Search

Puncak Investasi Hijau: Indonesia Jadi Poros Utama Rantai Nilai Global Tiongkok

Rabu, 8 Oktober 2025

Ilustrasi solar panel (dok. PLN)

Indonesia kini berdiri di garda terdepan sebagai negara tujuan utama investasi hijau Tiongkok di dunia.

Temuan menakjubkan dari laporan “China’s Green Leap Outward” yang dirilis oleh Net Zero Industry Policy Lab ini menegaskan bahwa Indonesia telah menjadi poros penting dalam rantai nilai industri hijau global yang sedang dikembangkan Tiongkok.

Fokus investasi terletak pada klaster nikel dan bahan prekursor baterai, serta proyek manufaktur panel surya.

Laporan tersebut mencatat, total investasi Tiongkok ke proyek manufaktur hijau global telah mencapai sedikitnya USD227 miliar, bahkan mendekati USD250 miliar.

Angka kolosal ini bahkan melampaui nilai investasi legendaris Marshall Plan Amerika Serikat ($200 miliar dalam nilai dolar 2024), menunjukkan besarnya ambisi Tiongkok.

Meskipun aliran modal ke Timur Tengah dan Afrika Utara melonjak, Indonesia, bersama Malaysia, Brasil, dan Hungaria, tetap menjadi magnet yang menarik aliran proyek baru secara stabil, mengukuhkan posisi Indonesia dalam peta ekonomi masa depan.

Dua Sisi Mata Uang: Pulau Manufaktur atau Pembangunan Berkelanjutan?

Kesuksesan Indonesia menarik investasi besar ini menimbulkan pertanyaan mendasar mengenai dampak jangka panjangnya.

Co-director Net Zero Industrial Policy Lab Johns Hopkins, Tim Sahay, menekankan bahwa megaproyek industri hijau ini berpotensi membawa dua hasil yang sangat kontras: pembangunan positif atau justru menjadikan negara tuan rumah sebagai ‘pulau manufaktur’ yang terisolasi dari manfaat luas.

Hasil akhir sangat bergantung pada pilihan kebijakan domestik yang diambil oleh Indonesia.

Sahay memberikan peringatan humanis bahwa negara-negara tuan rumah harus bersikap proaktif.

Mereka perlu merencanakan, mendanai, dan melaksanakan kebijakan industri hijau secara mandiri, sekaligus bernegosiasi keras dengan perusahaan Tiongkok untuk memastikan prioritas pembangunan berkelanjutan benar-benar tercapai.

Investasi harus dimanfaatkan untuk mendorong transfer teknologi, perlindungan lingkungan, dan memastikan adanya klausul penambahan nilai lokal.

Nikel dan Kobalt: Jantung Operasi Baterai Global

Saat ini, sektor terbesar dalam belanja teknologi hijau Tiongkok di luar negeri adalah manufaktur material baterai.

Komitmen yang diumumkan, setelah memasukkan proyek 2025, telah melampaui USD62 miliar. Investasi ini terkonsentrasi sangat kuat di kawasan ASEAN, khususnya Indonesia, karena kekayaan cadangan nikel dan kobalt yang melimpah.

Indonesia secara efektif telah menjadi titik panas baru untuk material baterai.

Sebagai ilustrasi nyata, produsen material baterai berbasis nikel kelas dunia seperti CNGR, Huayou Cobalt, dan GEM memusatkan seluruh operasi mereka di Indonesia.

Keterpusatan operasi ini menjadikan Indonesia sebagai pemain kunci yang tak terhindarkan dalam rantai pasok kendaraan listrik global.

Sementara Eropa dan Amerika Serikat masih menarik proyek bernilai tinggi, hambatan perdagangan justru mendorong pergeseran arus modal menuju negara-negara dengan sumber daya melimpah seperti Indonesia.

Harga yang Harus Dibayar: Isu Keselamatan dan Lingkungan

Di tengah gegap gempita investasi dan pencapaian ekonomi, Policy Strategist Yayasan Indonesia CERAH, Naomi Devi Larasati, menyuarakan kekhawatiran yang sangat manusiawi.

Meskipun kolaborasi dengan Tiongkok wajar dalam upaya transisi energi, Naomi menegaskan bahwa investasi Tiongkok selama ini di Indonesia tidak sepenuhnya bebas masalah.

Ada harga mahal yang harus dibayar oleh masyarakat dan lingkungan.

Data menunjukkan sisi kelam dari investasi ini. Trend Asia mencatat kecelakaan kerja di industri nikel Indonesia antara tahun 2015 hingga 2023, termasuk 21 korban jiwa di PT Indonesia Tsingshan Stainless Steel (ITSS).

Selain itu, PT Indonesia Huabao Industrial Park (IHI) dilaporkan menyebabkan pencemaran udara, yang mengakibatkan lonjakan kasus ISPA di kalangan masyarakat sekitar, dari kasus pada 2021 menjadi lebih dari kasus pada 2023.

Isu-isu mendasar ini perlu ditangani dengan serius jika Indonesia ingin memastikan investasi Tiongkok benar-benar membawa manfaat nyata dan berkelanjutan bagi masyarakat lokal.

Statement:

Naomi Devi Larasati, Policy Strategist Yayasan Indonesia CERAH

“Hal ini mencakup penciptaan lapangan kerja bagi masyarakat setempat, alih teknologi dan keterampilan, serta kepatuhan terhadap standar ESG.”

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

24 Jam

Sepekan