Guys, siapa sangka ngasih motif di kain enggak harus pakai bahan kimia pabrik? Kisah inspiratif datang dari Aminah Tri Astuti, seorang ibu rumah tangga di Kranggan Permai, Bekasi.
Awalnya, dia cuma ngebantu anaknya ngerjain tugas sekolah tentang pewarnaan kain shibori. Tapi saat browsing di internet, dia malah nemuin teknik keren yang namanya “ecoprint”.
Ecoprint adalah teknik memberi motif pada kain menggunakan bahan-bahan alami seperti daun, bunga, dan pewarna alami.
Dengan penuh rasa penasaran, Aminah langsung coba di rumah. Percobaan pertamanya zonk—alatnya salah, hasilnya enggak sempurna.
Tapi kegagalan itu justru nyulut tekadnya. Saat pandemi datang dan waktu di rumah melimpah ruah, Aminah serius eksplor ecoprint lewat workshop online dan komunitas pengrajin.
Lahirlah Qaniacraft: Motif Alam yang Anti-Mainstream
Dari rasa penasaran dan ketekunan yang luar biasa itu, lahirlah brand Qaniacraft Ecoprint. Kini, Aminah nyulap kain putih polos jadi produk fashion yang punya karakter kuat: pashmina, outer, vest, hingga busana modern. Semua motifnya murni dari cetakan dedaunan alami.
Proses bikinnya pun enggak instan! Aminah menggunakan teknik manual seperti “pounding” (dipukul) atau “steam” (dikukus), yang bisa memakan waktu dua sampai tiga minggu untuk satu kain!
Menurut Aminah, kelebihan utama ecoprint Qaniacraft adalah keunikan setiap kain—”tidak ada yang sama persis.” Ini yang bikin produknya jadi anti-mainstream.
Proses panjang dan ketelitian ini menghasilkan produk yang enggak cuma bagus, tapi juga ngedepanin nilai sustainable dan ramah lingkungan.
Disokong BRI BRIncubator, Omzet Auto Naik Kelas
Perjalanan Qaniacraft enggak cuma berhenti di dapur rumah. Setelah pandemi mereda, Aminah nge-gas buat ngebawa brand-nya ke level berikutnya.
Dia ikut berbagai pameran, peragaan busana, sampai buka stand di event kreatif buat ngebuktiin kalau fashion ramah lingkungan itu bisa keren.
Titik baliknya terjadi pada pertengahan 2025, ketika Aminah bergabung dengan BRI melalui program inkubasi bisnis BRIncubator.
Selama tiga bulan intensif, dia digembleng pelatihan mulai dari strategi pemasaran hingga digitalisasi usaha. Wawasan Aminah langsung terbuka lebar!
Hasilnya nyata: omzet meningkat, visibilitas brand makin besar, dan Qaniacraft kini jadi inspirasi buat UMKM lain.
Lebih dari Bisnis: Seni, Alam, dan Kesadaran Lingkungan
Kisah Qaniacraft emang lebih dari sekadar bisnis. Ini adalah cerita tentang keberanian mencoba hal baru dan memberi nilai tinggi pada tradisi alam.
Di tengah gempuran fast fashion dan produksi massal, Qaniacraft jadi pengingat: ada alternatif mode yang unik, ramah lingkungan, dan punya cerita di balik setiap motifnya.
Dari inspirasi tugas sekolah anak, yang bermula dari ruang rumah sederhana, kini Qaniacraft udah melangkah ke panggung pameran besar.
Perjalanan ini membuktikan bahwa inspirasi receh bisa tumbuh menjadi karya besar dan bermakna asalkan dibarengi dengan ketekunan dan dukungan yang tepat.
Statement:
Aminah Tri Astuti, Pemilik Qaniacraft Ecoprint
“Setiap kain dari Qaniacraft itu unik—tidak ada yang sama persis. Itulah kelebihan ecoprint: motif alami, unik, dan ramah lingkungan.”
3 Poin Penting
-
Inovasi Ecoprint dari Rumah: Aminah Tri Astuti berhasil menciptakan brand Qaniacraft Ecoprint, yang memproduksi fashion unik dengan motif alami (daun dan bunga) melalui teknik manual seperti pounding dan steam, yang memakan waktu hingga tiga minggu per kain.
-
Dukungan Digitalisasi Bisnis: Setelah perjuangan eksperimental, Qaniacraft mendapat dukungan signifikan dari program inkubasi BRIncubator BRI, yang memberikan pelatihan pemasaran dan digitalisasi sehingga omzet dan visibilitas brand meningkat pesat.
-
Fashion Sustainable yang Unik: Qaniacraft membuktikan bahwa fashion ramah lingkungan bisa bersaing. Produknya dikenal karena motif alami yang unik dan tidak ada duanya, membawa nilai seni, kesadaran lingkungan, dan inspirasi bagi UMKM.

![Pengumuman Pemenang Program Undian Berhadiah Liburan Ke Korea dan Uang Tunai Total Ratusan Juta dari CEDEA di Jakarta, 1 April 2026. Dari kiri ke kanan; Adrian Surya (batik biru tengah), Viktor Khian (batik putih hitam tengah), Inong Fatimah (batik merah tengah), dan Dandiaz Revinka (paling kanan). [dok. genlink]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/cedea-300x169.png)
![alfamart "layar digi" [dok. layardigi]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/Kini-nonton-film-nggak-harus-selalu-ke-mall-besar.-Alfamart-menghadirkan-inovasi-baru-berupa-bio-2-e1774864758583-300x214.jpg)
