Search
Search
Search

Indonesia Stop Impor Beras, Petani Luar Negeri Kena Mental Hingga Gelar Aksi Demo

Rabu, 23 September 2026

Petani Indonesia (ist)

Langkah berani Pemerintah Indonesia dalam menghentikan impor beras secara total rupanya memberikan dampak domino yang sangat masif bagi pasar pangan global.

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyebut keputusan strategis tersebut sukses mengguncang peta perdagangan beras dunia.

Bahkan, keputusan besar ini mengaitkan kondisi petani di sejumlah negara eksportir utama yang kini mengalami tekanan berat hingga harus turun ke jalan menggelar aksi demonstrasi.

Langkah penghentian impor beras ini diambil seiring dengan lonjakan produksi dalam negeri yang berhasil mengantarkan Indonesia mencapai swasembada beras secara mandiri.

Padahal, jika menengok ke belakang, posisi Indonesia pada periode 2023–2024 lalu tercatat sebagai salah satu negara importir beras terbesar di dunia dengan kuota mencapai 7 juta ton.

Transformasi drastis ini sontak membuat negara-negara pemasok beras kehilangan pasar utama mereka secara mendadak.

Dampak Besar Swasembada Pangan dan Anjloknya Harga Beras Dunia

Menteri Pertanian membeberkan bahwa terhentinya aliran impor beras ke Indonesia langsung memicu gejolak pasar di negara-negara produsen besar seperti Thailand, Vietnam, India, hingga Pakistan.

Hilangnya permintaan dari Indonesia sebagai pasar raksasa secara otomatis menciptakan penumpukan pasokan beras di pasar internasional.

Kondisi melimpahnya stok global tersebut pada akhirnya memaksa harga komoditas beras dunia mengalami penurunan yang sangat tajam.

Berdasarkan data yang dipaparkan Mentan, harga beras dunia yang sebelumnya sempat bertengger di angka tingginya sekitar 660 Dolar AS per ton, mendadak anjlok drastis menjadi kisaran 368 Dolar AS per ton.

Penurunan harga yang signifikan ini menjadi bukti nyata betapa krusialnya peran serta posisi tawar Indonesia dalam menentukan stabilitas harga pangan di tingkat internasional.

Keberhasilan swasembada nasional ini pun mendapat pengakuan dari lembaga pangan dunia, FAO.

Permintaan Negara Tetangga dan Ketegasan Menjaga Petani Lokal

Gejolak pasar global ini bahkan membuat beberapa pemimpin negara sahabat sempat melobi Presiden Prabowo Subianto agar Indonesia mau kembali membuka keran impor beras dari negara mereka.

Namun, Kementerian Pertanian secara tegas memberikan masukan kepada Presiden untuk menolak permintaan tersebut demi menjaga keberlanjutan sektor pertanian dalam negeri.

Pemerintah berkomitmen penuh untuk memprioritaskan hasil panen dari keringat para petani lokal.

Mentan menekankan bahwa kembali masuknya beras impor ke pasar domestik hanya akan melukai serta menurunkan motivasi lebih dari 115 juta petani di seluruh pelosok Nusantara.

Jika motivasi petani lokal runtuh akibat serbuan beras luar, ketahanan pangan jangka panjang bangsa Indonesia bisa berada dalam ancaman serius.

Langkah ini sekaligus mempertegas komitmen pemerintah dalam menindak tegas segala bentuk penyelundupan beras ilegal yang berpotensi merusak harga di tingkat petani.

Masa Depan Pertanian Mandiri dan Stabilitas Ekonomi Nasional

Keputusan mempertahankan swasembada beras menjadi tonggak sejarah penting bagi kedaulatan pangan bangsa Indonesia di mata dunia.

Keberhasilan menahan laju impor ini tidak hanya membuktikan keandalan strategi sektor pertanian nasional, tetapi juga memberikan perlindungan harga yang layak bagi para petani lokal.

Sektor pertanian kini dibuktikan menjadi salah satu pilar paling tangguh dalam menopang stabilitas ekonomi nasional dari guncangan krisis global.

Dengan konsistensi kebijakan yang memihak pada rakyat kecil ini, generasi muda Indonesia diharapkan semakin terpacu untuk terjun dan memodernisasi sektor pertanian.

Kedaulatan pangan yang solid bukan lagi sekadar cita-cita di atas kertas, melainkan realitas yang berhasil diwujudkan oleh bangsa Indonesia secara nyata.

Indonesia kini resmi bertransformasi dari negara pembeli menjadi pemain kunci yang memperhitungkan arah kebijakan pangan dunia.

Statement:

Andi Amran Sulaiman, Menteri Pertanian RI

“Kita importir terbesar di 2023-2024 importir terbesar beras dunia, yaitu 7 juta ton. Alhamdulillah 2025 tidak ada impor. Karena tidak ada impor, pasti negara-negara eksportir beras dunia, Thailand, Vietnam, India, Pakistan, dan lain-lain, petaninya tertekan, bahkan demo…”

“Dampaknya adalah harga beras dunia itu US$ 660 per ton tiba-tiba turun menjadi US$ 368 per ton. Kami sampaikan ke Bapak Presiden, ini tidak mungkin karena ini melukai petani Indonesia 115 juta orang.”

3 Poin Penting:

  • Penghentian Impor Beras Indonesia: Indonesia sukses menghentikan total impor beras seiring tercapainya swasembada pangan, setelah sebelumnya menjadi importir terbesar dunia hingga 7 juta ton pada 2023–2024.

  • Anjloknya Harga Beras Global: Hilangnya pasar Indonesia membuat harga beras dunia merosot tajam dari 660 Dolar AS menjadi 368 Dolar AS per ton, yang memicu tekanan ekonomi dan aksi demo petani di negara eksportir.

  • Komitmen Melindungi Petani Lokal: Pemerintah secara tegas menolak permintaan negara lain untuk membuka kembali keran impor demi melindungi motivasi dan kesejahteraan 115 juta petani di Indonesia.

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

Rame 24 Jam

Rame Sepekan