Search

Kisah Heroik Dapur Gizi yang Tumbang oleh Angka Rp6.500

Rabu, 1 Oktober 2025

Siswa SD dan menu MBG (istimewa)
Siswa SD dan menu MBG (istimewa)

Sebuah kisah pilu nan ironis baru saja ditorehkan di Makassar, Sulawesi Selatan, Seperti diberitakan CNN Indonesia.

Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Panakkukang 02—benteng terakhir pertahanan gizi anak bangsa—akhirnya mengibarkan bendera putih dan menghentikan operasinya.

Sungguh tragis, program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diagung-agungkan itu kini tinggal kenangan manis berujung pahit.

Konsekuensinya, ratusan siswa harus kembali membayangkan gizi ideal di meja makan mereka, sementara puluhan pahlawan dapur secara mendadak dianugerahi status ‘pengangguran terhormat’.

Lantas, apa pemicu jatuhnya kerajaan gizi ini?

Jawabannya sungguh mencengangkan: sebuah keputusan jenius yang mematok uang belanja MBG hanya sebesar Rp6.500 per porsi. Mitra Badan Gizi Nasional (BGN), Arifin Gassing, bahkan terpaksa mengakui kebingungannya yang mendalam.

Rupanya, meskipun semangat Presiden Prabowo setinggi langit, realitas di meja birokrasi lebih memilih untuk berhemat secara ekstrem, mengorbankan kualitas gizi dan nasib ratusan anak demi patokan harga yang mungkin hanya cukup untuk membeli kerupuk level premium.

Seni Pasrah dan Tradisi Vakum Gizi

Kepala UPT SPF SD Negeri Tamamaung 1, Basora, menjadi saksi bisu dari drama ini. Ia harus melihat 383 siswanya kembali ke masa pra-MBG.

Dengan sikap pasrah yang menggugah haru, Basora hanya bisa berkata kalau datang kita terima, tidak datang mau bagaimana lagi. Ia berharap ke depan kebijakan ini lebih terarah.

Kalimat itu seolah merangkum filosofi pendidikan masa kini: pihak sekolah tidak punya pilihan selain menerima takdir diet yang diputuskan oleh kebijakan di kantor pusat yang berjarak ratusan kilometer.

Ironisnya, drama ini bukan pertunjukan perdana. Basora mengenang kembali “Tradisi Vakum Gizi” yang pernah terjadi pada Agustus lalu, di mana penyaluran MBG sempat terhenti selama dua pekan.

Ini membuktikan bahwa program MBG memiliki kemampuan unik untuk menghilang dan muncul kembali sesuai mood anggaran, memaksa siswa beradaptasi dengan konsep intermittent fasting yang tidak disengaja.

Basora kini terpaksa kembali menganjurkan siswa untuk berkreasi dengan bekal dari rumah, sebuah solusi sederhana yang jauh lebih terjangkau ketimbang menyediakan makanan bergizi seharga Rp6.500.

Logika Ajaib dan Nasib Pahlawan Dapur

Di sudut lain, Kepala UPT SPF SD Negeri Karuwisi 2, Fatmasanra, mempertanyakan logika di balik kebijakan pemberhentian sementara ini.

Pernyataannya menyoroti kemampuan ajaib birokrasi dalam menangguhkan mandat tertinggi negara hanya dengan selembar surat.

Ini adalah bukti bahwa di Indonesia, yang absolut bukanlah ideologi, melainkan surat pemberhentian sementara.

Sambil menanti keajaiban regulasi, puluhan pekerja dapur harus mengubur mimpi mereka untuk sementara.

Sejatinya, mereka adalah motor penggerak program, yang kini terpaksa diparkir tanpa gaji. Mereka bukan sekadar tukang masak, mereka adalah tulang punggung keluarga yang kini goyah.

Gizi yang Tertunda: Sebuah Kehormatan Bagi Angka

Penghentian program ini mengajarkan kita satu hal: niat baik harus tunduk pada kalkulator yang tidak peka.

Gizi anak-anak, kesehatan bangsa, dan nasib para pekerja, semua harus mengalah demi kehormatan angka Rp6.500 yang telah ditetapkan.

Di Makassar, perjuangan melawan stunting kini berhadapan dengan efisiensi biaya yang terlalu efisien.

Kita hanya bisa berharap, dalam proses scrolling berita, para pengambil keputusan segera menyadari bahwa gizi tidak bisa diukur dengan kalkulasi yang setara dengan harga parkir motor seharian.

Statement:

Arifin Gassing, Mitra Badan Gizi Nasional (BGN)

“Saya juga tidak mengerti kenapa harus Rp6.500. Padahal jelas petunjuk Presiden lebih besar dari itu.”

Fatmasanra, Kepala UPT SPF SD Negeri Karuwisi 2

“Ini menjadi pertanyaan. Mengapa ada arahan pemberhentian sementara, padahal program MBG merupakan ketentuan dari pemerintah pusat.”

Nurul Istiqomah, Pekerja Dapur MBG terdampak

“Banyak dari kami hanya bergantung pada kegiatan MBG untuk menghidupi keluarga. Kami berharap ada solusi cepat agar dapur ini bisa buka lagi, demi anak-anak dan demi dapur kami.”

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

24 Jam

Sepekan