Produsen otomotif asal Cina mulai menyesuaikan strategi bisnis mereka di Uni Eropa (UE) sebagai respons terhadap kebijakan tarif tinggi yang diterapkan pada mobil listrik impor.
Beberapa perusahaan, termasuk BYD dan MG, kini meningkatkan fokus mereka pada produksi dan ekspor kendaraan hibrida ke pasar Eropa.
Pergeseran strategi ini didasari oleh perbedaan signifikan dalam bea masuk. Mobil listrik murni (EV) dikenakan tarif yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan mobil hibrida.
Contohnya, EV BYD yang dijual di Jerman menghadapi total tarif sebesar 27%, sementara model hibrida seperti BYD Seal U hanya dikenakan tarif 10%.
Perbedaan ini membuat harga mobil hibrida menjadi lebih kompetitif dan menarik di pasar Eropa.
Kian Agresif
Menurut laporan Dataforce, BYD tercatat mendaftarkan lebih dari 20.000 unit mobil plug-in hybrid (PHEV) di UE pada semester pertama 2025, angka yang melonjak lebih dari tiga kali lipat dibandingkan total impor sepanjang tahun 2024.
Hal serupa juga dilakukan oleh MG dan Lynk & Co. Di sisi lain, penjualan mobil listrik MG di Eropa anjlok 60% dalam enam bulan pertama tahun 2025 akibat tarif yang sangat tinggi, yaitu mencapai 45,3%.
Direktur Pusat Penelitian Otomotif Jerman, Beatrix Keim, menyatakan bahwa perubahan strategi ini hanyalah masalah waktu.
Produsen Cina akan terus menyesuaikan langkah mereka untuk tetap bersaing dan meraih keuntungan di pasar Eropa.
Meskipun Komisi Eropa menyadari celah ini, mereka optimistis masalah tarif dapat diselesaikan melalui negosiasi.
![pabrik vinfast [detik]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/pabrik-mobil-listrik-vinfast-di-subang-beroperasi-serap-900-tenaga-kerja-1767777406357-300x169.jpeg)


![Pertamina [dok. x]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/23PERTAMINA-2852696913-300x169.webp)