Search

Pengemudi Ojol Gelar Demo di Gedung DPR, Tuntut Keadilan untuk Affan Kurniawan

Senin, 8 September 2025

Ilustrasi himpunan ojol (Kompas.com)

Ribuan pengemudi ojek online (ojol) dari berbagai wilayah di Jabodetabek berencana menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung DPR, Senayan, Jakarta, pada Rabu, 17 September 2025.

Aksi ini diselenggarakan oleh Garda Indonesia dan diperkirakan akan diikuti oleh 5.000 peserta. Salah satu tuntutan utama mereka adalah agar kasus kematian rekan sesama ojol, Affan Kurniawan, diusut secara tuntas.

Ketua Umum Garda Indonesia, Raden Igun Wicaksono, mengatakan bahwa tuntutan terbaru mereka adalah penuntasan perkara Affan Kurniawan hingga tuntas dan agar keluarga korban mendapatkan keadilan.

Affan, seorang pengemudi ojol, tewas terlindas kendaraan taktis polisi saat aksi unjuk rasa pecah pada Kamis, 28 Agustus 2025.

Proses Hukum dan Kekecewaan Asosiasi

Insiden tragis yang menimpa Affan ini telah memicu gelombang demonstrasi yang lebih luas. Menanggapi kasus ini, salah satu polisi yang berada di dalam kendaraan taktis, Kompol Cosmas Kaju Gae, telah dipecat dengan tidak hormat.

Sementara itu, enam orang lainnya yang berada di dalam kendaraan tersebut berstatus sebagai saksi, dengan sopir kendaraan, Bribka R, akan menjalani sidang etik.

Meskipun kasus ini tengah diproses, Asosiasi Garda Indonesia menyatakan kekecewaannya terhadap pemerintah, khususnya Sekretariat Wakil Presiden (Setwapres).

Hal ini dipicu oleh pertemuan antara Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dengan perwakilan ojol yang, menurut Igun, tidak dikenal oleh asosiasi.

Igun mencurigai pertemuan tersebut sebagai upaya rekayasa untuk mencari simpati publik.

Tuntutan Penurunan Tarif dan Kekecewaan Terhadap Audiensi

Selain menuntut keadilan untuk Affan, para pengemudi ojol juga akan menyuarakan kembali tuntutan lama mereka. Mereka meminta pemerintah agar menurunkan potongan tarif aplikasi dari 15% menjadi 10%.

Igun menegaskan bahwa massa ojol akan terus berunjuk rasa hingga tuntutan utama mereka ini dikabulkan oleh pemerintah.

Menurut Igun, kecerobohan Setwapres dalam mengundang perwakilan ojol yang tidak dikenal ini berpotensi menimbulkan disinformasi.

Asosiasi Garda Indonesia merasa sebagai pihak yang seharusnya diundang, mengingat anggota mereka adalah saksi langsung dari insiden tragis yang menimpa Affan Kurniawan.

Kekeliruan ini membuat asosiasi ojol kecewa dan justru dinilai sebagai bumerang yang tidak meredakan amarah publik.

Statement:

Ketua Umum Garda Indonesia, Raden Igun Wicaksono

“Target massa hadir 5 ribu ojol.”

“Tuntutan terbaru adalah penuntasan perkara gugurnya Affa Kurniawan hingga tuntas dan keluarga almarhum mendapatkan keadilan.”

“Sampai tuntutan utama Potongan Aplikasi 10 persen dikabulkan, maka kami akan tetap aksi tanpa henti. Menhub harus merevisi potongan biaya aplikasi dari 15 persen menjadi 10 persen.”

“Enggak ada yang mengetahui dari kelompok mana mereka mewakili siapa. Karena yang pasti terlembaga, ya kami sebagai asosiasi kami terlembaga dan terdaftar pada negara maupun pemerintah Republik Indonesia.”

“Jadi yang beredar di rekan-rekan ojol adalah kawan-kawan ini kecewa apalagi melihat ada kelompok yang tidak pernah mewakili ojek online tiba-tiba bersama wapres. Apakah ini adalah sebuah rekayasa atau settingan untuk memanfaatkan kejadian tragedi meninggalnya Affan Kurniawan untuk mencari simpati dengan mengundang ojol atau orang beratribut ojol yang kami tidak tahu itu ojol atau bukan.”

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

24 Jam

Sepekan