Search
Search
Search

Krisis Utang Eropa Mengintai Italia, Rasio Utang Diprediksi Tembus 137% pada 2028

Senin, 12 Oktober 2026

Italia (ist)

Krisis utang kembali menjadi sorotan di Eropa. Setelah Prancis menghadapi tekanan fiskal, kini Italia berada dalam perhatian investor menyusul rencana peningkatan belanja pemerintah yang berpotensi memperlebar defisit anggaran.

Goldman Sachs memperingatkan bahwa kombinasi kenaikan defisit dan imbal hasil obligasi dapat mendorong rasio utang Italia terhadap produk domestik bruto (PDB) terus meningkat hingga 2028.

Jika proyeksi tersebut terealisasi, Italia berpotensi mencatat rasio utang tertinggi di Eropa pada periode itu.

Pemerintahan Perdana Menteri Giorgia Meloni pada 2 Oktober menyetujui tambahan pembiayaan sebesar 28 miliar euro atau sekitar US$31 miliar untuk belanja pertahanan dan energi selama dua tahun ke depan.

Kebijakan tersebut membuat target defisit anggaran Italia pada 2027 naik menjadi 3,4% dari PDB dan 3,2% pada 2028.

Angka ini lebih tinggi dibandingkan proyeksi sebelumnya pada April, masing-masing sebesar 2,8% dan 2,5%, sehingga memunculkan pertanyaan mengenai kemampuan pemerintah menjaga disiplin fiskal.

Goldman Sachs Soroti Risiko Utang Italia

Filippo Taddei, ekonom senior Eropa di Goldman Sachs, menilai perubahan target defisit tersebut menjadi kejutan signifikan bagi pasar.

Dalam catatannya, ia memperingatkan bahwa kebijakan fiskal yang lebih longgar, kondisi keuangan yang semakin ketat, dan persaingan politik menjelang pemilu dapat memperburuk prospek utang Italia setelah empat tahun konsolidasi fiskal.

Kombinasi faktor tersebut berpotensi menekan kepercayaan investor terhadap surat utang pemerintah.

Goldman Sachs memperkirakan rasio utang Italia terhadap PDB akan terus meningkat hingga 2028 sebelum stabil di sekitar 137%. Risiko dinilai semakin besar apabila imbal hasil obligasi pemerintah Italia tenor 10 tahun bertahan di atas 4%.

Taddei menilai perubahan struktural menuju tingkat imbal hasil yang lebih tinggi dari ambang tersebut dapat membuat rasio utang terus meningkat setelah 2028.

Kondisi ini menjadi perhatian karena imbal hasil yang tinggi membuat pemerintah harus menanggung biaya lebih besar untuk membiayai utangnya.

Tekanan Obligasi Eropa dan Bayang-Bayang Pemilu

Kekhawatiran terhadap Italia muncul ketika pasar obligasi Eropa masih dibayangi tekanan fiskal Prancis.

Berdasarkan data yang dikutip dalam laporan, imbal hasil obligasi pemerintah Prancis tenor 10 tahun berada di kisaran 4,85%, sedangkan Italia sekitar 4,55%.

Selisih imbal hasil obligasi Italia terhadap obligasi acuan Jerman mencapai sekitar 108 basis poin.

Angka tersebut menunjukkan besarnya tambahan imbal hasil yang diminta investor untuk memegang obligasi Italia dibandingkan surat utang pemerintah Jerman.

Selain beban utang, ketidakpastian politik juga menjadi faktor yang perlu dicermati. Pemilihan umum Italia berikutnya harus digelar paling lambat 22 Desember 2027.

Menurut Goldman Sachs, persaingan politik yang ketat dapat menyulitkan pemerintahan berikutnya menerapkan kebijakan penghematan anggaran.

Partai-partai dari kubu kanan maupun kiri berpotensi mendorong tambahan belanja demi memperoleh dukungan koalisi, sehingga upaya menekan defisit bisa menghadapi tantangan baru.

Italia Masih Punya Penopang, tetapi Risiko Belum Hilang

Meski prospek utang memburuk, Italia sebelumnya mendapat apresiasi pasar karena berhasil menurunkan defisit anggaran menjadi 3,1% dari PDB pada 2025.

Stabilitas politik di bawah kepemimpinan Meloni turut membantu memperbaiki sentimen investor.

Tambahan belanja pertahanan dan energi juga memperoleh ruang melalui National Escape Clause Uni Eropa, mekanisme yang memberikan fleksibilitas anggaran sementara bagi negara anggota untuk menghadapi guncangan, termasuk dampak perang Rusia-Ukraina dan konflik di Timur Tengah.

Konstantin Veit, manajer portofolio di PIMCO, menilai obligasi pemerintah Italia masih memiliki sejumlah karakteristik yang relatif mendukung, terutama karena sebagian besar kepemilikannya berada di tangan investor domestik.

Menurutnya, kondisi tersebut dapat menjadi faktor penstabil saat pasar bergejolak. Ia juga menyoroti keseimbangan anggaran primer, arah kebijakan fiskal, dan stabilitas politik Italia.

Namun, Reinout De Bock, kepala strategi suku bunga Eropa di UBS Investment Bank, mengambil posisi jual (short position) pada obligasi pemerintah Italia atau BTP.

Langkah tersebut mencerminkan kekhawatiran bahwa surat utang Italia dapat menjadi titik lemah berikutnya di pasar obligasi Eropa.

3 Poin Penting:

  • Rasio utang Italia berpotensi mencapai 137% dari PDB pada 2028. Goldman Sachs memperkirakan utang akan meningkat sebelum stabil, dengan risiko tambahan jika imbal hasil obligasi tenor 10 tahun bertahan di atas 4%.
  • Defisit dan ketidakpastian politik menjadi tantangan utama. Tambahan belanja pertahanan dan energi mendorong target defisit 2027 dan 2028 lebih tinggi dibandingkan proyeksi sebelumnya.
  • Italia masih memiliki penopang ekonomi, tetapi risiko pasar tetap ada. Kepemilikan obligasi oleh investor domestik dan stabilitas politik dapat membantu, meski tingginya beban utang dan biaya pembiayaan perlu diwaspadai.

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

Rame 24 Jam

Rame Sepekan