Kabar mengkhawatirkan menyelimuti dunia otomotif, khususnya bagi penggemar tim balap KTM. Setelah diperkirakan akan mengambil alih kendali penuh atas KTM AG pada November mendatang, Bajaj Auto melalui Direktur Utamanya, Rajiv Bajaj, mengumumkan rencana restrukturisasi radikal.
Rencana ini mencakup pemotongan biaya overhead hingga 50% di berbagai departemen, sebuah langkah yang secara langsung akan memukul bagian penelitian, pengembangan, pemasaran, dan yang paling disorot, divisi balap yang menaungi tim KTM dan satelit Tech3.
Dalam sebuah wawancara blak-blakan dengan CNBC-TV18, Rajiv Bajaj menyampaikan optimismenya terhadap pengambilalihan kendali ini.
Setelah hampir 18 tahun menjadi mitra minoritas, Bajaj Auto diperkirakan akan menjadi pemegang saham mayoritas dengan porsi 76%, setelah menunggu persetujuan akhir dari Komisi Eropa.
Ini sekaligus menandai berakhirnya era kepemimpinan sebelumnya di pabrikan motor asal Austria tersebut.
Mengurai Benang Kusut Kebangkrutan: Keserakahan Operasional dan Strategis
Rajiv Bajaj tidak hanya mengumumkan rencana pemotongan biaya, tetapi juga secara terang-terangan menuding manajemen sebelumnya sebagai penyebab kehancuran finansial KTM.
Ia mengaitkan kebangkrutan perusahaan dengan apa yang ia sebut sebagai “keserakahan operasional dan strategis” yang dilakukan mantan pemegang saham terbesar, Stefan Pierer.
Menurut Bajaj, keserakahan operasional tercermin dalam keputusan KTM Austria untuk terus berproduksi secara berlebihan meskipun permintaan pasar global setelah pandemi COVID-19 telah mereda.
Sementara itu, keserakahan strategis dicontohkan dengan masuknya perusahaan ke bisnis yang tidak memiliki sinergi nyata dengan bisnis inti motor, seperti divisi sepeda yang kini mengalami kegagalan besar.
Birokrasi Berlebihan di Balik Tembok KTM
Salah satu poin paling mencengangkan yang diungkapkan Bajaj adalah tentang efisiensi tenaga kerja di KTM. Ia terkejut dengan tingginya jumlah karyawan administrasi dibandingkan dengan pekerja manual yang sesungguhnya memproduksi motor.
Fenomena ini, yang ia sebut sebagai “manajemen yang berlebihan dan birokrasi,” menjadi sasaran utama pemotongan biaya.
Bajaj menganggap bahwa pengurangan biaya overhead lebih dari 50% akan “sangat mudah dicapai” karena tingginya jumlah karyawan non-produksi yang menurutnya tidak efisien.
Rencana ini, meskipun keras, didasari oleh logika bisnis untuk menyelamatkan perusahaan dari kebangkrutan yang disebabkan oleh tata kelola yang buruk.
Masa Depan Balap dan Harapan Baru di Bawah Bajaj
Implikasi langsung dari pemotongan biaya ini terhadap dunia balap, termasuk partisipasi KTM di MotoGP, tentu menjadi kekhawatiran terbesar para penggemar.
Pemangkasan di departemen pemasaran yang mencakup balap dapat memengaruhi dana operasional tim dan pengembangan teknologi di lintasan.
Namun, dengan kepastian kendali penuh di tangan Bajaj, harapan baru pun muncul untuk tata kelola perusahaan yang lebih disiplin dan terfokus pada bisnis inti.
Bagi Bajaj, langkah-langkah drastis ini adalah upaya untuk mengembalikan KTM ke jalur profitabilitas dan efisiensi.
Setelah menuduh manajemen lama melakukan “keserakahan tata kelola,” kini ia bertekad untuk menerapkan kejujuran operasional, strategis, dan tata kelola di perusahaan yang telah menjadi mitra minoritasnya selama hampir dua dekade.
Statement:
Rajiv Bajaj, CEO Bajaj Auto
“Kami berharap hasilnya positif, yang berarti bahwa… kami akan mengambil alih kendali.”
“Akibatnya, dealer dan distributor menumpuk inventaris lebih dari satu tahun, yang sejujurnya tidak masuk akal.”
“Menariknya, dari 4.000 orang yang saat ini dipekerjakan di KTM, hanya sekitar 1.000 orang yang bekerja secara manual, 3.000 orang lainnya bekerja di bagian administrasi, hal ini membingungkan.”
“Kami melihat ada peluang untuk mengurangi biaya overhead lebih dari 50 persen, termasuk di bagian Riset dan Pengembangan, pemasaran, operasional, dan administrasi umum… Biarkan saya katakan bahwa alasan utama dari kehancuran perusahaan adalah keserakahan. Saya benar-benar menyaksikan perkembangan ini di KTM dalam dua belas bulan terakhir ini.”



