Gengs, Makassar baru aja diramein sama vibe keren dari Soundrenaline 2025 akhir pekan lalu! Dengan mengusung konsep “Sana Sini di Makassar”, festival musik ini enggak cuma fokus di satu tempat, tapi menyebar ke empat titik vital di kota.
Bayangin, 3.500 penonton diajak muter-muter dari gig intim di Riuh Records, hangout santai di The Backyard, sampai pesta akbar di Lapangan Parkir Phinisi Point Mall!
Konsep multilokasi ini sukses bikin pengunjung menjelajahi denyut nadi kreatif Makassar.
Rangkaian acara dibuka dengan nuansa eksperimental di Riuh Records, di mana sesi Screening & Storytelling mempertemukan dua kreator visual Sulawesi Selatan, Wahyu Al Mardhani dan Aco Tenri.
Mereka berbagi perspektif unik tentang bagaimana kultur lokal menjadi fondasi utama dalam karya dan bercerita. Deep banget, kan?
Kolaborasi Tak Terduga dan Talkshow Inspiratif
Momen yang paling ditunggu dan bikin crowd heboh terjadi di Riuh Records. Band keren Murphy Radio menutup set mereka dengan kejutan yang enggak terduga: kolaborasi perdana bersama Beijing Connection!
Kolaborasi eksperimental yang intens dan penuh eksplorasi ini bukan cuma jadi highlight hari itu, tapi juga penanda penting dalam dinamika musik independen Makassar. Bikin merinding!
Enggak cuma musik, diskusi di Cross Panel Talks: From Homeground to Headlines juga jadi pemantik penting.
Panelis lintas kreator seperti Firman Hatibu, Aco Tenri, Pandu Fuzztoni (MORFEM), dan Delpi (Dongker) membahas perjalanan kreatif yang bisa banget dimulai dari kamar tidur di kota asal, hingga akhirnya terkenal ke publik luas.
Bikin termotivasi!
Chill Vibe di The Backyard dan Pesta Akbar di Panggung Utama
Buat yang cari suasana lebih santuy, The Backyard jadi tempat yang pas banget. Setelah penampilan sore dari Synthies, Jason Ranti sukses menciptakan keakraban dengan mengajak penonton duduk santai di atas rumput.
Vibe chill-nya makin sempurna dengan sesi lelang koleksi kaset langka bersama Kasetteria x Licasette, menjadikan area ini pusat pertemuan para kolektor musik lawas.
Sementara itu, di The Lab, diskusi Idealisme dan Pertemanan Dalam Bermusik menyoroti pentingnya kedekatan personal dan pertemanan sebagai bahan bakar vital dalam ekosistem musik independen.
Panelis seperti Jimi Multhazam (MORFEM) dan Ayub Simanjuntak (Bilik Bersenyawa) berbagi kisah nyata tentang bagaimana circle pertemanan bisa melahirkan karya-karya terbaik.
FSTVLST dan MORFEM Jadi Crowd Favorite
Pesta akbar alias puncak acara berpindah ke Lapangan Parkir Phinisi Point Mall. Panggung utama menyajikan selebrasi genre lintas batas, mulai dari DANZAS, Gilas, Covenant, Treeshome, hingga kolaborasi istimewa Jason Ranti x Dongker.
Namun, FSTVLST dan MORFEM berhasil merebut gelar crowd favorite. Setlist bertenaga dan emosional mereka sukses membuat ribuan orang bernyanyi tanpa henti.
Aspek komunitas dan kolaborasi makin kuat dengan hadirnya Lokatune. Mereka membawa semangat konektivitas kreatif dari Manado, Samarinda, dan kota-kota lain di Timur Indonesia.
Ini membuktikan bahwa Makassar bukan cuma titik pusat acara, melainkan jembatan yang mempertemukan talenta emerging lintas kawasan. Soundrenaline 2025 Makassar benar-benar sukses merayakan denyut nadi kreatif dan kolaborasi Sana Sini.
3 Poin Penting Rangkuman
-
Konsep Multilokasi Berhasil: Soundrenaline 2025 Makassar sukses mengusung konsep “Sana Sini di Makassar,” melibatkan empat titik vital (termasuk Riuh Records dan Phinisi Point Mall) dan menarik 3.500 penonton untuk menjelajahi denyut nadi kreatif kota.
-
Kolaborasi Musik dan Visual: Event ini menonjolkan kolaborasi, puncaknya adalah kejutan set kolaborasi perdana antara Murphy Radio dan Beijing Connection, serta sesi storytelling yang mempertemukan kreator visual Sulsel.
-
Penguatan Komunitas Timur: Selain menghadirkan crowd favorite seperti FSTVLST dan MORFEM, festival ini memperkuat aspek komunitas dengan melibatkan Lokatune untuk menghubungkan talenta kreatif dari Manado, Samarinda, dan kawasan Timur Indonesia lainnya.



