Diplomat tinggi Iran kembali menegaskan bahwa konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Republik Islam Iran tidak memiliki jalan keluar melalui kekuatan militer.
Pernyataan tersebut disampaikan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi saat bertemu dengan para duta besar asing, di tengah pembicaraan untuk mengakhiri perang yang hingga kini masih menemui jalan buntu.
Dilansir AFP, Senin (5/10/2026), kampanye pengeboman besar-besaran yang dilancarkan AS dan Israel sejak akhir Februari disebut belum mampu mengakhiri konflik secara tuntas.
Dalam beberapa pekan terakhir, Washington juga mulai mengurangi operasi militer dan lebih mengutamakan tekanan ekonomi terhadap Teheran.
Selat Hormuz Jadi Titik Panas
Salah satu persoalan utama dalam konflik ini berkaitan dengan Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi rute penting bagi perdagangan minyak dan gas dari kawasan Teluk.
Ketegangan kembali meningkat setelah badan keamanan maritim Inggris, UKMTO, melaporkan sebuah kapal tanker dihantam proyektil tak dikenal di kawasan tersebut.
Araghchi menegaskan bahwa Iran tetap membuka peluang penyelesaian melalui jalur diplomasi. Ia menambahkan bahwa konflik hanya dapat diakhiri melalui “negosiasi yang berlandaskan keadilan dan kesetaraan”.
Kesepakatan Juni Kembali Terganjal
Sebelumnya, Iran dan pihak terkait sempat menyepakati nota kesepahaman pada Juni yang berisi kerangka kerja untuk mencapai penyelesaian permanen.
Namun, ketegangan kembali meningkat setelah Iran melakukan serangan terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz, yang kemudian mendorong AS mengaktifkan kembali operasi militernya.
Iran sejak awal perang berupaya memperketat kendali atas jalur pelayaran strategis tersebut dengan menyerang kapal yang disebut melintas tanpa izin.
Sebagai respons, AS menerapkan blokade terhadap sejumlah pelabuhan Iran dan menyerang kapal yang dituduh melanggar blokade tersebut.
Kapal Tanker Kena Proyektil
Pada Minggu, UKMTO menyatakan sebuah kapal tanker melaporkan telah dihantam proyektil tak dikenal hingga menyebabkan kerusakan pada ruang mesin.
Seluruh awak kapal dilaporkan selamat dan tidak ada dampak lingkungan yang tercatat. Namun, UKMTO belum mengungkap secara rinci waktu kejadian, asal dan tujuan kapal, maupun jenis muatan yang dibawanya, apakah minyak atau LNG.
Di sisi lain, situasi domestik Iran juga mengalami perubahan di sektor energi. Menteri Perminyakan Iran Mohsen Paknejad mengundurkan diri di tengah blokade AS yang masih memengaruhi ekspor minyak negara tersebut.
Kantor kepresidenan Iran menyebut Paknejad sebelumnya telah mengajukan pengunduran diri dengan alasan pribadi, tetapi permintaan itu sempat ditolak Presiden Masoud Pezeshkian.
Posisi tersebut kemudian diisi Hamid Bovard, yang sebelumnya menjabat sebagai kepala eksekutif National Iranian Oil Company.
Statement:
Abbas Araghchi, Menteri Luar Negeri Iran
“Tidak ada solusi militer, ataupun solusi yang didasarkan pada sanksi-sanksi baru. Hanya negosiasi yang berlandaskan keadilan dan kesetaraan yang dapat mengakhiri konflik tersebut.”
3 Poin Penting:
- Iran menolak solusi militer dan mendorong negosiasi yang dianggap adil serta setara untuk mengakhiri konflik.
- Selat Hormuz tetap menjadi titik panas, setelah laporan kapal tanker terkena proyektil tak dikenal dan ketegangan terkait blokade terus berlanjut.
- Pergantian di sektor energi Iran terjadi setelah Menteri Perminyakan Mohsen Paknejad mengundurkan diri dan digantikan Hamid Bovard.



![donald trump [dok. kompas]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/7dc81f3e3e5f9b433d93565d7a14d3a1-e1770955274524-300x138.jpg)