Search

Saat Mayoritas Puas dengan Janji Seperempat Triliun, Sisanya Bingung Mencari Lapangan Kerja

Rabu, 22 Oktober 2025

Ilustrasi pencari kerja (Kompas)

Sebuah tahun telah berlalu, dan seperti tradisi tahunan di Indonesia, panggung politik kembali dihiasi pesta survei yang penuh angka dan makna ganda.

Lembaga survei Median baru saja merilis hasil kepuasan publik terhadap satu tahun pemerintahan duet Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming, dan hasilnya, secara satire, menunjukkan bahwa mayoritas rakyat Indonesia adalah sosok yang pemaaf dan optimistis.

Secara umum, 68,9% responden menyatakan puas—sebuah angka yang tentu saja disambut dengan tepuk tangan meriah di Istana.

Namun, drama angka ini semakin humanis saat kita bedah alasannya. Mayoritas responden menyatakan puas (49,9% puas dan 19% sangat puas) didominasi oleh satu program sederhana namun menarik: Makan Bergizi Gratis (MBG), yang menyumbang 32,1% suara bahagia.

Ironi yang menusuk adalah, di saat yang sama, 25,2% responden menyatakan tidak puas, dan alasan ketidakpuasan itu didominasi oleh isu keracunan MBG dan susahnya mencari lapangan kerja.

Jadi, rakyat kita seolah berkata: “Kami senang perut terisi, tapi kami keracunan, dan setelah kenyang, kami tetap menganggur.”

Duel Survei dan Angka Keracunan yang “99,99% Berhasil”

Kontras angka semakin tajam jika dibandingkan dengan lembaga lain. Poltracking Indonesia, misalnya, sehari sebelumnya sudah merilis angka kepuasan yang jauh lebih “fantastis” lagi: 78,1%—sebuah angka yang membuat 68,9% milik Median terasa “kurang memuaskan.”

Duel survei ini secara satire menyoroti bahwa tingkat kepuasan publik di Indonesia tampaknya elastis, tergantung lembaga mana yang mengeluarkan hasil.

Sementara itu, program MBG, yang menjadi sumber utama kepuasan dan ketidakpuasan, mengalami drama internal.

Di satu sisi, survei Median mencatat 63,9% puas dengan MBG. Di sisi lain, Presiden Prabowo sendiri sudah mengeluarkan data statistik untuk meredakan kekhawatiran: dari seluruh penerima manfaat, angka keracunan hanya sekitar 0,0007%.

Dengan nada yang sangat humanis-satire, Prabowo menyimpulkan: “Artinya, program ini 99,99% berhasil,” seolah menunjukkan bahwa dalam proyek skala besar, satu atau dua kasus keracunan adalah margin of error yang bisa diterima.

Menteri Paling Disukai dan Dilema Perbaikan MBG

Survei ini juga mencerminkan selera publik terhadap kabinet.

Lima menteri teratas yang paling disukai—seperti Menkeu Purbaya Yudi Sadewa dan Menko Infrastruktur Agus Harimurti Yudhoyono—seolah menunjukkan bahwa rakyat lebih menyukai menteri yang urusannya dengan uang dan proyek, atau menteri yang wajahnya sering muncul di media.

Ini adalah potret humanis tentang bagaimana popularitas menteri bisa didorong oleh sentimen, bukan semata kinerja.

Kembali ke MBG, meski puas, ada permintaan perbaikan yang sangat pragmatis. Sebanyak 38,3 persen responden meminta MBG dihentikan sementara untuk diperbaiki.

Ini adalah permintaan yang masuk akal: “Kami suka hadiahnya, tapi tolong jangan membuat kami sakit.”

Ironi tercipta ketika 48,9% yang puas ingin program dilanjutkan, sementara 25,2% yang tidak puas melihat program ini sebagai pemborosan APBN dan pintu masuk korupsi.

Metode Survei Media Sosial dan Kesimpulan Kebahagiaan

Survei Median ini sendiri memiliki keunikan tersendiri: menggunakan kuesioner berbasis Google Form yang disebar melalui media sosial.

Dengan hanya 600 responden yang aktif di media sosial, hasil ini secara satire mungkin lebih mencerminkan kebahagiaan digital pengguna media sosial ketimbang realitas seluruh populasi Indonesia.

Pada akhirnya, angka kepuasan 68,9% (atau 78,1%, tergantung mana yang disukai) adalah sebuah pengakuan humanis bahwa harapan rakyat Indonesia terhadap pemimpinnya sangat tinggi, bahkan jika harapan itu diimbangi dengan kasus keracunan kecil dan kesulitan mencari pekerjaan.

Pemerintah boleh berbangga dengan angka keberhasilan 99,99%, asalkan mereka tidak melupakan 0,0007% yang sedang sakit perut.

 

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

24 Jam

Sepekan