Fenomena iklim ekstrem akibat El Nino kembali memicu aksi unik sekaligus menyentuh di panggung internasional.
Demi mengatasi ancaman kekeringan parah yang melanda sejumlah wilayahnya, Angkatan Udara Sri Lanka mengambil langkah tak biasa dengan menerbangkan tiga biksu ke udara untuk memanjatkan doa meminta hujan.
Aksi spiritual di atas awan ini menjadi bentuk ikhtiar di tengah cuaca panas ekstrem yang membakar kawasan tersebut.
Dalam penerbangan malam hari pada 19 September lalu, tiga biksu berjubah tampak melantunkan paritta dan doa-doa suci saat melintasi wilayah-wilayah terdampak kekeringan.
Menggunakan pesawat jenis Y-12 milik militer, ritual tersebut makin sakral ketika personel angkatan udara turut memercikkan air suci dari botol plastik ke arah luar.
Langkah ini dilakukan sebagai simbol harapan agar krisis air bersih dan kekeringan yang melanda masyarakat segera berakhir.

Simbol Kepedulian Militer dan Ancaman Fenomena El Nino
Pihak militer menegaskan bahwa aksi menerbangkan para pemuka agama ini bukan sekadar ritual biasa, melainkan bentuk solidaritas serta kepedulian nyata di tengah masa sulit.
Misi udara ini dirancang untuk memberikan dukungan moral dan spiritual bagi warga yang sedang berjuang menghadapi dampak kemarau panjang.
Angkatan Udara Sri Lanka menyebut penerbangan penuh kasih sayang tersebut sebagai respons atas kesulitan hidup yang dirasakan rakyatnya saat ini.
Ancaman kekeringan di negara berpenduduk sekitar 22 juta jiwa ini memang tergolong serius akibat hantaman El Nino.
Departemen Meteorologi Sri Lanka bahkan telah merilis peringatan awal terkait potensi cuaca ekstrem yang fluktuatif hingga akhir tahun.
Fenomena El Nino kali ini dinilai sebagai salah satu yang terburuk, di mana kenaikan suhu permukaan laut Pasifik mengubah pola angin dan memangkas pasokan uap air secara drastis.
Dampak Kekeringan Pada Satwa dan Pasokan Energi Listrik
Dampak nyata dari cuaca kering yang menyengat ini sudah mulai melumpuhkan beberapa sektor vital di Sri Lanka.
Di Taman Nasional Yala, kawasan konservasi satwa terbesar yang terletak di bagian tenggara, dua dari enam blok area wisata terpaksa ditutup total untuk pengunjung.
Penutupan dilakukan demi melindungi ekosistem serta kawanan satwa liar yang kesulitan mendapatkan sumber air minum alami di area konservasi.
Selain sektor pariwisata dan lingkungan, pemerintah setempat juga menaruh kekhawatiran besar pada ketahanan energi nasional.
Saat ini, volume air di sejumlah waduk utama—termasuk yang memasok Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA)—tercatat berada di angka 50 persen.
Meski kondisi ini diklaim sedikit lebih baik dibanding tahun-tahun sebelumnya, potensi pembengkakan defisit air pada awal tahun mendatang tetap menjadi ancaman serius bagi stabilitas pasokan listrik negara.
Potensi Cuaca Ekstrem dan Harapan Bagi Masa Depan
Para ahli meteorologi memprediksi bahwa dinamika cuaca di Sri Lanka bakal makin tidak menentu hingga penghujung tahun.
Setelah melewati fase kering yang membakar, wilayah tersebut diperkirakan akan diguyur hujan lebat mendadak mulai akhir September hingga Desember, sebelum kembali dihantam gelombang kekeringan panjang pada awal 2027.
Perubahan drastis ini memperlihatkan betapa kuatnya dampak perubahan iklim global akibat aktivitas manusia terhadap intensitas El Nino.
Aksi ritual keagamaan lewat udara ini pada akhirnya memperlihatkan perpaduan unik antara kearifan lokal, kepercayaan spiritual, dan upaya kesiapsiagaan bencana.
Bagi generasi muda, fenomena ini menjadi pengingat kuat betapa krusialnya isu krisis iklim global yang kini dampaknya kian nyata dirasakan masyarakat dunia.
Warga Sri Lanka kini hanya bisa berharap, doa yang dipanjatkan dari atas langit tersebut dapat segera mendatangkan kesejukan dan hujan berkah di tanah mereka.
Statement:
Angkatan Udara Sri Lanka
“Ketika bangsa ini menghadapi kesulitan akibat cuaca kering, pesawat tersebut mengudara dalam sebuah tindakan simbolis penuh kasih sayang.”
3 Poin Penting:
-
Aksi Ritual Minta Hujan: Angkatan Udara Sri Lanka menerbangkan tiga biksu menggunakan pesawat Y-12 pada 19 September 2026 untuk berdoa dan memercikkan air suci di atas wilayah yang terdampak kekeringan parah.
-
Dampak Luas El Nino: Fenomena El Nino terburuk ini memicu penutupan dua blok di Taman Nasional Yala serta mengancam cadangan air waduk PLTA yang saat ini tersisa sekitar 50 persen.
-
Prakiraan Cuaca Ekstrem: Departemen Meteorologi memperkirakan kondisi kering akan berganti menjadi hujan lebat hingga Desember, sebelum berpotensi disusul kekeringan berkepanjangan pada awal 2027.



