Ironisnya, acara-acara semacam itu dikonsumsi oleh para ibu untuk jadi gunjingan gosip, biar gak kudet.
Oleh: Teguh Priyambodo (ex-Journo)
Setiap tanggal 24 Agustus, Indonesia memperingati Hari Televisi Nasional. Tanggal ini dipilih untuk mengenang siaran perdana Televisi Republik Indonesia (TVRI) pada 1962, bertepatan dengan perhelatan Asian Games IV.
Peringatan ini jua semestinya menjadi momentum untuk merenungkan kembali peran penting televisi sebagai media informasi, pendidikan, dan hiburan, sekaligus mengevaluasi kondisinya di tengah disrupsi teknologi digital saat ini.
Sepengetahuan saya, dalam beberapa dekade lampau televisi telah menjadi jendela utama masyarakat Indonesia untuk melihat dunia. Ia tak hanya menjadi sumber berita, tetapi juga sarana untuk menumbuhkan rasa persatuan melalui tayangan nasional dan program-program budaya.
Tapi apa lacur, seiring berjalannya waktu, kondisi pertelevisian Indonesia kini menghadapi tantangan besar.
Beragam acara yang disajikan sering kali didominasi oleh hiburan komersial, semisal sinetron, acara realitas, gosip, dan kompetisi katrolan yang terkadang mengabaikan konten edukatif dan berkualitas.
Ironisnya, acara-acara semacam itu dikonsumsi oleh para ibu untuk jadi gunjingan gosip, biar gak kudet.
Belum lagi gempuran platform digital seperti YouTube, Netflix, dan TikTok semakin menekan eksistensi televisi konvensional.
Masyarakat, terutama generasi muda, kini lebih memilih konten yang personal, interaktif, dan dapat diakses kapan saja melalui perangkat seluler.
Fenomena ini memaksa industri televisi untuk beradaptasi, namun inovasi yang dilakukan sering kali hanya berkutat pada format yang dangkal dan sensasional demi mengejar rating. Dan itupun belum cukup untuk mendulang iklan.
Pergeseran Peran dan Masa Depan Televisi
Kondisi ini jelas menimbulkan pertanyaan besar: bagaimana seharusnya televisi nasional bersikap?
- Kembali ke Esensi: Televisi harus kembali pada peran awalnya sebagai media edukasi dan kontrol sosial. Program-program yang mengedepankan literasi, ilmu pengetahuan, seni, dan jurnalisme investigatif perlu ditingkatkan. Penting bagi televisi untuk tidak hanya menjadi penyedia hiburan, tetapi juga pilar bagi kecerdasan bangsa.
- Inovasi Konten Berkualitas: Alih-alih berkompetisi dengan platform digital dalam hal kuantitas, televisi seharusnya fokus pada kualitas konten. Produksi dokumenter, film-film edukatif, dan program yang mengangkat kearifan lokal bisa menjadi pembeda. Dengan demikian, televisi dapat menawarkan sesuatu yang tidak bisa diberikan oleh media sosial yang serba cepat.
- Kolaborasi dan Adaptasi: Industri televisi tidak bisa lagi berjalan sendiri. Kolaborasi dengan kreator konten digital, universitas, dan komunitas lokal dapat menciptakan sinergi baru. Televisi juga perlu mengadopsi teknologi digital dengan menghadirkan layanan on-demand atau siaran langsung yang lebih interaktif untuk menjangkau audiens yang lebih luas.
Hari Televisi Nasional seharusnya menjadi pengingat bagi seluruh pemangku kepentingan, dari pemerintah, lembaga penyiaran, hingga masyarakat, bahwa televisi memiliki potensi besar untuk membentuk karakter bangsa.
Di tengah banjir informasi yang tak terkendali, televisi harus menjadi mercusuar yang menawarkan konten bermutu dan bertanggung jawab.



![Social Media Fatigue [dok. web]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/pexels-marcus-aurelius-4064174-300x200.jpg)