra dan Kalimantan dengan angka tertinggi di Kalimantan Tengah (5.283 titik) akibat atmosfer yang relatif kering.
-
Dinamika Cuaca Unik: Meski El Nino sangat kuat dan DMI positif memicu udara kering, fenomena gelombang Kelvin dan Rossby Ekuatorial tetap memicu hujan lebat lokal di beberapa wilayah.
-
Imbauan Kesiapsiagaan: BMKG meminta masyarakat melarang pembakaran lahan terbuka, melaporkan titik api, serta mewaspadai potensi hujan lebat lokal, angin kencang, dan cuaca panas ekstrem.



