Pasar kendaraan elektrifikasi di Indonesia semakin ramai dengan kehadiran produsen elektronik lokal Polytron. Awal Mei lalu, PT Hartono Istana Teknologi (Polytron) secara resmi meluncurkan mobil listrik pertamanya, Polytron G3.
Dengan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) mencapai 40%, mobil ini diproduksi di fasilitas milik PT Handal Indonesia Motor (HIM), hasil kerja sama dengan produsen EV asal Tiongkok, Skyworth Auto.
Harga Kompetitif dengan Jarak Tempuh Fantastis
Polytron G3 dibanderol mulai dari Rp299 juta, sementara varian G3+ dijual seharga Rp399 juta. Menariknya, kedua varian ini hadir dengan sistem sewa baterai senilai Rp1,2 juta per bulan.
Mobil listrik bergaya SUV ini diklaim mampu menempuh jarak hingga 800 kilometer dalam sekali pengisian daya.
Mengitip Kontan, Polytron menargetkan penjualan 1.500 unit hingga akhir tahun 2025, dengan pengiriman pertama dimulai pada pertengahan Juli.
Investasi Mobil Listrik Tembus Triliunan Rupiah
Di sisi lain, pemerintah mengungkapkan bahwa investasi pabrik kendaraan listrik (EV) baru di Indonesia, termasuk dari merek seperti BYD, VinFast, dan Geely, telah mencapai Rp15,1 triliun.
Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur Dasar, Rachmat Kaimuddin, menyatakan bahwa realisasi investasi industri kendaraan listrik berbasis baterai (KBLBB) saat ini sudah mencapai Rp4,1 triliun dengan kapasitas produksi sekitar 70.000 unit per tahun.
Kapasitas Produksi Naik Lima Kali Lipat
Dengan masuknya investasi baru, pemerintah menargetkan total kapasitas produksi EV di Indonesia dapat meningkat lima kali lipat, dari 70.000 unit menjadi 350.000 unit per tahun.
Proyeksi ini didukung oleh pembangunan pabrik-pabrik baru seperti BYD di Subang dengan kapasitas 150.000 unit dan VinFast dengan kapasitas 50.000 unit.
Penjualan Mobil Listrik Terus Meroket
Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) optimistis bahwa penjualan mobil listrik berbasis baterai (BEV) akan tembus 60.000 unit pada akhir tahun 2025.
Data Gaikindo menunjukkan penjualan BEV pada Maret 2025 melesat 70,46% secara bulanan, menjadi 8.835 unit. Ini menandakan bahwa penjualan BEV kini melampaui mobil hibrida.
Insentif Pemerintah dan Dampak Merek Baru
Kenaikan penjualan ini didukung oleh insentif dari pemerintah melalui Peraturan Menteri Keuangan (PMK) 12/2025 yang memberikan diskon PPN 10% untuk kendaraan dengan TKDN minimal 40%.
Sekretaris Umum Gaikindo, Kukuh Kumara, juga menyebutkan bahwa banyaknya pilihan model BEV baru dari produsen Tiongkok yang menawarkan harga kompetitif dan jangkauan lebih panjang turut memicu peningkatan penjualan.
Statement:
Tekno Wibowo (Direktur Komersial Polytron)
“Kami mencari partner yang punya visi yang sama dengan kami… semakin banyak jualan, semakin cepat pabriknya berdiri.”
Rachmat Kaimuddin (Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur Dasar Kemenko)
“Harapan kami di akhir tahun 2025 ini, atau awal tahun depan, investasi masuk sekitar Rp15,1 triliun, dan kapasitas produksi bisa naik 5 kali lipat dari 70.000 menjadi 350.000 unit per tahun.”
Kukuh Kumara (Sekretaris Umum Gaikindo)
“Iya betul, BEV lagi naik… Banyak pilihan BEV yang bagus, jangkauan lebih panjang dan harganya lebih kompetitif.”



