Search

Ducati Menyesal Soal Kebuntuan Panjang Pecco Bagnaia di MotoGP 2025

Selasa, 30 September 2025

Davide Tardozzi, manajer Tim Ducati Lenovo (Marc Fleury)

Musim MotoGP 2025 menyajikan drama emosional bagi tim Ducati Lenovo. Di balik dominasi dan persaingan sengit, terdapat kisah perjuangan batin yang dialami juara dunia, Francesco Bagnaia.

Mengutip SkySport, manajer tim, Davide Tardozzi, secara terbuka mengungkapkan penyesalannya atas kebuntuan panjang yang menimpa Bagnaia sepanjang musim, di mana sang pembalap terus mengeluh tak cocok dengan motor barunya, Ducati Desmosedici GP25.

Jelang seri ke-17 di GP Jepang, atmosfer di garasi Ducati diwarnai ketidakpuasan Bagnaia.

Pembalap Italia itu bahkan sempat melontarkan ide yang mengejutkan: kembali menggunakan motor GP24, tunggangan yang membawanya meraih 11 podium tertinggi grand prix musim sebelumnya.

Keluhan ini menimbulkan dilema serius, terutama karena motor GP25 terbukti sangat kencang di tangan rekan setimnya yang tampil dominan, Marc Marquez.

Peran Pembalap Lebih Penting dari Model Motor

Namun, di tengah krisis kepercayaan motor yang dialami Bagnaia, Tardozzi tetap bersikap profesional.

Ia menekankan bahwa dalam olahraga motor, adaptasi dan kemampuan pembalap memainkan peran yang jauh lebih krusial dibandingkan model motor semata.

Ini bukan hanya masalah teknis, tetapi juga masalah mentalitas dan adaptasi di lintasan yang berbeda. Sebuah pernyataan yang menuntut Bagnaia untuk fokus mencari solusi di balik kemudi, bukan hanya pada spesifikasi mesin.

Terobosan Emosional di Grand Prix Jepang

Tekanan dan keraguan panjang yang membebani Bagnaia akhirnya menemukan titik balik yang emosional di GP Jepang akhir pekan lalu.

Di trek yang menuntut presisi tinggi, Bagnaia tidak hanya menemukan kembali feeling-nya, tetapi juga menunjukkan performa yang benar-benar mendominasi.

Ia berhasil menyapu bersih kemenangan, meraih pole position serta finis terdepan baik dalam balapan Sprint maupun balapan Grand Prix.

Kemenangan ini terasa seperti terobosan nyata, sebuah pembalasan manis atas keraguan yang menghantuinya.

Bagnaia selalu meninggalkan lawan-lawannya di belakang, termasuk Marc Marquez, yang harus puas finis di posisi kedua pada kedua balapan tersebut.

Kinerja di Jepang membuktikan bahwa Bagnaia, sang juara, akhirnya mampu menjinakkan Desmosedici GP25 dan menguasai lintasan, menjawab tantangan adaptasi yang dilemparkan oleh manajernya.

Mengembalikan Kepercayaan dan Momentum Juara

Kemenangan ganda di Jepang bukan hanya sekadar menambah poin, tetapi juga mengembalikan kepercayaan diri Bagnaia pada motor barunya.

Momen ini menjadi penutup yang manis atas kebuntuan yang sempat membuatnya frustrasi. Performa yang selalu meninggalkan rekan setimnya—yang notabene adalah penantang terberatnya—menunjukkan bahwa Bagnaia telah menemukan setting ideal yang dicari-cari sepanjang musim.

Bagi Ducati, terobosan ini adalah kabar baik yang sangat dinantikan, mengakhiri kekhawatiran tentang potensi Bagnaia yang tertahan.

Kisah perjuangan Bagnaia dan penyesalan Tardozzi menjadi pelajaran berharga tentang betapa pentingnya faktor manusia dan adaptasi dalam olahraga yang sangat mengandalkan teknologi.

Momentum juara kini kembali dalam genggaman pembalap Chivasso itu.

Statement:

Davide Tardozzi, Manajer Tim Ducati Lenovo

“Terkadang ada pembalap [motor] ’24 yang cepat dan yang lambat, ada pembalap ’25 yang cepat dan yang lebih lambat.”

“Ini bukan soal motor 2024 atau 2025, ini soal bagaimana para pembalap dari motor yang satu dan yang lain beradaptasi dengan lintasan atau situasi.”

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

24 Jam

Sepekan