Di tengah polemik seputar kualitas film animasi Merah Putih: One for All, seorang animator dan digital artist asal Pakistan, Junaid Miran, muncul dengan pengakuan mengejutkan.
Miran mengeklaim bahwa film tersebut telah menggunakan enam karakter ciptaannya tanpa izin, bayaran, maupun apresiasi.
Klaim tersebut pertama kali muncul di kolom komentar YouTube akun Dibalik Mindplace, di mana Miran mempersoalkan haknya sebagai pencipta karakter utama film tersebut.
Komentar ini kemudian viral dan memicu perbincangan hangat di kalangan warganet, yang ikut memenuhi kolom komentar di kanal YouTube pribadi Miran.
Pengakuan dan Bantahan
Melalui kanal pribadinya, Miran menegaskan bahwa hingga kini belum ada pihak dari tim produksi yang menghubunginya.
Menurut data ArtStation, Junaid Miran adalah seorang freelance digital artist yang menjual karakter-karakternya secara daring, termasuk karakter yang diduga digunakan dalam film tersebut.
Di sisi lain, sutradara dan produser eksekutif film, Endiarto, sebelumnya telah menanggapi tudingan serupa dari warganet.
Ia membantah filmnya menjiplak aset 3D dari luar negeri dan menyebut kemiripan visual sebagai hal yang wajar dalam dunia kreatif. Menurutnya, sebuah film animasi memiliki kebebasan gaya dan kemiripan yang ada adalah sah-sah saja.
Merah Putih: One for All sendiri telah menjadi sorotan publik sejak trailer-nya dirilis. Banyak warganet yang menemukan kejanggalan pada berbagai elemen, mulai dari tampilan karakter, latar, hingga kualitas visual, yang memicu keraguan terhadap kualitas produksi film ini menjelang penayangan perdananya pada 14 Agustus 2025.
Statement:
Junaid Miran
“Terima kasih atas apresiasinya, kalian yang berasal dari Indonesia! Untuk menjawab pertanyaan yang paling umum: Tidak, tidak ada seorang pun dari tim produksi yang menghubungi saya atau memberi saya apresiasi atas penggunaan karakter saya sebagai karakter utama dalam film ini.”
“Mereka menggunakan total enam karakter.”
Sutradara dan produser eksekutif film Merah Putih: One for All, Endiarto
“Sebuah film animasi itu ada kebebasan gaya. Di situ kita bisa dapatkan interpretasi dari keahlian animator, lalu diformulasikan dalam bentuk visual.”
“Kalau pun itu mendekati dan hampir mirip, kan enggak bisa kita harus patok. Dunia itu luas, kalau ada kemiripan ya itu sah-sah saja.”
![Film "Yang Lain Boleh Hilang Asal Kau Jangan" [dok. web]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/WhatsApp-Image-2026-03-31-at-07.09.35-1.jpeg-300x169.webp)


