Search

Edukasi Gagal Masuk! Kenapa Masyarakat Pegunungan Sanggabuana Ngotot Babati Pohon Demi Ladang?

Kamis, 11 Desember 2025

Gunung Sanggabuana (ist)

Guys, meski SCF (Sanggabuana Conservation Foundation) udah bolak-balik sosialisasi dan kepala desa ngasih edukasi, ternyata pembabatan hutan di Pegunungan Sanggabuana masih masif dilakukan oknum masyarakat!

Apa sih alasan di balik praktik buruk yang bisa memicu bencana banjir dan longsor ini?

Founder SCF, Bernad T. Wahyu Wiryanta, mengakui kalau situasi ini udah terjadi sejak dua tahun lalu. Alih fungsi lahan ini didominasi untuk ladang perkebunan.

Ironisnya, perkebunan tanaman keras kayak jengkol dan kopi tuh sebenarnya diperbolehkan, tapi syaratnya satu: tidak membabat tegakan hutan!

Celaka: Pohon Dibabat Habis dengan Cara Curang

Masalahnya, fakta di lapangan yang didapat SCF dan TNI AD justru menunjukkan banyak pohon-pohon besar yang dibabat habis! Oknum masyarakat bahkan punya cara curang buat melakukannya.

Praktik buruk inilah yang sangat berdampak buruk terhadap lingkungan, mengingat hutan ini melindungi empat kabupaten besar: Karawang, Purwakarta, Bogor, dan Cianjur.

Hilangnya pohon-pohon besar jelas bakal membuat pemukiman di sekitar Pegunungan Sanggabuana rentan terhadap bencana alam.

Edukasi Mentok di Lapangan

Bernard menyebut praktik buruk ini sebetulnya sudah banyak disosialisasikan. Bahkan, kepala desa di sana kerap mengadakan edukasi kepada masyarakat tentang praktik berkebun yang benar.

Tapi, sayangnya, sampai kini, perilaku itu masih tetap saja terjadi.

Data terakhir yang diambil dari citra satelit dan ground check membuktikan fakta bahwa hutan sudah banyak yang dibabat.

Ini menjadi PR besar buat pemerintah daerah dan aparat buat menindak tegas pelaku ilegal.

Ancaman Nyata Bencana ke Pemukiman

Mengingat ancaman banjir dan longsor bisa menimpa pemukiman di sekitar kecamatan Pangkalan, Tegalwau, dan Sukasari, kegagalan edukasi dan penegakan hukum terhadap deforestasi ini harus segera diatasi sebelum terlambat dan menjadi tragedi seperti di Sumatera.

Statement:

Bernad T. Wahyu Wiryanta, Founder Sanggabuana Conservation Foundation (SCF)

“Betul, itu sebenarnya sudah dua tahun yang lalu… Sebenarnya diperbolehkan berkebun, terutama berkebun tanaman keras di hutan asal tidak membabat tegakan hutan.”

3 Poin Penting:

  1. Kegagalan Edukasi: Praktik penebangan tegakan hutan untuk ladang perkebunan masih masif terjadi di Pegunungan Sanggabuana, meski kepala desa dan SCF telah mengadakan edukasi mengenai praktik berkebun yang benar.

  2. Modus Penebangan Curang: Oknum masyarakat menebang pohon-pohon besar secara langsung atau mencurangi tegakan hutan (mengupas kulit agar kering) sebagai alasan untuk alih fungsi lahan, padahal dilarang mencabut pohon hutan.

  3. Risiko Bencana Jabar: Hilangnya pohon berdampak sangat buruk terhadap lingkungan dan berpotensi memicu bencana banjir dan longsor di pemukiman empat kabupaten sekitar, seperti yang terbukti dari citra satelit dan ground check terakhir.

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

24 Jam

Sepekan