Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi tantangan serius di Indonesia.
Berdasarkan data Sistem Pemantauan Karhutla (SiPongi) Kementerian Kehutanan, luas area terdampak kebakaran selama Januari hingga Juli 2026 mencapai 202.004,30 hektare, meningkat sekitar 69% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Situasi ini menegaskan bahwa dampak karhutla tidak hanya berkaitan dengan kerusakan lingkungan, tetapi juga keselamatan, kehidupan sosial, dan kondisi psikologis masyarakat.
Merespons pentingnya pemahaman bencana secara menyeluruh, Dedikasi Untuk Negeri (DUN) menggelar webinar Insight Class Sesi 1 bertajuk “Bencana dalam Perspektif Ekologi dan Psikologi” dengan tema “Memahami Bencana, Memahami Manusia”, Sabtu (10/10/2026), melalui Zoom Meeting.
Kegiatan ini menghadirkan Hirmas F. Putra, S.Si., M.Si., Ph.D., dosen ekologi restorasi dari Departemen Biologi FMIPA IPB, serta Rizqi Solekhah, S.Psi., Psikolog, pendiri SukaSuka Puan dan praktisi psikologi.

Karhutla Bukan Sekadar Api, Ekosistem Butuh Waktu untuk Pulih
Dalam sesi “Ketika Alam Berubah: Memahami Bencana dalam Perspektif Ekologi”, Hirmas menjelaskan konsep ecological disturbance atau gangguan ekologis yang dapat mengubah struktur, komposisi, dan fungsi suatu ekosistem.
Dalam konteks karhutla, kebakaran berpotensi menghilangkan vegetasi, merusak habitat satwa, mengubah karakteristik tanah, hingga mengganggu proses alami yang membutuhkan waktu panjang untuk pulih.
Karena itu, keberhasilan penanganan kebakaran tidak cukup dinilai hanya dari luas wilayah yang berhasil dipadamkan.
Hirmas juga menyoroti perbedaan antara intensitas gangguan (intensity) dan tingkat keparahan dampak ekologis (severity).
Kebakaran dengan intensitas serupa dapat menimbulkan dampak berbeda, bergantung pada jenis vegetasi, kondisi tanah, karakteristik ekosistem, dan riwayat gangguan sebelumnya.
Sebagai contoh, kebakaran di lahan gambut yang mengalami pengeringan dan degradasi dapat memberikan dampak berbeda dibandingkan kebakaran di ekosistem dengan karakteristik yang lebih mampu beradaptasi terhadap api.
Aktivitas Manusia Ikut Memengaruhi Risiko Kebakaran
Selain karakteristik alam, perubahan tata guna lahan dan aktivitas manusia dapat memengaruhi pola gangguan ekosistem.
Dalam kajian ekologi, pola tersebut dikenal sebagai disturbance regime, yang mencakup frekuensi, intensitas, luas, dan karakteristik suatu gangguan.
Pemahaman ini penting untuk melihat hubungan antara kondisi iklim, pengelolaan lahan, aktivitas manusia, dan meningkatnya kerentanan sejumlah wilayah terhadap karhutla.
Hirmas turut membahas konsep resistance, resilience, dan succession, yang berkaitan dengan kemampuan ekosistem bertahan menghadapi gangguan, memulihkan fungsi, serta mengalami perubahan komunitas ekologis setelah terdampak.
Pemulihan vegetasi, misalnya, tidak otomatis berarti seluruh fungsi lingkungan dan keanekaragaman hayati telah kembali seperti semula.
Oleh sebab itu, pencegahan kebakaran berulang, perlindungan kawasan rawan, dan restorasi sesuai karakteristik wilayah perlu menjadi bagian dari strategi penanganan karhutla.
Api Padam, Dampak Psikologis Bisa Bertahan
Dalam sesi “Bencana dan Manusia: Kesiapan Mental dalam Menghadapi Krisis”, Rizqi Solekhah membahas dampak psikologis yang dapat dialami masyarakat ketika menghadapi bencana.
Ancaman keselamatan, gangguan kesehatan akibat kabut asap, kehilangan mata pencaharian, hingga ketidakpastian tempat tinggal dapat memicu tekanan emosional.
