Guys, tau gak sih, drama banjir di Sumatera itu bukan cuma soal air, tapi juga soal misteri kayu gelondongan yang berenang ke mana-mana!
Kementerian Kehutanan (Kemenhut) akhirnya buka suara dan ngasih clue: kayu-kayu yang centang perenang itu ternyata bukan dari satu jenis doang!
Waduh, ini mah kayak gallery kayu yang lagi pindah tempat!
Kepala Biro Humas Kemenhut, Krisdianto, ngejelasin hasil sampling di Tapanuli Selatan nunjukin jenisnya macem-macem: ada Mempisang (kelompok rimba campuran), Tanjung dan Pasang (kelompok kayu indah 2), Nyatoh (kelompok kayu komersial 1), sampai… batang sawit!
Serius deh, kenapa kayu yang udah diklasifikasi se-spesial itu (kayu indah, komersial, dll.) malah hanyut rame-rame di lokasi bencana? Apakah ini promosi alam yang gak sengaja?
Jejak Chainsaw dan Gak Bisa Ngelacak Asal Muasal
Yang bikin masalah ini makin greget, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo udah ngasih statement bahwa ada jejak gergaji mesin (chainsaw) di beberapa kayu gelondongan itu!
Nah lho, ketahuan deh kalau ini gak murni kayu alamiah yang tumbang sendirinya!
Kapolri negasin bahwa timnya udah nemuin bekas potongan dan bakal mendalami temuan jejak chainsaw ini. Polisi udah kolaborasi sama Kemenhut dalam Satgas Gabungan buat nyusurin daerah aliran sungai (DAS), dari hulu sampai hilir.
Kira-kira nih ya, siapa sih yang tega-teganya ngebikin karya seni potongan kayu estetik di hulu sungai pas lagi musim hujan?
AIKO Cuma Alat Bantu, Gak Tahu Kayu Siapa yang Hilang
Ketika ditanya langsung dari mana asal kayu-kayu ini—apakah dari tanaman (ditanam manusia) atau alam—Kemenhut malah angkat tangan.
Waduh, padahal udah ada klasifikasi se-jelas itu, kok malah gak tahu asal-usulnya? Kemenhut emang pakai alat identifikasi kayu otomatis (AIKO), tapi Krisdianto ngaku kalau AIKO itu hanya alat bantu. Yang paling berperan tetep petugas lapangan yang paham jenis kayu.
Hmm, sepertinya petugas lapangannya kebanyakan sibuk di kantor nih, sampai gak sempet ngelacak aset ‘kayu indah’ yang lagi liburan di sungai.
Klasifikasi Premium yang Gak Nyambung ke Tanggung Jawab
Klasifikasi kayu komersial, rimba campuran, dan kayu indah itu tuh dibuat berdasarkan pengenaan iuran kehutanan (lho!). Artinya, kayu-kayu itu punya nilai dan udah diurus pajaknya.
Tapi kok bisa-bisanya ikut-ikutan hanyut dan nambah masalah bencana di pemukiman warga?
Ini sih nunjukin ironi: udah dikasih label premium dan diurus iurannya, tapi gak ada yang bertanggung jawab ngelacak kenapa mereka bisa berjamaah di sungai.
Semoga Satgas Gabungan Polri dan Kemenhut cepet nemuin bos dari kayu-kayu estetik ini!
Statement:
Krisdianto, Kepala Biro Humas Kemenhut
“Kalau pertanyaan asal kayunya dari tanaman (ditanam manusia) atau alam, kami tidak bisa jawab, karena harus cross check dengan yang ada di hulu,” kata Krisdianto.
3 Poin Penting Kayu Gelondongan Banjir Sumatra:
-
Beragam Jenis Kayu Premium: Kemenhut mengidentifikasi kayu gelondongan yang hanyut di banjir Sumatera (Tapsel) bukan berasal dari satu jenis, melainkan campuran, termasuk jenis Kayu Indah 2 (Tanjung, Pasang) dan Kayu Komersial 1 (Nyatoh), serta batang sawit.
-
Bukti Chainsaw dan Misteri Asal: Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo memastikan adanya jejak gergaji mesin (chainsaw) pada beberapa kayu. Namun, Kemenhut mengaku tidak bisa menjawab apakah kayu tersebut berasal dari tanaman atau alam karena harus cross check di hulu.
-
Klasifikasi Harga vs Tanggung Jawab: Klasifikasi kayu (komersial/indah) dibuat berdasarkan pengenaan iuran kehutanan, menegaskan nilai ekonomisnya. Namun, ketidakmampuan Kemenhut melacak asal kayu menguatkan dugaan lemahnya pengawasan di hulu sungai.



![badak jawa [dok. web]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/202106121059-main.cropped_1623470362-300x200.jpg)