Julukan negara agraris yang pernah disandang Indonesia, terutama setelah mencapai swasembada pangan pada 1984-1985, kini sering dipertanyakan di tengah tantangan modernisasi dan defisit pangan.
Namun, di pelosok Kabupaten Lebak, Banten, terdapat sebuah benteng budaya yang membuktikan bahwa identitas agraris Indonesia masih hidup dan kuat.
Mereka adalah Masyarakat Adat Kasepuhan Citorek, sebuah komunitas yang menjadikan pertanian bukan sekadar mata pencaharian, melainkan sebagai budaya yang dijaga ketat oleh aturan adat.
Simbol nyata dari ketahanan pangan mereka adalah deretan leuit atau lumbung padi tradisional. Hampir setiap kepala keluarga di Citorek memiliki leuit, yang menjadikan wewengkon mereka dijuluki ‘negeri seribu leuit.’
Di tengah gempuran pangan instan dan teknologi, masyarakat Citorek tetap teguh pada filosofi hidup “saetik mahi loba nyesa”—sedikit cukup banyak ada sisanya.
Prinsip kesederhanaan ini mencerminkan kearifan leluhur dalam mengelola sumber daya, menjamin ketersediaan pangan untuk generasi mendatang.
Bertani Adalah Budaya: Ritualitas dan Penanggalan Leluhur
Sistem pertanian di Kasepuhan Citorek sepenuhnya masih tradisional dan terikat erat pada norma adat. Seluruh tahapan pertanian—mulai dari pengolahan tanah, penanaman, hingga panen—dilakukan secara serentak, dipandu oleh baris kolot (kokolot).
Para tetua adat ini memiliki pemahaman mendalam tentang hubungan antara kegiatan pertanian dan klimatologi, menggunakan sistem penanggalan kalender hijriah untuk menentukan waktu tanam yang paling tepat.

Antusiasme masyarakat Citorek terlihat jelas, seperti saat kegiatan panen raya serentak yang bertepatan pada bulan September 2025.
Panen ini didahului dengan ritual adat yang disebut mipit, dan masyarakat dilarang mendahului panen di lahan mereka sebelum panen di sawah tangtu atau sawah adat selesai.
Bahkan, masyarakat luar Citorek pun ikut berpartisipasi dalam panen, sebuah tradisi yang mereka sebut déreup.
Semangat gotong royong ini, dipadukan dengan pemandangan ibu-ibu bertudung parada yang sigap membawa etem (alat panen tradisional), menunjukkan betapa bertani telah mendarah daging.
Strategi Ketahanan Pangan: Panen Setahun Sekali dan Larangan Menjual Massal
Sistem penanaman padi di Citorek diatur secara adat, yang uniknya, hanya membolehkan masyarakat menanam satu kali dalam satu tahun. Strategi ini adalah bentuk kewaspadaan kolektif untuk menghadapi musim paceklik.
Untuk menjaga stok pangan tetap aman, masyarakat Citorek secara mandiri mengisi lumbung mereka, dan yang terpenting, mereka dilarang menjual hasil panen (padi) secara massal, hanya diperbolehkan seperlunya saja.

Kearifan lokal ini membuahkan hasil luar biasa: padi yang tersimpan di leuit mampu bertahan belasan hingga puluhan tahun.
Hal ini karena proses pengeringan yang dilakukan secara tradisional menurunkan kadar air bulir padi hingga di bawah 10%.
Kualitas simpan yang tinggi ini membuat mereka bisa mencapai surplus beras yang mampu memenuhi kebutuhan selama 2 sampai 3 tahun, menjamin cadangan pangan tetap aman bahkan jika panen tahun berikutnya kurang bagus.
Jejak Sejarah dan Harapan untuk Generasi Muda Agraris
Budaya agraris Kasepuhan Citorek menjadi pelajaran berharga bagi Indonesia secara keseluruhan. Di tengah pandemi COVID-19 sekalipun, antusiasme masyarakat tetap tinggi karena mereka sangat memahami betapa pentingnya menjaga cadangan pangan.
Mereka secara turun-temurun, melalui doktrin orang tua kepada anak muda, menanamkan kesadaran tentang pentingnya menjaga cadangan pangan.

Bahkan kini, mereka mengambil langkah strategis dengan mendirikan Kelompok Usaha Masyarakat Adat (KUMA) MILA KENCANA untuk meningkatkan nilai jual Beras Merah Citorek dan kerajinan lokal tanpa mengorbankan nilai tradisional.
Kearifan lokal Citorek di bidang pertanian adalah jejak sejarah yang membuktikan bahwa nenek moyang kita adalah masyarakat agraris sejati.
Di tengah lonjakan penduduk usia produktif dan tantangan lapangan kerja, sektor pertanian sangat potensial.
Citorek membuktikan bahwa tradisi dan kemajuan dapat berjalan seiring, bahkan menjadi kekuatan untuk membangun masa depan berkelanjutan.


![kolonial belanda [dok. web]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/peninggalan-kolonial-belanda-2-300x200.jpg)
![nabi khidir [dok. web]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/5-hal-menarik-dari-nabi-khidir-yang-jarang-diketahui-iqp-300x200.webp)