Dampak tersebut tidak selalu berakhir bersamaan dengan berhentinya kebakaran karena masyarakat masih harus menghadapi proses pemulihan kehidupan sehari-hari.
Rizqi menguraikan fase psikologis bencana yang meliputi fase prabencana, dampak, honeymoon, kekecewaan, dan rekonstruksi. Pada awal bencana, solidaritas dan dukungan sosial biasanya menjadi bagian penting dalam membantu masyarakat menghadapi krisis.
Namun, ketika bantuan mulai berkurang sementara kondisi kehidupan belum pulih, tekanan emosional dapat kembali meningkat.
Respons setiap orang pun berbeda, dipengaruhi oleh pengalaman sebelumnya, tingkat paparan, kondisi individu, dan dukungan sosial yang tersedia.
Dukungan Sosial Jadi Kunci Pemulihan Masyarakat
Melalui teori ekologi Bronfenbrenner, Rizqi menjelaskan bahwa kondisi psikologis seseorang berkaitan dengan berbagai lingkungan di sekitarnya, mulai dari keluarga dan komunitas hingga lembaga serta kebijakan publik.
Artinya, pemulihan penyintas tidak cukup hanya berfokus pada individu. Akses terhadap layanan kesehatan, kepastian tempat tinggal, sumber penghasilan, dan dukungan masyarakat juga berperan dalam membantu seseorang kembali menjalani aktivitasnya.
Materi tersebut turut dikaitkan dengan hierarki kebutuhan Abraham Maslow, yang menempatkan kebutuhan dasar dan rasa aman sebagai bagian penting dari kesejahteraan manusia.
Dalam penanganan karhutla, pendekatan ini dapat diterapkan melalui perlindungan dari paparan asap, penyediaan informasi yang jelas, pemenuhan kebutuhan dasar, serta dukungan psikososial sesuai kebutuhan masyarakat terdampak.
Pendampingan yang empatik menjadi penting agar respons seperti kecemasan, ketakutan, atau kesulitan berkonsentrasi dapat dipahami secara tepat tanpa langsung memberikan label gangguan psikologis.
DUN Dorong Penanganan Bencana yang Lebih Menyeluruh
Webinar Insight Class Sesi 1 menghadirkan satu pesan penting: ketahanan ekosistem dan ketangguhan manusia merupakan dua aspek yang saling berkaitan.
Dari perspektif ekologi, pemulihan lingkungan bergantung pada kondisi ekosistem dan tingkat gangguan yang dialami.
Sementara itu, dari perspektif psikologi, pemulihan manusia turut dipengaruhi oleh rasa aman, terpenuhinya kebutuhan dasar, dan keberadaan dukungan sosial yang berkelanjutan.
Melalui kegiatan ini, Dedikasi Untuk Negeri mendorong penguatan literasi kebencanaan yang tidak hanya berorientasi pada tanggap darurat, tetapi juga mencakup pencegahan, pemulihan lingkungan, dan kesejahteraan masyarakat.
Pesan tersebut sejalan dengan semangat #TindakAksiNyata untuk meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan dan kesiapsiagaan menghadapi bencana.
Sebab, keberhasilan penanganan karhutla bukan hanya tentang memadamkan api, melainkan juga memulihkan ekosistem, melindungi masyarakat, dan membangun ketangguhan untuk menghadapi risiko pada masa mendatang.
3 Poin Penting:
- Luas karhutla meningkat: SiPongi Kementerian Kehutanan mencatat kebakaran hutan dan lahan mencapai 202.004,30 hektare selama Januari–Juli 2026, naik sekitar 69% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
- Kerusakan lingkungan membutuhkan pemulihan: Luas kebakaran bukan satu-satunya indikator dampak karena karakteristik ekosistem menentukan tingkat kerusakan dan proses pemulihannya.
- Kesehatan mental perlu diperhatikan: Pemulihan masyarakat terdampak bencana membutuhkan perlindungan, pemenuhan kebutuhan dasar, komunikasi empatik, dan dukungan psikososial.



