Search

Mengapa Tempe Asli Indonesia Menjadi ‘Superfood’ Global

Jumat, 17 Oktober 2025

Ilustrasi tempe (istimewa)

Setiap tanggal 16 Oktober, dunia merayakan Hari Pangan Sedunia (World Food Day) dengan seruan “Hand in Hand for Better Foods and a Better Future.

Di tengah seruan global untuk ketahanan pangan yang berkelanjutan dan sejahtera, Indonesia memiliki pahlawan sederhana yang telah lama berkontribusi pada solusi pangan dunia: tempe.

Makanan hasil fermentasi kedelai ini bukan lagi sekadar lauk pauk di meja makan Nusantara, melainkan telah diakui secara global sebagai solusi mengatasi permasalahan pangan dan dikategorikan sebagai superfood berkat kandungan gizinya yang luar biasa.

Kisah tempe adalah kisah tentang inovasi yang lahir dari kearifan lokal. Menurut sejarawan Fadly Rahman, kedelai sebagai bahan dasar tempe telah dikenal di Nusantara sebelum abad ke-10, kemungkinan diperkenalkan oleh pedagang Tionghoa.

Dari bahan inilah masyarakat Jawa menciptakan dua pangan penting: tahu, yang jejaknya lebih tua (tersebut dalam Prasasti Watukura tahun 902 Masehi), dan tempe, yang baru tercatat berabad-abad kemudian.

Istilah tempe pertama kali muncul dalam Serat Centhini pada abad ke-16, dalam makanan “besengek tempe pitik” dan “kadhele tempe,” menunjukkan bahwa tempe adalah kreasi asli Jawa Tengah.

Dari Kearifan Lokal Jawa ke Penyelamat di Masa Krisis

Sejarawan Fadly Rahman menduga, kemunculan tempe adalah hasil kreasi olahan kedelai yang berfungsi sebagai produk protein nabati pengganti daging pada abad ke-19.

Kemungkinan besar teknik pembuatannya berasal dari peragian ampas kelapa (bongkrek) atau pengaruh teknik inokulasi jamur dari orang Tionghoa.

Sejak saat itu, tempe menjadi bagian tak terpisahkan dari konsumsi harian masyarakat Nusantara, sebuah makanan yang merakyat dan mudah diakses.

Kehadiran tempe membuktikan dirinya sebagai solusi makanan di kala susah. Selama masa krisis ekonomi global tahun 1930-an, ketika harga bahan pangan hewani seperti daging dan ikan melambung tinggi, tempe tampil sebagai penyelamat.

Dengan harga yang murah dan kandungan gizi yang tinggi, tempe berhasil mencukupi kebutuhan protein banyak keluarga di Indonesia, bahkan menjadi santapan penting bagi sebagian bangsa Eropa yang tinggal di sana.

Ini menunjukkan betapa humanisnya tempe; ia adalah makanan yang mengatasi kesenjangan ekonomi di meja makan.

Etnisitas di Balik Daun Pisang: Tempe Menarik Minat Dunia

Popularitas tempe mulai meroket di kancah global sejak masa kolonialisme. Para peneliti Belanda menjadi pihak pertama yang mempublikasikan riset tentang tempe sejak tahun 1875.

Namun, tempe baru benar-benar diproduksi secara komersial di Eropa pada kurun waktu 1946 hingga 1959.

Menurut peneliti tempe William Shurtleff dan Akiko Aoyagi dalam History of Tempeh (1980), lonjakan pamor tempe di Amerika Serikat (AS) didorong oleh penelitian para ahli di Cornell University dan USDA.

Penelitian ilmiah tersebut mengisolasi kultur bakteri Rhizopus oligosporus yang vital, dan membuktikan tempe memiliki kandungan gizi yang luar biasa.

Ilmuwan di AS bahkan memperkenalkan inovasi pembungkusan menggunakan kantong plastik—sebuah perubahan pragmatis dari daun pisang yang membuat produksi lebih efisien dan memudahkan penyebarluasan ke seluruh dunia.

Sejak itu, tempe tak terbendung, menjadi makanan sehat favorit di Barat, terutama di kalangan penganut vegetarian yang mencari sumber protein nabati yang murah dan berkelanjutan.

Di Meja Makan Presiden Carter: Solusi Pangan Global

Pengakuan global terhadap tempe mencapai puncaknya ketika bahkan Presiden AS Jimmy Carter (1977-1981) mendapat masukan dari penasihatnya untuk mendukung tempe sebagai solusi dalam kebijakan pangan nasional.

Saat itu, tempe dipandang sebagai sumber protein nabati murah dan berkelanjutan yang berpotensi membantu mengatasi krisis pangan global.

Ini adalah sebuah kehormatan yang membuktikan bahwa makanan sederhana dari Jawa mampu bersaing di tingkat kebijakan tertinggi dunia.

Shurtleff dan Aoyagi mencatat, tempe kini diproduksi dan dikonsumsi secara luas di berbagai negara, tak hanya di Asia, Eropa, dan AS, tetapi juga di Afrika dan Amerika Latin.

Keberadaan pabrik-pabrik tempe di setiap benua mengindikasikan tingginya permintaan dan penerimaan masyarakat global.

Tempe, yang lahir dari kearifan lokal dan terbungkus daun pisang, kini benar-benar menjadi simbol ketahanan pangan global, menyatukan orang-orang dari berbagai latar belakang budaya di bawah payung superfood yang sama.

Statement:

Fadly Rahman, Sejarawan Kuliner

“Kisah tempe adalah kisah tentang kekuatan inovasi lokal yang humanis. Ia adalah protein murah yang menyelamatkan orang-orang di masa krisis 1930-an, dan kini menjadi solusi berkelanjutan di masa krisis iklim. Ketika Presiden Carter didorong untuk memasukkan tempe dalam kebijakan pangan nasionalnya, itu bukan hanya soal gizi, tapi soal kemandirian pangan yang bisa dicapai. Tempe membuktikan bahwa warisan kuliner kita memiliki relevansi global yang tak terbantahkan.”

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

24 Jam

Sepekan