Iran kembali membuka peluang negosiasi untuk mengakhiri perang dengan Amerika Serikat (AS). Kepala keamanan Iran, Mohsen Rezaei, mengungkapkan bahwa Teheran telah menyampaikan enam persyaratan terbaru kepada Washington melalui mediator Qatar.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam wawancara eksklusif dengan Al Jazeera pada Sabtu (10/10), di tengah konflik yang masih memanas di kawasan Timur Tengah.
Meski mengajukan persyaratan untuk membuka babak baru perundingan, Rezaei menegaskan bahwa Iran merasa lebih siap menghadapi konflik dibandingkan pada 40 hari pertama perang.
Konflik tersebut, menurut laporan yang diberikan, bermula pada akhir Februari setelah serangan gabungan AS dan Israel terhadap Iran. Teheran juga memperingatkan bahwa tekanan militer tidak akan membuatnya mundur dari tuntutan yang diajukan.
Enam Syarat Iran untuk Mengakhiri Perang dengan Amerika Serikat
Dalam wawancara tersebut, Rezaei memaparkan enam poin utama yang diminta Iran. Pertama, mengakhiri perang di seluruh front, terutama di Lebanon.
Kedua, membebaskan dana Iran senilai miliaran dolar AS yang dibekukan. Ketiga, menghentikan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Ketiga tuntutan ini berkaitan dengan penghentian konflik sekaligus pemulihan akses ekonomi dan perdagangan Teheran.
Tiga persyaratan lainnya mencakup penghentian campur tangan AS dalam urusan dalam negeri Iran, penghentian kerja sama Washington dengan pihak-pihak yang dianggap menentang revolusi Iran, serta penghentian seluruh serangan AS terhadap wilayah Iran.
Rezaei menegaskan sikap keras Teheran terhadap Washington.
Tuntutan Terbaru Iran Mirip dengan Kesepakatan Juni
Enam persyaratan terbaru tersebut memiliki sejumlah kesamaan dengan nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) yang disebut telah ditandatangani pada Juni.
Kesepakatan sebelumnya juga mencakup penghentian perang di semua front, penghormatan terhadap kedaulatan masing-masing pihak, larangan campur tangan dalam urusan domestik, penghentian blokade laut oleh kedua belah pihak, serta pembebasan dana Iran yang dibekukan.
MoU tersebut juga memuat usulan rekonstruksi senilai US$300 miliar yang didukung AS.
Selain itu, kesepakatan sebelumnya disebut mencakup komitmen Iran untuk tidak memperoleh atau mengembangkan senjata nuklir, pembukaan Selat Hormuz bagi pelayaran yang aman, serta pengecualian sanksi yang memungkinkan ekspor minyak mentah Iran dan layanan lainnya.
AS juga disebut akan menahan diri dari pemberian sanksi baru dan pengerahan tambahan pasukan ke kawasan tersebut. Namun, dalam wawancara terbarunya, Rezaei tidak menyinggung tuntutan reparasi perang yang sebelumnya pernah diajukan Teheran.
AS Belum Merespons, Ketegangan Regional Masih Berlanjut
Hingga pernyataan tersebut disampaikan, pemerintah AS belum memberikan tanggapan resmi terhadap enam persyaratan terbaru Iran. Rezaei mengatakan bahwa Teheran masih menunggu keputusan Washington.
Pernyataan itu memperlihatkan bahwa Iran berupaya mendorong negosiasi, tetapi tetap mempertahankan sikap tegas terhadap kemungkinan berlanjutnya konflik.
Di sisi lain, AS memperingatkan warganya di sejumlah negara Timur Tengah, termasuk Irak, Bahrain, Oman, Arab Saudi, Iran, Qatar, Lebanon, Kuwait, dan Yordania, agar meningkatkan kewaspadaan.
Washington menyebut situasi keamanan masih kompleks dan berpotensi mengalami eskalasi yang tidak terduga.
Presiden AS Donald Trump juga mempersingkat kunjungannya ke Camp David dan kembali ke Washington, DC, pada Sabtu. Gedung Putih tidak menjelaskan alasan kepulangan lebih awal tersebut.
Negosiasi Iran-AS Berpotensi Menjadi Penentu Konflik
Rob Geist Pinfold, dosen di King’s College London, menilai Trump mungkin akan menanggapi serius nota yang diajukan Iran.
Menurut analisisnya, upaya mengakhiri perang sebelum pemilu paruh waktu AS pada November dapat menjadi salah satu pertimbangan Washington.
Meski demikian, belum ada kepastian apakah pemerintah AS akan menerima persyaratan tersebut atau kembali mengajukan tuntutan tandingan.
Perkembangan negosiasi ini menjadi sorotan karena hasilnya dapat memengaruhi stabilitas Timur Tengah, keamanan jalur pelayaran, dan perdagangan energi global.
Enam tuntutan Iran tidak hanya menyangkut penghentian serangan, tetapi juga sanksi ekonomi, akses pelabuhan, serta hubungan politik kedua negara.
Keputusan Washington dan respons Teheran berikutnya akan menjadi faktor penting dalam menentukan apakah jalur diplomasi mampu meredakan konflik atau ketegangan justru kembali meningkat.
Statement:
Mohsen Rezaei, Kepala keamanan Iran
“Kami akan menghadapi Amerika dengan kekuatan yang lebih besar, serta melancarkan serangan yang lebih banyak dan lebih menyakitkan.”
“Kepentingan Washington adalah menerima persyaratan ini. Ancaman Trump tidak akan membuahkan hasil apa pun. Kami siap menghadapi perang yang menentukan.”
3 Poin Penting:
-
Iran mengajukan enam persyaratan: Teheran meminta penghentian perang di semua front, pembebasan dana yang dibekukan, pengakhiran blokade laut, penghentian campur tangan AS, penghentian kerja sama dengan pihak yang menentang revolusi Iran, serta penghentian serangan terhadap wilayahnya.
-
Terdapat kesamaan dengan MoU Juni: Sejumlah tuntutan terbaru sejalan dengan poin kesepakatan sebelumnya, termasuk penghentian konflik, pembebasan dana, dan penghentian blokade laut.
-
AS belum memberikan jawaban resmi: Situasi keamanan regional masih rawan eskalasi, sementara peluang negosiasi menjadi perhatian menjelang pemilu paruh waktu AS pada November.



